Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Cerita Semua Kejanggalan Itu


__ADS_3

"Sakit kamu bukan sakit biasa, sakit kamu bisa dimulai dari goncangan psikologis yang mendera kamu Feby," jawab psikolog itu.


"Aroma kamar kamu yang datar, bahasa tubuh kamu yang kasar, dan sorot mata kamu yang ganas, menandakan kamu sedang memendam sebuah kebencian teramat sangat," lanjutnya lagi.


Dada ku berguncang tak karuan mendengar ucapan Bu Risma Handayani, ucapannya mengingatkan kembali akan kejadian yang ganjil itu.


"Kamu mau kan bercerita sama saya," bujuk psikolog itu.


Aku menggeleng pertanda tak setuju, membuat psikolog itu mencoba merengkuh kedua bahu ku.


"Kamu jangan malu bercerita, kamu harus kuat," setengah berbisik psikolog bernama Risma Handayani itu berkata-kata pada ku.


"Ibumu bercerita tentang seorang teman sekolah yang membuat kamu tiba-tiba marah dan takut ketika dia datang ke sini menjenguk," kata Bu Risma kemudian.


"Dia itu teman sekelas ku, baru kenal, tak mungkin..."


"Justru itu, dia orang yang baru kamu kenal kemungkinan memanfaatkan kebaikan kamu sebagai wanita cantik nan lugu,.." cercah bu Risma belum selesai aku berucap.


"Orang yang baru kamu kenal itu justru akan melampiaskan nafsu seksual nya karena mengira kamu lemah.


Kamu jangan menyangkal untuk itu," lanjutnya lagi.


"Bisa saja terjadi pelecehan seksual tingkat ringan, sedang, atau tingkat tinggi,"


Kata-kata Bu Risma itu membuatku mencoba menganalisa kejadian yang menimpa ku. Ada sebuah hal yang mengganjal yang menjadi pertanyaan ku akhirnya. Lebih baik aku harus menceritakan yang sebenarnya pada Bu Risma, siapa tahu dia bisa menjawabnya.  Daripada aku didesak terus-terusan dan terpojok, dengan seribu dugaan dan pertanyaannya, yang aku sendiri belum tahu jawabannya.


"Aku ingin berbagi cerita pada Ibu selaku seorang psikolog, tapi aku ragu," kataku memulai memberanikan berbicara pada Psikolog itu.


"Apa yang menjadi dasar kebimbanganmu,?


"Apakah mereka yang di luar sana tidak salah paham jika mendengar ini nantinya,"


"Ada ujar-ujar yang mengatakan, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, sifat manusia yang suka bercerita seenaknya dan melebih-lebihkan jangan pernah dihiraukan, biarkan mereka dengan kenyinyiran mereka sendiri, dan nanti mereka juga menyesal atas perbuatan mereka itu," ujar psikolog Bu Risma untuk menekan keraguanku.


"Mereka sering mengubah kata-kata yang disampaikan, cerita ubi yang disampaikan, bisa saja berubah jadi kolak di telinga yang lain," lanjutnya pelan.


Itulah yang aku takutkan, mereka bisa menganggap ku gadis yang hina, padahal aku masih suci, tapi apa boleh buat, lebih baik itu terjadi dari pada aku terus memendam lara sendirian, bisa sakit tahunan dan sakau jika ini terus berlangsung, dan ini supaya tak terulang lagi pada orang lain. dalam satu tanda petik, Si Tampan bersalah... aku masih berharap itu hanya sebuah khayalan Tampan saja.

__ADS_1


"Baiklah Bu, aku akan bercerita," aku memutuskan kemudian, membuat Bu Risma lebih mendekat ke arah ku. Kemudian memeluk ku dengan erat, seolah-olah ia menguatkanku.


"Kejadian itu bermula karena aku kasihan pada nya, ia bernama Tampan Menawan, tapi diolok-olok di depan kelas oleh seluruh teman-teman karena wajahnya yang penuh jerawat berbentuk virus corona, aku kasihan sekali Bu,"


Psikolog itu mengangguk-angguk sambil mencatat apa yang aku ceritakan.


"Mungkin dia tak sanggup terus dihina, aku memberikan dukungan padanya, aku memberi senyuman padanya, dia tampak kuat dan tegar, namun sebuah hinaan yang teramat sangat kembali mengalihkan perhatiannya. Hingga ia terjerembab dan pingsan, dan digotong ke ruang kesehatan di sekolah kami,"


Hanya aku yang bersedia menemaninya hingga siuman, namun saat siuman dia mencoba melecehkan ku,"


"Apa yang dilakukannya?" tanya psikolog itu penasaran,


Sementara aku mulai sesenggukan, dan air mata ini tumpah menahan perih.


