
Siang hari suasana di padepokan kuno milik Eyang Jiwo semakin menyenangkan. Aku mulai merasakan keindahan alam yang tak pernah menjemukan. Setiap mataku memandang ke sekeliling padepokan tua nan kuno ini aku seolah-olah menyatu dengan kehidupan alam. Suasana kehidupan kuno dan alami masih terasa di tempat ini. Aku sempat menelusuri sekitar sini hanya berjalan kaki bersama Senopati Adi Raka yang dipandu oleh seorang anak buah Eyang Jiwo. Kehidupan yang masih sangat alami, dimana para pemuda turun ke sawah hanya menggunakan alat-alat tradisional. Atau ada para gembala yang yang menunggangi punggung kerbau dengan seruling yang selalu ditiup. Suaranya begitu mengelu-elu dan penuh ketenangan. Para peternak yang mencari rumput untuk makanan ternaknya. Atau para ibu-ibu yang mencari ranting pohon sebagai bahan bakar adalah suasana yang sangat asri untuk dilihat.
"Kamu nampak sangat menikmati alam di sini, Feby," ujar ibu Senopati Adi Raka, saat kami berkumpul untuk jamuan makan siang di sebuah aula padepokan.
"Dari dulu aku selalu menyenangi suasana yang seperti ini Bu."
"Kamu benar-benar satu selera dengan Senopati Adi Raka," Ibu Senopati Adi Raka menanggapi perkataanku.
"Itu pertanda perjodohan di antara kalian tak bisa dielakan lagi," timpal ayah Senopati Adi Raka.
Aku hanya mengkhawatirkan tentang akibat yang mungkin ditimbulkan oleh pernikahan ini kelak. Cepat atau lambat pasti keluarga Wibisono ayah dari Tampan Menawan akan membalas dengan segala cara. Mereka konglomerat yang bisa melakukan apa saja.
"Tentu Ibu. Tapi saya harus menjalani persembahan empat belas rupa yang akan dilakukan oleh Eyang Jiwo. Kalau semuanya terwujud sudah pasti pernikahan itu akan dilaksanakan secepatnya," ujarku.
Kedua orang tua Senopati Adi Raka mengangguk saja mendengar perkataanku. Mereka mungkin menyadari betapa besarnya sebuah resiko yang harus ditanggung jika persembahan empat belas rupa gagal tapi pernikahan telah terjadi. Orang tuaku dan orang tua Tampan Menawan akan menyerang habis-habisan Senopati Adi Raka yang juga akan berimbas pada kedua orang tuanya. Hukum dan kepolisian akan menjalankan perannya di sini. Keluarga Senopati Adi Raka akan masuk penjara dan Eyang Jiwo beserta para anak buahnya yang terlibat akan kena getahnya juga.
"Saat ini kita sedang menunggu Eyang Jiwo untuk makan siang bersama sekaligus membicarakan persembahan empat belas rupa. Dia juga akan memperkenalkan gadis desa yang agak menyerupai nona Feby," kata Rendy yang sedari tadi menyimak perbincangan aku dengan kedua orang tua Senopati Adi Raka.
"Jadi orang itu sudah ada," kata Senopati Adi Raka.
"Sudah ada. Eyang Jiwo telah menemukan gadis desa yang tingginya dan wajahnya serta bahas tubuh yang hampir menyerupai Nona Feby," jawab Rendy.
"Jadi tidak perlu ada persembahan empat belas rupa lagi kalau memang sudah mirip," ujar ibu Senopati Adi Raka.
Aku juga berpikir seperti itu. Kalau sudah ada gadis desa yang menyerupai diriku untuk apa persembahan empat belas rupa dilaksanakan. Namun aku ingin memastikan jawaban dari Rendy.
"Menyerupai bukan berarti sama. Persembahan empat belas rupa tetap akan dilaksanakan guna menyempurnakan kesamaan dan menyalin rekaman di otak Nona Feby agar tidak canggung menghadapi kehidupan barunya sebagai pengganti kehidupan orang," jawab Rendy.
Pahamlah aku sekarang dengan jawaban itu. Jadi sosok yang akan menggantikanku nanti semuanya sama dengan diriku. Dia juga akan menyalin kehidupanku di hari-hari yang sudah terlewati agar mampu beradaptasi.
