
Aku akhirnya diseret ayah ke gudang bawah tanah rumah ini, ibuku hanya bisa berteriak-teriak kecil melihat perlakuan ayahku. Aku diseret ke gudang karena tetap bersikukuh menolak perjodohan yang mereka inginkan. Aku hanya meringis menahan perih mendapat perlakuan seperti itu. Tapi aku tetap kuat. Cintaku bukankah hanya untuk orang yang aku pilih semata, Senopati Adi Raka bukan dengan Tampan Menawan.
"Sekejam inikah ayah padaku," aku menatap sinis pada ayahku.
"Plak," Sebuah tamparan kembali mendarat di pipiku, kali ini lebih keras dari yang tadi.
"Kamu menerima atau tidak, pengaruhnya tidak ada sama sekali, kamu tetap akan dinikah nanti dengan Tampan Menawan," kata ayahku garang.
Biarlah aku mati terkurung di gudang ini daripada hendak menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Hatiku tetap sekokoh karang di lautan untuk mempertahankan kesucian cintaku dengan Senopati.
Akhirnya aku ditinggal sendirian di gudang ini oleh ayahku, terasa pengap dan penerangan yang redup, namun apa boleh buat. aku rebahkan diri di lantai lalu aku menangis sejadi-jadinya hingga lantai nyaris basah.
"Non!" tak lama kemudian Bi Ratna datang. Di tangan kanannya ada selimut dan di tangan kirinya ada nasi beserta lauk pauk dan minuman.
"Kenapa sampai begini sih non," bisiknya hampir menangis.
"Tidak apa Bi Ratna. Aku tak patuh pada perintah ayah, aku dijodohkan dengan Tampan Menawan demi uang triliunan untuk menyelamatkan perusahaan keluarga," jawabku lirih.
"Non yang sabar, ya, ini cobaan. Sekarang makanlah dahulu Non, ini ada selimut."
" Taruhlah di sana. Aku sedang tidak nafsu makan. Oh ya Bi, sampaikan rindu dendamku pada Senopati Adi Raka, melalui email, kabarkan juga keadaan ini padanya."
"Baik Non. Barusan Senopati menelpon Non, di Hp tapi yang ngangkat Nyonya Non,"
"Terus apa yang terjadi?'
"Nyonya bilang, Non lagi tidur."
"Oh! Aku makin merindukannya," bisikku pelan.
"Non. Maaf! aku tak bisa di sini lama-lama, disuruh Tuan hanya tiga menit tadi," kata Bi Ratna.
"Sebelum Bi Ratna pergi, aku ingin mengutarakan rencana ini pada Bibi."
"Rencana apa Non?"
"Kalau ada kesempatan untuk menduplikat kunci gudang ini, lakukanlah Bi! Aku ingin melarikan diri."
Bi Ratna hanya diam saja. Aku tahu ini sangat sulit melakukannya, tapi siapa tahu dalam situasi rumah sedang lengah Bi Ratna diam-diam ke luar rumah menemui tukang kunci dan menggandakan kunci gudang ini.
"Saya akan coba ya Non, apapun itu resikonya," jawab Bi Ratna setelah lama terdiam.
"Terimakasih, Bi."
"Bi Ratna!" sebuah panggilan dari lantai satu rumah ini mengagetkan perempuan itu, itu suara ayahku yang sedikit membentak.
Bi Ratna segera naik tangga dan kembali mengunci gudang.
Sebenarnya gudang ini tidak terlalu menakutkan, memang dijadikan sebagai penjara bagi siapa saja yang melanggar peraturan rumah. Mungkin saudara-saudara saya yang laki-laki telah sering mengecap hukuman ini, karena kebandelan mereka. Misalnya bolos sekolah, tawuran dan sebagainya, maka nasib mereka akan berakhir di sini, sampai mereka mau mengubah perilaku sesuai keinginan ayah. Gudang ini cukup luas, dilengkapi oleh tempat tidur yang empuk, tapi penerangan yang sedikit temaram dan samar, ada kamar mandi, dan kursi.
__ADS_1
Aku pungut selimut yang diantar Bi Ratna tadi, dan dengan perlahan aku bangkit dari posisi tidurku di lantai menuju kasur gudang.
