
Aku sudah terbangun setelah memejamkan mata hanya beberapa menit saja. Di sampingku Senopati Adi Raka ternyata tidur dengan pulasnya dengan posisi masih memeluk tubuhku. Aku urai satu persatu dekapan hangatnya dari tubuhku dengan pelan agar dia tak terbangun. Aku yang tak tega melihatnya tanpa baju di pagi yang sangat dingin ini memutuskan menutup badannya dengan bajunya yang tadi sempat diberikan padaku.
Namun, Senopati Adi Raka menggeliat. Matanya terbuka dan meraih jari jemariku.
"Sayang. Kamu tetap pakai bajunya. Pagi ini sangat dingin," ujarnya setelah bangkit dari posisi tidurnya. Lantas dia memakaikan kemeja itu di tubuhku walau aku sudah memakai baju.
"Tidak apa-apa Aa Seno. Ini sudah tak sedingin sebelumnya. Pakai saja bajunya, dari pada telanjang badannya," kataku padanya.
"Tidak Feby. Aa tidak apa-apa asal kamu tidak kedinginan," katanya tak mau kalah.
"Sebentar lagi matahari akan terbit. Aku ingin ke luar untuk melihat keindahan Gunung Kelud dari padepokan ini," kataku pada Senopati Adi Raka.
"Baiklah. Aa akan menemani. Ayo kita mandi dulu," kata Senopati Adi Raka.
Lantas dia bergegas mengambil handuk di dalam cover, memberikannya padaku.
"Aa Senopati mandi saja duluan," kataku seraya menyerahkan handuk itu kembali padanya.
"Kita mandi saja berdua," pintanya dengan serius padaku.
"Tapi kita belum..." belum sempat aku selesaikan ucapan itu Senopati Adi Raka sudah menggotongku dan membawaku ke kamar mandi.
"Kita sudah tidak usah sungkan lagi sayang, karena sejatinya kita sangat saling mencintai dan akan resmi menjadi suami-istri," katanya dengan cepat sambil membawaku dalam tangannya yang kekar ke kamar mandi.
__ADS_1
Aku tak bisa berkutik lagi dengan kelakuan Senopati Adi Raka, semakin dia menyentuhku aku semakin tak kuas menolaknya. AKu semakin terbius oleh cintanya.
Untunglah di kamar mandi itu ada kran air panasnya. Senopati Adi Raka menekan kran air yang mengeluarkan asapnya. Kadi aku tak begitu kedinginan saat mandi di pagi buta seperti ini.
"Ayo buka bajunya," perintah Senopati Adi Raka padaku setelah air mengalir ke bak cukup banyak.
"Aku mandi pakai handuk ya Aa Seno," kataku padanya.
Sebenarnya aku agak sungkan mandi dengan cara seperti ini tapi karena kondisi yang seperti saat ini dalam pelarian membuat semuanya harus terjadi. Termasuk mandi berduaan dengan Senopati Adi Raka.
Aku segera menutup mataku ketika tiba-tiba Senopati menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Aku segera membalikan badan agar tak melihat posisinya dalam keadaan seperti itu.
Senopati Adi Raka hanya terpingkal-pingkal melihat aku menutup kedua belah mataku dengan kedua telapak tangan ini. Terus terang saja ini kejaidan pertama dalam sejarah hidupku, menyaksikan lelaki dewasa tanpa busana di depan mataku. Tapi karena ia orang yang aku cintai maka aku hanya bisa pasrah ini terjadi padaku.
"Biar saja saya sendirian Aa Seno," aku menepis tangannya dari bajuku.
"Benar ya!" aku mengangguk.
Perlahan-lahan bajuku kulepaskan ke lantai. Namun secepat kilat aku melilitkan handuk ke tubuhku agar area sensitif tubuh ini tak terlihat olehnya. Aku pun mandi dengan mata terpejam, dan Senopati Adi Raka hanya tertawa-tawa puas melihat aku dengan mandi dalam keadaan seperti itu.
