Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Percakapan yang Sia-sia


__ADS_3

Sudah dua hari aku dikurung di gudang bawah tanah rumah ini. Hidupku terputus dengan dunia luar. Aku tak bisa menonton acara televisi favoritku lagi, aku tak bisa lagi menyamar jadi seorang vlogger, aku tak bisa lagi terhubung dengan teman-temanku melalui berbagai media sosial, dan lebih celaka lagi. Aku tak bisa lagi terhubung dengan Senopati Adi Raka lelaki yang teramat sangat aku sayangi. Mengapa aku harus terpisah dengan Senopati, di saat lelaki itu mulai mengisi hari-hatiku. Sosok yang kucari dan kuimpi-impikan selama ini. Dia yang mampu membuatku bahagia di kala aku tersenyum. Satu-satunya yang bisa membuatku terhubung dengan Senopati hanyalah Bi Ratna, tapi kenapa ia tak lagi mengantar makanan ke gudang ini. Semua tugas mengantar makanan dialihkan pada Mang Korih.


Akuu hanya berteman dinding gudang beserta kepengapan.


Semua ini aku lakukan demi cintaku pada Senopati Adi Raka dan menolak perjodohanku dengan Tampan Menawan.


Tiba-tiba aku mendengar detak langkah dari atas, aku berharap yang datang Bi Ratna. Aku ingin mendengar kabar tentang Senopati, Bagaimana keadaannya?


Namun yang muncul di hadapanku ternyata Ayahku, ini kali pertama ayah datang semenjak mengurungku di gudang ini.


"Anak ayah, bersikaplah seperti seorang anak pada orang tua," kata ayahku sambil menyodorkan tangan kanannya.


Aku berdiri dari tempat dudukku mencium tangan itu dengan seksama, lalu duduk lagi.


"Apa kamu sudah bisa menerima Tampan Menawan sebagai suamimu dan masa depan kita, nanti," tanyanya serius padaku.


Aku hanya terdiam, jawabannya masih akan tetap sama sampai berbusapun mulut ayahku menanyakan hal yang sama padaku. Walau ayah telah berlaku kejam padaku, aku tetap mencintai ayahku sebagai orang tua. Namun sifat diktator perjodohan itu yang aku lawan.


"Ayah tahu kamu sedang dekat dengan seorang lelaki, iya bukan?" kata ayahku lagi.


Aku menatap mata ayahku dengan seribu pertanyaan, dari mana ia tahu aku sedang dekat dengan lelaki. Apakah Bi Ratna yang sudah memberitahu?


Kalau ayahku sudah terlanjur tahu lebih baik aku mengakui saja. Aku akan berterus terang tentang Senopati Adi Raka seorang kepala desa yang adil dan bijaksana, seorang anak pemilik tanah dan seorang pejabat negara.


"Kamu akan percuma menjalani cinta dengan siapapun jua, lebih baik kamu lupakan orang itu secepatnya," kata ayahku kemudian.


Aku tak tahu harus menjelaskan tentang Senopati dimulai dari mana? Aku sedang memikirkan kalimat terbaik tentang ini untuk meluluhkan hati ayahku. Hati sekeras batu yang diselimuti oleh kekuasaan uang orang tua lelaki menjijikan itu.


"Anakku sayang, apa jadinya kalau Pak Wibisono tidak menjodohkan anak nya denganmu, kita bisa mati pelan-pelan, sebab perusahaan  milik ayahmu akan pailit dan semua aset kita akan disita, termasuk rumah ini."


"Kita semua bisa mati berdiri, kata ayahku dengan nada tertahan.


"Dari mana ayah tahu aku menjalin hubungan dengan seorang lelaki," kataku setelah lama ayah terdiam.


"Dari manapun itu sumbernya, itu tak penting sayang, sebaiknya kamu lupakan saja semua itu, tak ada gunanya kamu berbertahan dengan keadaan seperti itu, jawab ayahku.

__ADS_1


"Apakah ayah tahu, bahwa ia lebih terpandang, seorang pemilik lahan yang maha luas, seorang anak pejabat negara, seorang kepala desa yang adil bijaksana," akhirnya aku berterus terang.