"Masih dalam posisi tidur, ia menyeretku, menggenggam erat tanganku, dia juga memperhatikan dadaku seolah-olah mata nya ingin melompat menyaksikan buah dada ku. Aku berusaha untuk berontak, namun kekuatan ku tak sebanding dengan raga nya yang besar. Dia membuka resleting celananya, lalu mengarahkan tangan ku yang ada dalam genggaman kasar tangannya untuk meremas bagian sensitif itu. Untunglah...."


Aku tak kuasa lagi melanjutkan cerita itu, hingga psikolog itu mengambil tisu dan menghapus setiap rembesan aiir mataku.


"Saya sudah menduga, kamu mengalami pelecehan," kata Bu Risma.


Aku makin sesenggukan.


Aku berharap dugaan itu benar.


"Apa maksud Ibu?" tanya ku tak sabaran.


"Coba lanjutkan dulu ceritanya," pinta Bu Risma.


"Untungnya tukang masak sekolah masuk, dia sempat menjatuhkan piring ketika melihat tikus, dan Tampan kembali pingsan,"


"Jadi tukang masak itu melihat tikus, bukan kaget melihat aksi Tampan yang tak senonoh itu?"


AKu mengangguk.


Jangan percaya, tukang masak itu kaget bukan melihat tikus, tapi melihat aksi Tampan, kemungkinan dia juga kaget melihat area sensitif Tampan," ujar Bu Risma membuat ku terkejut.


Aku takut tukang masak bercerita yang bukan-bukan tentang aku di sekolah terhadap yang lainnya, ini tentu akan menyebar dengan cepat.

__ADS_1


"Ibu, apakah yang dilakukan Tampan pada ku, kata Ibu tadi hanya mimpi,"


Bu Risma mengangguk.


Aku juga mempunyai pemikiran yang sama dengan Ibu.


"Untuk kepastian itu, kamu harus dipertemukan dengan Tampan, ya. Agar kamu dan Tampan tak terjadi kesalah pahaman.


                                                                             ***


Keesokan harinya...


Setelah aku berkonsultasi dengan psikolog Bu Risma Handayani, entah mengapa tubuh ku mendadak terasa ringan, beban seberat gunung yang mendera ku perlahan hengkang dengan sendirinya. Hari ini aku telah sembuh total hanya sehari setelah dialog ku yang panjang lebar dengan seorang psikolog.


Raga ku yang perih dan mendidih di hari kemarin perlahan normal lagi, tak ada dendam dan luka sedikit pun. Bu Risma telah membuat aku setegar karang.


Walau sudah sembuh aku belum memutuskan untuk sekolah, ada sebuah agenda yang akan di buat oleh Bu Risma, pertemuan keluarga kami dengan keluarga Tampan, untung menyelesaikan masalah yang menurut ku tak perlu dibesar-besarkan.


Toh semua itu hanya mimpi seorang Tampan. Dia barangkali mengigau dan tak sadar melakukan semua itu, demikian pola pikir ku, dan Bu Risma juga mendukung akan hal itu.


Hanya ada satu perkara lagi yang sedikit mengganjal di hatiku, tentang Bi Ranum yang menurut Psikolog itu berbohong jika tak menyaksikan semua kejadian itu. Aku juga takut cerita tak baik juga telah menyebar di lingkungan sekolah melalui mulut Bi Ranum. Walau ia telah diberi uang tujuh juta oleh ibu nya Tampan untuk kesembuhan suami nya, tapi mulut seseorang, apa lagi seorang perempuan mana tahan untuk mengungkapkan sebuah rahasia. Namun, aku mencoba menepis semua pra duga tak baik itu.


Hari ini Bu Risma bersama ke dua orang tua ku mendatangi sekolah, demi mempertemukan keluarga aku dengan keluarga Tampan.


Aku masih berandai-andai, apa reaksi ibu nya Tampan nanti jika dipanggil pihak sekolah. Bukankah dia sangat egois dan ganas di balik kedermawanan nya itu. Dia dengan mudah berbagi rezeki pada siapa pun yang ia jumpai, tapi mulutnya itu juga seperti petasan yang siap menembaki siapa saja yang ia mau.


Aku belum sempat menceritakan siapa orang tua Tampan pada Bu Risma, barangkali di sekolah semua tentang itu akan ia dengar. Sehingga nanti akan dicarikan sebuah tempat yang tepat untuk bertemu membahas hal yang sebenarnya sangat sensitif ini.


 


 


 


Bersambung....


 

__ADS_1


 


__ADS_2