Usai mandi dan berpakain rapi aku digandeng oleh Senopati Adi Raka ke luar dari kamar padepokan milik Eyang Jiwo. Kami menuju halaman padepokan mencari arah Gunung Kelud. Aku sudah tak sabaran ingin menyaksikan indahnya matahari terbit di tanah Kediri ini. Gunung Kelud masih belum terlihat jelas sementara di bagian timur atas langit nampak memerah pertanda matahari akan segera terbit. Wilayah Kediri merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki banyak potensi keindahan alam. Aku yang mecintai susana pedesaan tentu sangat menyukai tempat-tempat seperti ini. Senopati Adi Raka yang menjadi tambatan hatiku tentu saja mempunyai selera yang sama denganku. Salah satu yang aku incar dari dulu yakni Gunung Kelud, gunung api yang sempat meletus pada september tahun 2007 silam ini, begitu menyimpan keindahan alam yang begitu menarik hati.
"Kalau kamu suka dengan indahnya Gunung Kelud, Aa Seno akan dengan senang hati akan mengajak ke empat puncak di gunung itu," kata Senopati Adi Raka saat aku mulai terkagum-kagum menyaksikan pancaran merah sinar matahari di Gunung Kelud.
__ADS_1
"Empat puncak yang indah. Puncak kelud, puncak sumbing, puncak gajah Mungkur, dan puncak Gedang sudah lama aku ingin ke sana," kataku menanggapi ucapan Senopati Adi Raka. "Tapi menurut banyak orang jalan ke sana sangat berliku dan tajam."
"Tidak usah khawatir Feby! Jalan menuju Gunung Kelud cukup menanjak dan berkelok-kelok akan kita tahklukan berdua. Di sana kita akan menikmati sejuknya udara serta pemandangan alam yang elok, panorama hijau, lembah perbukitan dan pengunungan hijau yang menjulang tinggi."
"Maka tak sia-sialah Eyang Jiwo membawa kita ke sini. Tempat yang cocok untuk kita berdua," jawabku menimpali ucapan Senopati Adi Raka.
Aku rebahkan kepalaku di bahunya menunggu pancaran sinar matahari terbit di Gunung Kelud. Entah mengapa perasaan ini begitu indahnya dan segarnya hari ini. Seindah impianku bersama lelaki idamanku Senopati Adi Raka.
***
Aku dilepas oleh kedua orang tuaku mencari keberadaan Feby Romansa yang beum juga ditemukan oleh pihak kepolisian hingga pagi ini. Entahlah dari semalaman hingga saat ini perasaanku gelisah tiada tara. Perasaan tak enak seolah-olah sesuatu yang buruk sudah terjadi dengan Feby Romansa.
Ibuku melepaskanku dnegan pelukan sementara ayahku tak kuasa menahan air mata. Semalam mereka berdua sudah memberi aku ijin pagi ini mencari tunanganku itu. Dan aku meyakinkan ayahku bahwa aku bisa pergi sendirian dengan tuntunan buku ajaib pemberian ibu. karena menurut ibuku, selama dengan buku itu tak bolelh ada yang mendampingiku. Aku harus pergi seorang diri agar tidak melanggar pantangan tersebut.
"Hati-hati nak!' seru ayahku.
Akupun berlalu dengan niatan menyelamatkan Feby Romansa, tentu buku itu akan menuntunku menuju lokasi keberadaanya.
Mengendarai mobil ini aku dengan buku sakti lentera jiwa tersebut seolah-olah ragaku berubah menjadi dua.Ada satu raga asing yang hadir dalam tubuhku yang berasaldari kekuatan buku tersebut. Raga itulah yang menguasai keadaan, raga yang menempel padaku dan menjadi satu dengan tubuhku itu seakan-akan tahu keadaan Feby Romansa.
Mobil terus melaju dengan begitu kencangnya, hanya ketika aku merasa butuh mobil itu berhenti dan kembali melaju dengan begitu cepatnya. Tak terasa mobil yang aku kendarai telah menuju ruas tol Jakarta - Cikampek.
__ADS_1