Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Persembahan Cinta Jiwo


__ADS_3

Mataku tiba-tiba terpejam. Dalam beberapa saat aku seperti terbuai dalam mimpi yang sulit untuk aku jelaskan. Semakin lama semakin dalam hingga mimpi itu makin melenakan. Aku nyaris tak ingat apa-apa lagi beberapa saat kemudian. Sampai tiba-tiba Senopati Adi Raka membangunkan aku. Namun dalam kondisi yang terjaga ini rupanya yang ada di hadapanku Eyang Jiwo sedangkan Senopati Adi Raka sedang duduk di dipan kamar rumah sakit ini. Posisinya masih seperti semula saat Eyang Jiwo melakukan suatu hal yang aneh tadi padanya.


Eyang Jiwo mendekat pada ayah Senopati Adi Raka, keduanya nampak berbisik-bisik entah apa yang diperbincangkan oleh keduanya. Usai berbisik seperti itu, Eyang Jiwo mendekati kedua orang yang mengiringinya lalu lagi-lagi berbisik-bisik membicarakan sebuah hal.


"Untuk kesembuhan bathin Senopati Adi Raka. Hari ini akan diadakan persembahan cinta  jiwo yang melibatkan kekasih hatinya, Feby Romansa," kata Eyang Jiwo, ini cukup membuatku terkejut terkaget-kaget.


Eyang Jiwo lalu memandangku. Aku balas memandang mata itu. Ingin bertanya sebuah hal yang tentunya terkait persembahan cinta jiwo.


"Eyang. Apa itu persembahan cinta jiwo?" tanyaku memberanikan diri.


"Feby Romansa. Aku telah menyelami jiwa kamu dan Senopati. Cinta kalian berdua sangat kuat. Saat ini kalian sangat saling mencintai. Namun ada sebuah hal yang membuat cinta kalian bisa retak berkeping-keping. Untungnya itu belum terjadi, hanya saja sudah mengarah ke sana," jawab Eyang Jiwo.


Ucapan Eyang Jiwo mencerminkan betapa hebatnya dan tingginya kepandaian dan ilmu yang ia miliki. Ia bisa tahu isi hatiku dan senopati. Sudah barang tentu dia juga tahu tentang Tampan Menawan anak konglomerat di negeri ini. Dari kalimat yang ia ucapkan menjurus atau tersirat bahwa aku saat ini sedang bermasalah dalam percintaan.


"Kamu mau mempersembahkan cintamu untuk kesembuhan Senopati Adi Raka, orang yang begitu kau cintai. Jawab sejujurnya," tanya Eyang Jiwo.


Tentu saja aku akan berkorban untuk Senopati. Tapi apa jadinya nanti atau apa akibatnya jika itu kulakukan. Tak adakah jalan lain selain persembahan cinta jiwo. Aku terdiam saja mendengar pertanyaan itu. Belum berani menjawab apapun juga saat ini.

__ADS_1


"Kalau kamu ragu kematian bisa saja menjemput Senopati Adi Raka dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Persembahan itu untuk menangkal kemungkinan kematian yang bisa menderanya," ucap Eyang Jiwo kemudian.


Kematian memang milik siapapun jua. Tapi kalau aku yang jadi penentu kematian seseorang sudah pasti aku akan dengan seiklas hati membantunya. Apalagi orang tersebut merupakan orang yang aku sangat cintai.


"Kalau kau masih ragu tidak mengapa, aku siap pergi sekarang,' kata Eyang Jiwo membuat aku terkejut.


Detak jantungku tak karuan mendengar ucapan Eyang Jiwo. Sementara Ayah dan Ibu Senopati Adi Raka sudah hendak menghadang langkah Eyang Jiwo.


"Jangan pergi dulu, Eyang Jiwo," sergap ibu Senopati Adi Raka.


Ibu dan Ayah Senopati Adi Raka memandang padaku. Sepertinya ia hendak membujukku untuk melakukan apa yang disuruh oleh Eyang Jiwo.


"Bukankah engkau telah berjanji akan selalu bersamanya," sambung ibu Senopati Adi Raka.