__ADS_1
Tak lama kemudian Eyang Jiwo pun muncul dari arah selatan padepokan miliknya. Ada beberapa orang yang nampak mendampinginya. Dua orang gadis semampai berambut sepinggang dan seorang lelaki paruh baya serta dua orang lelaki muda di belakangnya.
Kami menyalami Eyang Jiwo dengan penuh kekhidmatan, ia menyapa kedua orang tua Senopati Adi Raka sebelum duduk di tempat yang telah disediakan. Aku memperhatikan gadis yang baru datang bersama Eyang Jiwo. Putih dan tinggi, dia tampil cantik dengan rambut yang tergerai. Apakah gadis itu yang dimaksud oleh Rendy sebagai orang yang menyerupai diriku. Tapi aku menilai dia tidak terlalu mirip dengan aku.
"Nanti malam akan diadakan persembahan empat belas rupa, semoga semuanya sudah siap," Eyang Jiwo memulai pembicaraannya setelah duduk beberapa saat.
"Maaf Eyang! Siapa sajakah yang terlibat dalam persembahan empat belas rupa tersebut," tanya Ayah Senopati Adi Raka.
"Semua kita yang ada di sini terlibat dalam persembahan empat belas rupa," jawab Eyang Jiwo. "Hanya saja pelaku utama dari persembahan empat belas rupa adalah dua orang gadis. Yang pertama tentu Feby Romansa dan yang kedua Ayu Laksmi gadis desa yang telah terpilih sebagai gadis yang dipersembahkan."
"Perkenalkan saya Ayu Laksmi anak dari Pak Suryo," ujar seorang gadis yang duduk di samping kiri Eyang Jiwo.
"Saya ayahnya Ayu Laksmi, Pak Suryo," kata lelaki paruh baya yang duduk di samping gadis bernama Ayu Laksmi tersebut.
"Dan dua lelaki muda yang di samping saya adalah Jimah dan Romi mereka berdua yang akan menjadi daya tarik bagi para wanita empat rupa yang akan memberi sentuhan pada Ayu Laksmi sehingga tak ada perbedaannya dengan Feby Romansa," jelas Eyang Jiwo.
"Perkenalkan saya Romi," ujar pemuda yang dimaksud Eyang Jiwo memperkenal diri.
"Aku Feby Romansa," ujarku memperkenalkan diri.
"Aku Senoapati Adi Raka,tunangan Feby," ujar Senoapti Adi Raka.
Tak lupa kedua orang tuaku juga memperkenalkan dirinya masing-masing.
"Apa peran kami selaku orang tua Senopati Adi Raka di acara persembahan itu Eyang," ibu Senopati mencoba mengajukan pertanyaan.
"Memberi restu pada aura empat belas rupa yang wajahnya sama dengan Feby Romansa," jawab Eyang Jiwo. "Peran yang sama juga berlaku bagi ayah Ayu Laksmi. Sedang Dio dan Rendy berperan sebagai pembawa media untuk munculnya aura empat belas rupa tersebut."
"Peranku apa Eyang," tanya Senopati Adi Raka.
__ADS_1
"Sebagai penguat untuk keberlangsungan persembahan karena kamu begitu mencintai Feby Romansa," jawab Eyang Jiwo.
Satu yang mengganjal dan menjadi pertanyaanku adalah kemungkinan aku bisa kembali ke tengah-tengah keluarga orang tuaku bila kau rindu dengan mereka nantinya. Apakah yang harus aku lakukan. Bisakah aku menjadi diriku kembali di tengah-tengah keluarga itu walau sehari. Maukah Ayu Laksmi menemuiku jika itu aku lakukan. Atau dia sudah larut dalam kehidupan yang berbeda dari kehidupan desa sehingga terlupa, apalagi suatu saat nanti dia bersuamikan Tampan Menawan anak konglomerat itu. Aku ingin menayakan halk yang seprti ini pada Eyang Jiwo tapi aku takut menyinggung banyak orang termasuk Senopati Adi Raka tentu dia akan mempertanyakan keiklasan aku menjalankan persembahan tersebut.
__ADS_1