
Malam ini cuaca tidak begitu bersahabat. Di luar angin bergerak-gerak liar tanpa arah. Aku membuka jendela kamar untuk pergumulan alam malam ini di luar. Angin kencang membanting jendela kamarku sebelum aku kaitkan dengan kunci penyangga. Aku mendongak ke langit yang nampak hitam legam, dan kelam, di atas seolah-olah nampak bisu. Namun kebisuan itu semu, karena hujan akan turun tumpah ruah ke tanah ini, tak peduli sebesar apapun badai yang berputar menghadang langkahnya.
Genderang perang alam telah ditabuh di mala mini. Benar saja hujan turun dengan semena-mena. Menyirami apa saja tanpa ampun. Menghalau angin hingga lari terbirit-birit, dan seisi Bumi yang disirami basah kuyup.
Dalam keadaan alam yang merana ini senada dengan hatiku yang juga merana, hujan itu membuat rinduku semakin membumbung tinggi ke langit.
“Feby Romansa,” aku panggil nama itu lirih. Aku berharap angin yang tersisa menyampaikan rindu yang semakin dalam ini padanya.
“Dimana engkau berada,”
Andai saja wajahku tidak seburuk ini, tentu Feby akan dengan sangat mudah aku takhklukan. “Benarkah wajah ini dikutuk karena ulah ayahku?
Pertanyaan ini membuatku semakin terpaku di jendela kamar, kubiarkan saja sisa-sisa angin menggurita menggeranyangi jendela ini, atau tempias hujan yang menyerbu lewan menorobos blangkon kamarku. Atau kilatan cahaya yang tiba-tiba saja datang dari langit menerangi wajahku, yang dilanda putus asa
menahan rindu.
Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu, kemudian berlari ke luar kamar, menuruni anak tangga untuk menemui ibuku di lantai satu rumah ini. Ibuku sedang duduk di ruang depan menanti ayahku pulang dari luar kota.
“Ayah belum pulang, Bu”
“Sebentar lagi ayahmu datang, ada apa?”
“Ibu bilang mukaku dikutuk atas perbuatan ayah, sehingga jelek seperti ini,”
“Jangan salahkan ayahmu, ya” bujuk ibuku.
“Tentu tidak, Bu. Aku sudah menerima kutukan ini, siapapun bisa terkena di keluarga kita, bukankah ibu sudah bilang demikian,”
“Ayah dan ibumu sangat menyesali apa yang menimpa kamu itu, tapi sabarlah” kata ibuku sambil mengusap punggungku.
“Aku hanya ingin tahu, kutukan ini bisa hilang ya?”
Ibuku makin memperlihatkan raut keprihatinannya, air matanya menetes. “Rasanya sudah seribu dokter kulit yang ibu temui, tapi hasilnya nihil,”
“Bagaimana dengan masa depanku, ibu. Wanita mana yang mau dengan aku dengan wajah seperti ini,”
“Sabarlah sayang. Dokter kulit memang tak berdaya menghadapi kutukan itu, tapi ia akan sembuh dengan sendirinya, asal,,,.”
Kalimat ibuku menggantung, karena tiba-tiba ayah datang dari jendela dan seorang pembantu lelaki dengan langkah tergopoh dengan membawa banyak beban dan oleh-oleh di tangannya.
“Asal apa, Bu”
“Hussh! Sambutlah ayahmu dulu. Nanti kita lanjutkan. Kamu jangan kemana-mana dulu karena ada hal penting yang akan dibicarakan melibatkan ayahmu dan kamu juga.”
__ADS_1
Aku jadi tertegun mendengar pernyataan ibu, kemudian mencium tangan ayahku. Ayahku membals dengan pelukan , serta peluk dan cium padaku. Lalu menyerahkan sebuah setumpuk oleh-oleh.
“Ini buat kamu,” kata ayah. Lalu dia pergi ke kamar.
“Apa dibicarakan sekarang juga, ayah masih capek,” bisikku pada ibu.
“Biar ayahmu bersalin pakaian dulu, masalah ini urgen, karena itu harus diselesaikan malam ini juga,” jawab ibuku.
“Tapi asal apa, Bu, agar kutukan ini bisa sembuh,” aku masih penasaran dengan kalimat ibu yang menggantung jelang kedatangan ayahku tadi.