"Ha. Ha. Seorang kepala desa, seorang pemilik lahan yang luas, seorang anak pejabat, siapapun itu tak akan ada yang bisa menandingi kekayaan Pak Wibisono."


"Tapi orang itu juga kaya raya, Ayah."


"Memang kamu pikir ayah tidak tahu daftar orang terkaya di Indonesia, hah..." bentak ayahku.


"Kamu katakan dia kepala desa, kekayaan pejabat dan sebagai nya banyak yang berasal dari uang panas, lebih baik konglomerat itu, uangnya bukan berasal dari gaji bersumber dari Negara, uangnya murni dari keringat sendiri, mana keluarga Wibisono itu juga sangat dermawan," jawab ayahku lagi.


Melihat pernyataannya yang seperti itu, tentunya semua yang diutarakan sia-sia belaka. Tak ada gunanya berkata- kata lagi dengan ayahku. Aku sadar, dengan tali yang diikat seperti berjudul mati, sama halnya dengan diriku yang tetap akan bersikeras menolak keputusan sepihak itu. Aku tidak akan menuruti sedikit jua, sampai kapanpun titik.


Percakapan kami tiba-tiba terhenti dengan kehadiran Ibuku. Langkah ibu bergegas menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah rumah kami atau gudang hukuman bagi siapa saja yang tak menuruti keinginan ayah.Jangankan diriku, ibuku saja pernah dikurung ayah sewaktu aku menduduki sekolah dasar dulu, hanya gara-gara ibuku mengambil uang perusahaan tanpa sepengatahuan ayah, ibu harus mendekam di ruang ini selama dua hari.


Nafas ibuku sedikit terengah-engah sampai di dekatku.Ibu nampak memandangku penuh kekhawatiran, takut ayah menempelengku lagi bila keinginannya terus-terus kubantah.


"Kamu sudah makan sayang?"tanya ibuku penuh kelembutan.


"Sudah Bu," jawabku pelan.


Aku hanya menggeleng-geleng saja mendengar ucapan itu. Secepat itukah semua akan terjadi. Aku lalu berusaha mengalihkan pembicaraan itu, tak guna aku menanggapinya.


"Bi Ratna kemana Bu," tanyaku seolah-olah tidak mendengar apa-apa yang disampaikan ayahku.Walau hatiku rasanya semakin sesak mendengar pernyataan ayah tadi.


"Bi Ratna mudik ke kampung halaman, saudaranya ada yang meninggal," jawab ibuku.


"Meninggal kenapa Bu?"


"Entahlah. Ibu kuatir kena corona, nanti kepastiannya tahu setelah ia kembali. ia tidak boleh balik dulu sebelum masa 14 hari," jawab ibuku.


Terus terang jawaban ini sedikit membuatku sengau, kenapa pada saat aku membutuhkannya, justru ia pergi. Siapa lagi yang bisa membuat aku terhubung dengan Senopati Adi Raka, sementara HP dan laptop tidak diijinkan masuk ke ruang ini oleh ayah.


"Kamu dengar ayah tadi berkata apa?" kata ayahku tiba-tiba.


Aku hanya diam seribu bahasa, aku hanya sedang berpikir keras bagaimana caranya pergi dari rumah ini sebelum pertunangan itu tiba.

__ADS_1


"Jawab!" bentak ayahku.


Aku kembali terdiam, walau bentakan ayah yang memaksaku untuk mengiyakan hari pertunanganan itu, lebih baik diam dari pada menjawab dan takut salah.


"Kamu diam pertanda setuju," kata ayahku lagi.


"Ayah sebaiknya Feby disuruh ke kamar saja!"  saran ibuku.


"Tidak, dia bisa kabur karena penjagaan yang tidak terkontrol. Asal kamu tahu, anakmu ini sudah menjalin kasih dengan seseorang di luar sana," kata ayahku.


Mendengar ucapan ayah, ibuku memandangku lekat-lekat seakan mencari jawaban atas pernyataan ayahku,  lalu menggeleng seolah-olah tak percaya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2