
Hari ini masih menjelang siang, tapi di rumah mendadak ramai didatangi oleh paman dan tanteku dari pihak ayah maupun ibu. Kenapa para familku itu berdatangan sebenarnya masa bodoh bagiku. Aku memang jarang berkomunikasi dengan ayah dan ibuku belakangan ini, semenjak mereka berdua pontang-panting menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, aku tidak diperhatikan sama sekali. Bahkan aku sering jadi sasaran kemarahan. Hal ini membuat Aku saban hari kalau tidak keluar rumah hanya berada di kamar, belajar dan belajar,
sambil sesekali melihat media social seperti youtube.
Namun kali ini ayah dan ibuku tiba-tiba memanggilku dengan mesra teramat manis, memperlakukan aku beda dari biasanya, membuat seribu pertanyaan dalam benakku.
“Anak ayah yang cantik, sudah makan belum?” sapa ayahku dengan manisnya.
“Anak ibu yang berparas ayu, kemarilah mendekat,” sapa ibuku pula.
“Ada apa sih, Bu?”
“Kamu sudah semakin dewasa sekarang, dan cantik dengan paras ayumu, cobalah berdandan dan bersolek dan pakai pakaian yang paling bagus hari ini,” kata ibuku.
“Oh. Ibu tumben ibu menyuruh aku memakai pakaian yang bagus, emang ada acara apa sih ibu?” kataku sambil memperhatikan para pembantu rumah berbenah dan bahu membahu dengan para familyku menyiapkan segala sesuatu.
“Hari ini kita akan membuat sedikit acara, karena perusahaan keluarga kita terbebas dari kepailitan,” kata ayahku.
“Alhamdulillah,” jawabku.
“Tidak hanya itu, kita juga kedatangan tamu istimewa sore nanti,” ujar ibuku.
“Tamu istimewa dari mana, Bu,”
“Ini kejutan, buat kamu. Nanti sore ibu akan sampaikan detailnya, yang jelas ini sangat penting bagi kita,”
“Maaf, Bu. Sore ini saya sudah terlanjur membuat acara dengan teman, Bi Ratna sudah bilang bukan sama Ibu!”
“Sudah. Tapi kamu urungkan saja niatmu itu. Kamu mau ngevlog lagi, bukan. Tunda saja dulu,” ujar ibuku.
“Enggak bisa ibu, lagian acara di rumah ini mendadak sekali sih,” ujarku sewot.
“Feby! Ini penting lo buat kamu!” kata ibuku sedikit merajuk.
“Sudah.Sudah! Kamu mau pergi ditemani Bi Ratna, Bukan?” tanya ayahku.
“Iya.”
“Kalau kamu pergi juga, nanti jangan nyopir sendirian, biar kamu disopiri Pak Bakri, ya?”
“Iya. Gak apa-apa,” jawabku singkat sambil berlalu dari hadapan mereka.
***
Di atas mobil yang melaju kencang menuju Desa Medang perasaanku bercampur aduk. Sebenarnya
aku ingin sekali mengetahui kegiatan apa yang terjadi di rumah. Tentang tamu istimewa yang kata ibuku penting untukku. Tapi hari ini aku terlanjur memenuhi undangan Senopati untuk berkenalan dengan orang tua mereka.
__ADS_1
Aku senang mendengar penuturan orang tuaku tentang perusahaan mereka yang selamat dari kebangkrutan, sehingga diadakan syukuran dadakan seperti itu. Tapi yang mengganjal hatiku adalah tentang tamu istimewa
yang penting itu. Apakah ada hubungannya dengan perusahaan ayah dan ibuku.
Aku menoleh pada Bi Ratna di sampingku, iseng saja aku bertanya tentang hal tersebut padanya. Mungkin sedikit atau banyak dia tahu tentang tamu istimewa itu.
“Bi Ratna,” ucapku. Bi Ratna yang sedang memandang sisi jalan mengalihkan pandanganya padaku.
“Kenapa, Non?”
“Tadi Bibi ikut serta membenahi rumah ya, Bibi tahu tahu ada tamu istimewa yang akan datang ke rumah, itu siapa ya Bi?”
“Dengar-dengar begitu sih Non, tapi Bibi ngak tahu siapa tamu itu?”
Lalu aku teringat dengan surat yang dititipkan walas dan guru BK itu, sampai sekarang aku belum tahu tentang isi surat itu, kedua orang tuaku juga tidak memberitahu itu surat tentang apa. Jangan-jangan mereka belum
membaca surat itu.