“Asal ada wanita yang tulus mencintaimu suatu saat nanti,”
“Benarkah!” Seruku kaget. “Itu hanya berlaku di negeri dongeng dan dalam sebuah kisah novel, ibu”
“Kali ini berlaku di dunia nyata, kita buktikan saja nanti. Karena kamu bukan satu-satunya orang yang mengalami kutukan. Ada dulu nenek buyutmu juga kena kutukan, dan sembuh setelah ada lelaki yang mencintainya,”
“Hah!! Ibu baru cerita sekarang,”
“Karena sudah saatnya ibu memberitahumu sekarang,” kata ibuku.
Lalu percakapan kami terhenti, Ayahku telah selesai bersalin dan duduk di tengah-tengah kami.
“Bagaimana, Bu. Kasus hukum yang ibu layangkan terhadap berbagai media,” tanya ayahku mengalihkan perhatian kami.
“Ohya, Mas. Masalah anak kita ini lo, sudah sangat mendesak, berita mesum palsu itu terus berkembang dan bergerak liar, seperti hendak membunuh karakter kita,”
“Oh.. ini harus segera diatasi,” jawab ayahku.
“Iya. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan wibawa kita di kalangan pengusaha nasional dan memulihkan nama baik kita, Tampan harus dinikahkan dengan Feby Romansa, itu” lanjut ibuku.
Tentu aku sangat terkejut dengan pernyataan itu, aku jadi tersipu malu mendengar pernyataan ibu, tapi ini membuat hatiku sedikit berbunga-bunga.
“Anak kita masih terlalu kecil, bu,”
“Nanti dia menikah dini, asal kita semua selamat,” jawab ibuku.
“Kamu mamu menikah dini,” tanya ayah padaku.
Aku hanya terpekur malu, merunduk dengan muka bersemu ke lantai. Ingin menjawab iya, aku takut Feby tak mau menerima pinanganku.
“Pasti maulah, Mas. Anak kita ini sudah jatuh cinta pada anak itu, setiap hari dia memikirkan Feby,”
“Hah, dari mana ibu tahu,” celotehku senang.
__ADS_1
“Aku ini Ibumu, tahu setiap bahasa tubuh dan perasaan anaknya,” jawab ibuku.
“Tunggu apalagi,” sela ayahku.
“Ibu kenal orang tuanya,” tanya ayahku.
“Belum, nanti diselidiki dulu, kalau orang tuanya pengusaha dengan mudah kita akan melaksanakan aksi kita ini,” kata ibuku.
“Nanti kita utus perwakilan keluarga kita ke rumahnya, dulu. Jangan lupa buat penawaran yang mengejutkan untuk mereka tergiur,” saran ayahku.
“Tentu, itu sudah ada dalam benak saya, Mas,”
Lalu ibuku berbisik-bisik pada ayahku, entah apa yang dibicarakannya. Aku hanya terkesima melihat ayah menganguk-angguk saja apa yang dikatakan ibuku.
“Ada apa ibu, berbisik segala,” aku yang penasaran akhirnya membuat pertanyaan.
“Hus, kamu ngak boleh tahu, ini hanya pembicaraan kami orang tua saja,” kata ibuku.
“Buat apa aku ibu ajak berunding, kalau ngak boleh tahu,” aku mencoba memancing agar ibuku mau menjawab.
“Sabar saja, nanti kamu juga akan tahu sendiri seiring berjalannya waktu,” kata ayahku.
“Tapi kalau itu menyangkut diriku, aku harus tahu,” rengekku pada mereka.
Tetap saja mereka berdua terdiam, beberapa saat kami hanya mematung, sementara pikiranku sudah disesaki seribu pertanyaan . Kira-kira apa yang ibu bicarakan dengan ayah, apa yang mereka rencanakan?
“Besok, Ibu akan beritahu,” akhirnya ibuku bersuara jua.
“Sekarang kembali ke kamar dan tidur, jangan lupa berdoa dan belajar dulu,” kata ayahku.
Kusalami dan kucium tangan keduanya dengan seksama, lalu aku melangkah kembali ke kamarku. Entah kenapa pembicaran tadi dan rencana itu membuat aku sedikit ringan bergerak. Aku seperti melayang saja menuju kamarku di lantai atas.
Jendela kamarku masih terbuka, hujan masih turun walau tak sederas tadi waktu aku tinggal ke bawah. Lalu aku tutup jendela itu, kemudian aku tidur dengan pulasnya. Berharap Feby Romansa kembali hadir dalam lelapnya tidur ini.
bersambung............
__ADS_1