"Baiklah. Aku bersedia melakukan persembahan cinta jiwo untuk kesembuhan Senopati Adi Raka. Namun, apakah ada dampak buruknya itu semua padaku atau pada orang lain semisal keluarga kami di rumah," tanyaku pada Eyang Jiwo.


Eyang Jiwo memejamkan matanya beberapa saat. Lalu dia membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"Dampaknya hanya cinta yang tak bertepi antara kau dan Senopati Adi Raka sampai ajal menjemput. Tiap hari kalian berdua tidak akan pernah saling terputus cinta dan rindu barang hanya sekejap," jawab Eyang Jiwo.


"Demikiankah. Itu tidak mengapa Eyang Jiwo. Malah itu yang didambakan semua pasangan di dunia ini," ujarku menghela nafas lega.


"Tidak hanya itu Feby. Ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui. Karena aku tahu dirimu sedang terikat pertalian dengan seorang pemuda lainya. Pemuda yang memiliki leluhur yang sangat sulit aku jangkau kedigdayaannya. Kekuatan itulah yang membuat kau sebenarnya hendak mengalah untuk persembahan cinta jiwo ini," kata Eyang Jiwo berbisik sangat pelan di telingaku. Sehingga hanya aku yang bisa mendengar dengan jelas.


Aku tadi sudah menduga bahwa Eyang Jiwo mengetahui pertunangananku dengan Tampan Menawan. Namun yang membuat aku lebih terkejut adalah ketika dia menyebut-nyebut leluhur pemuda yang terikat pertalian denganku. Ternyata dia orang yang sangat bisa menebak dan mengetahui kehidupan orang lain. Ilmu apakah yang dimilikinya?


"Aku ingin pemuda itu tak bertalian denganku, Eyang," balasku berbisik pada Eyang Jiwo.


"Tapi kamu tahu resikonya, apa? prahara antara dua lelaki itu. Prahara tak berkesudahan antara  Senopati Adi Raka tau Pemuda yang bertalian denganmu itu. Apakah kau masih ingin melakukan persembahan cinta jiwo?"


Tanpa pikir panjang lagi aku tetap menyetujui untuk menyelamatkan Senopati Adi Raka. Eyang Jiwo memerintahkan aku duduk berhadap-hadapan dengan Senopati Adi Raka. Aku dan Senopati Adi Raka saling bertatapan satu sama lainnya. Dalam kondisi seperti itu kedua orang yang mengiringi Eyang Jiwo mendekat ke arah kami. Keduanya membawa dua benda aneh dan kedua benda aneh itu ditempelkan persis sejengkal di atas kepala kami. Keduanya seperti bergetar ketika kedua benda itu bertemu di atas kepala kami. Kmeudian Eyang Jiwo duduk bersimpuh dan merapal mantara-mntra aneh hingga membuat kedua benda itu mengeluarkan sebuah aura yang nampak oleh kasat mataku. Berwarna merah hati makin lama makin besar keluera dari kedua benda aneh tersebut. Hingga aura berwarna merah itu menyelimuti aku dan Senopati Adi Raka. Kami berdua terkurung dalam aura mistis yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Tapi astaga! Aku benar-benar tak menyangka hal ini akan terjadi. Aku tiba-tiba saja menyaksikan keanehan pada tubuh Senopati Adi Raka. Di dalam lingkungan aura mistis berwarna merah aku melihatnya seperti lelaki dalam keadaan tanpa busana. Nyaris tak sehelai benangpun menempel pada tubuhnya. Aku dengan jelas bisa melihat setiap bentuk tubuh Senopati Adi Raka. Raga yang sangat kekar dan tubuh atletis dengan perut yang kotak-kotak. Dalam sekejap aku hanyut dalam lautan asmara yang teramat dalam. Aku juga memdang ke bagian keperjakaan  Senopati Adi Raka dititik ini aku mendekati rasa timbul syhawat teramat dahsyat. Senopati juga memandang tak berkedip ke arahku. Seperti halnya Senopati Adi Raka, sepertinya aura mistis berwarna merah itu melenyapkan pakaian kami dari pandangan. Aku melihat rasa sahwat yang teramat dalam juga muncul dari Senopati  Adi raka. Rasa shahwat yang teramat dahsyat memaksa jiwa kami seperti berlompatan satu sama lain.


 

__ADS_1


 


__ADS_2