***
"Jadi Feby waktu itu tak ada di rumah, Bu!" kataku sekali lagi. Aku khawatir semua hasilnya akan nihil, dan orang yang aku cintai itu menolak keinginan tersebut.
"Feby memang tidak ada di rumah saat pembicaraan awal perjodohan kamu dengannya dimulai, tapi bukan berarti semuanya tidak berjalan lancar. Semuanya berjalan seperti harapan kita. Sebab keputusan ada di tangan ayahnya, Feby nanti ikut saja," jawab Ibuku.
"Kemanakah Feby, Bu?" tanyaku penasaran.
"Feby sedang ada acara dengan temannya, itu menurut orang tuanya."
"Jangan-jangan bersama lelaki itu," kataku lirih.
"Laki-laki yang mana. Feby itu menurut ibu bapaknya tak punya pacar, lagian kalaupun punya pacar tidak akan menjadi penghalang bagi kita," jawab ibuku datar.
"Bagaimana mungkin tidak akan menghalangi, Bu! Dia bisa saja melarikan diri dan pergi jauh dari rumah hanya untuk lelaki itu nantinya," ujarku khawatir.
Lantas aku memperlihatkan video youtube kebersamaan yang mesra antara Feby dengan seorang lelaki, ibuku memperhatikan dengan seksama. "Untunglah pembicaraan perjodohan kamu dengannya telah tuntas."
"Tapi saya tetap khawatir Bu,"
"Tidak usah kamu pikirkan lelaki itu. Tidak seorang lelakipun yang bakal bisa menyentuh Feby, karena hubungan kamu dengan Feby telah diikat oleh sebuah perjanjian hitam di atas putih. Jika kamu gagal menikah dengan Feby karena anak itu melarikan diri dan sebagainya, ini tentu akan sangan beresiko. Perusahaan orang tua mereka yang hampir bangkrut itu aset-asetnya akan berpindah kepada kita ini salah satu bunyi perjanjian yang tekah ditanda tangani di hadapan notaris, itu bunyi perjanjian itu. Kecuali Feby mati, semuanya baru bisa batal." kata ibuku panjang lebar.
"Tapi Bu, mimpi itu benar-benar membuat saya merinding, lelaki itulah yang telah menculik Feby dalam mimpiku."
Aku sedikit mengembangkan senyuman mendengar pernyataan ibuku barusan. Entah mengapa aku begitu ingin hari pernikahanku dengan Feby secepatnya terjadi.
"Tapi ingat, kamu harus iklas dan menghadapi sikap Feby nantinya, itu kunci agar dia bisa mencintaimu dengan iklas nanti, dan kutukan di wajahmu akan sirna."
"Petuah ibu akan saya laksanakan," tanggapku singkat.
"Sekarang sudah larut malam, kamu tidurlah."
"Aku belum bisa tidur Bu, ayah juga belum pulang bukan. Biarlah aku temani ibu di ruang ini sampai ayah pulang."
"Mungkin ayahmu akan telat pulang, Jet yang membawa ayahmu untuk memantau sebuah proyek besar di Meulaboh mengalami masalah teknis, tadi sedang diperbaiki."
"Kenapa tidak ganti helikopter saja Bu, biar cepat, perusahaan kita kan punya lima."
"Barangkali tadi diupayakan seperti itu, tapi pilotnya ada dua orang yang kena Covid 19, jadi terkendala di situ juga. Ohya. kalau kamu sudah menikah nanti dengan Feby, kamu akan memimpin sebuah perusahaan keluarga ini, nanti kamu akan diajarkan oleh seorang penasihat perusahaan, kmau harus siap, ya."
"Apa bisa Bu?"
"Kamu berani menikah seseorang yang kamu cintai, harus berani juga mencari nafkah untuk keluarga kecilmu nanti, ok!"
Belum sempat aku menanggapi pernyatan Ibu, Tiba-tiba Bi Kemala seorang asisten rumah tangga memberitahukan ada panggilan tekepon dari ayah. Ibu langsung saja mengangkat telepon dan terhubung dengan ayah di seberang sana.
__ADS_1
"Apa kata ayah, Bu?"
"Ayah terpaksa menginap di Meulaboh. perbaikan helikopter belum selesai. Jadi belum bisa pulang."
__ADS_1
Bersambung....