“Eh.. Bi, ngomong-ngomong surat dari sekolah sudah dibaca ibu belum?”
“Sudah Non, ibu bilang surat itu panggilan ke sekolah,”
“Ibu sudah ke sekolah belum, ya?”
“Sudah Non, emang non Feby ngak dikasih tahu hasil pertemuan itu sama nyonya,?”
“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa ya dengan aku di sekolah ya Bi,”
Pembantuku itu hanya terdiam mendengar ucapanku, entahlah apa yang sedang dipikirkannya. “Bi. Ngelamun ya.”
Pembantuku itu tetap diam, “atau Bibi tahu hasil pertemuan itu di sekolah.”
“Sebenarnya tahu, non. Tapi Non Feby janji ya,”
“Janji apa?’
“Jangan bilang-bilang ke ibu,”
“Jadi Bi Ratna dilarang memberitahu sama Ibu padaku,”
“Bukan begitu. Bibi secara tak sengaja mendengar obrolan Nyonya menyampaikan pada Tuan tentang hasil pertemuan itu, “
“Apa pembicaraannya Non,” kataku tak sabaran dan dadaku mulai disesaki kekhawatiran.
“Non, juga janji tidak sedih dan marah,”
“Janji. Kenapa harus marah. Paling masalah pemberitaan yang menggunung dan menjadi viral se-Indonesia karena ulah Si Tampan itu,”
__ADS_1
“Bukan Non,”
“Lantas apa?” aku mulai cemas.
“Kata Nyonya pada Tuan yang tak sengaja terdengar oleh saya, Non Feby dikeluarkan dari sekolah, Si Tampan juga dikeluarkan dari sekolah,” ungkap Bi Ratna serius.
Aku seperti hendak muntah mendengar pengakuan Bi Ratna. Seluruh ragaku terasa ambruk, seolah-olah nyawa ini melompat dari raganya. Aku coba menahan diri, dan aku tiba-tiba menangis. Bi Ratna menenangkan diriku dan
memelukku yang mulai sedu sedan.
“Akhirnya yang kutakutkan terjadi juga, Bi,” isakku dalam pelukannya.
Entah mengapa tiba-tiba kebencianku pada Tampan Menawan bangkit lagi. Banyangan seram lelaki itu kembali mengerayangiku. “Aku benci dia Bi,”
Tangisku sesenggukan di pelukan Bi Ratna.
“Sudahlah Non, sabar! Ini akan nada hikmahnya,”
“Sekolah itu merupakan symbol dan gengsi untuk pelajar masa kini. Merupakan kebanggaan tersendiri bisa memasukinya, tapi akibat ulah Tampan Menawan, semuanya jadi seperti ini.”
Sementara mobil terus melaju kencang menembus tol Jakarta – Cibinong menuju Desa Medang. Aku berharap Pak Bakri tidak tersesat akan alamat yang kuberikan padanya. Entah mengapa rasanya aku ingin cepat-cepat sampai di
rumah Senopati Adi Raka, Dan mengadukan pada lelaki yang kurindukan itu tentang kepahitan yang sedang menimpaku.
Mobil terus melaju hingga telah keluar di tol Cielungsi, melewati jalan biasa yang macet sementara aku masih saja terisak-isak sambil tiduran di paha Bi Ratna. Sesekali wanita yang sudah lima tahun bekerja di
rumahku itu menggosok-gosok punggungku untukl menenangkanku.
“Sebentar lagi kita sampai ya, Non,” teriak pak Bakri sopirku.
“Iya,” yang menjawab Bi Ratna.
Aku segera bangun dari posisi tidur dengan kepala di paha Bi Ratna itu. Lalu mengambil tisu mengelap muka dan sisa-sisa air mata. Aku harus tampil cantik di hadapan Senoapati Adi Raka. Tak ingin ada kesan sembab di mata
ini sehabis menangis tersedu-sedu mendapat kabar buruk ini.
“Ok. Kita sampai, sesuai dengan alamat yang Non, berikan,” ujar Pak Bakri dan mobil pun berhenti di depan sebuah rumah yang cukup megah dan besar.
AKu kagum dengan rumah sebesar dan semegah itu di Desa Medang, rumah yang mencolok disbanding rumah lainnya. Begitu pagar rumah besar itu dibuka mobil segera masuk ke dalam area parkirnya yang luas. Di sana aku lihat Senopati Adi Raka sudah menyambutku dengan sebuah senyuman menawan.
Bersambung.................
__ADS_1