
Jiwa kami melayang pergi ke sebuah tempat dan melakukan sebuah hal yang tak sepatutnya dilakukan. Aku mamadu kasih dengan Senopati Adi Raka di sebuah tempat yang jauh yang tak bisa aku tebak lokasinya.
Namun, entah kekuatan apa yang berasal dari langit hingga aku tak bisa melakukan hubungan pergumulan dengan Senopati Adi Raka walau syahwat kami memuncak. Kekuatan itu menyibakan kami hingga kami masuk kembali ke dalam raga masing-masing.
Aku berkeringat bercucuran, aku melihat hal yang sama terjadi pada Senopati Adi Raka keringat bercucuran dari seluruh tubuhnya yang telanjang. Hingga aura mistis itu hilang dengan sendirinya masuk kembali ke dalam benda yang dipegang oleh kedua pengiring Eyang Jiwo. Anehnya, begitu aura itu masuk ke benda tersebut, aku melihat Senopati kembali berpakaian lengkap seprti sedia kala. Hal yang sama juga terjadi dengan diriku.
Aku melihat ke arah Eyang Jiwo, ia masih dalam posisi bersimpuh membaca mantra. Tak lama setelah itu mulutnya berhenti berkomat-kamit. Eyang Jiwo membuka kedua matanya yang terkatup.
"Persembahan telah selesai," ucapnya sambil berdiri.
"Bagiamana hasilnya," tanya Ayah Senopati Adi Raka.
"Senopati Adi Raka berhasil disembuhkan. Hanya saja keduanya gagal mempersembahkan cinta jiwo lebih jauh," jawab Eyang Jiwo.
Lalu Eyang Jiwo mengambil kedua benda yang tadi dipegang oleh kedua orang yang mendampinginya. Aku memperhatikan kedua benda itu dengan seksama. Teryata jika dilihat lebih dekat kedua benda itu yang satunya menyerupai sekuntum bunga yang terbuat dari tanah liat dan yang satunya lagi menyerupai kumbang terbang yang juga terbuat dari tanah liat.
Keanehan pun berlanjut. Kedua benda itu terbelah dua dengan sebuah sentuhan kecil tangan Eyang Jiwo. Dari belahan itu muncul bulatan-bulatan kecil berbentuk kristal. Eyang Jiwo mengambil benda-benda berbentuk kristal yang keluar dari kedua benda aneh yang terbelah tersebut.
"Tidak mengapa persembahan cinta jiwo tak berujung sempurna, karena kedua obat ini akan mampu membuat kalian seribu kali lebih kuat dalam menjaga cinta satu sama lainya," kata Eyang Jiwo sambil menyodorkan benda berbentuk kristal yang dihasilkan oleh dua benda aneh yang terbelah tadi.
Satu benda diserahkan padaku dan satu lagi diserahkan pada Senopati Adi Raka. Benda itu terasa lembut di tangan.
"Telanlah benda itu, Senopati dan Feby! ini berfungsi sebagai obat," perintah Eyang Jiwo.
Senopati Adi Raka tanpa pikir panjang menelan benda berbentuk kristal itu. Dalam sekejap benda itu telah berpindah ke dalam mulutnya. Masuk kek kerongkongan dan menjadi obat.
Aku juga melakukan hal yang sama, menelan obat yang ternyata terasa manis tersebut.
Selesai aku dan Senopati Adi Raka menelan obat berbentuk kristal itu. Eyang Jiwo sepertinya hendak bergegas pergi.
"Tugas saya sudah selesai di sini. Saya dan dua orang murid saya mohon diri," kata Eyang Jiwo.
Kedua ayah Senopati mengiringi kepergian Eyang Jiwo dan dua orang pengikutnya. Mengantarnya sampai jauh. Tinggallah aku dan Senopati Adi Raka di dalam ruangan rumah sakit ini berduaan.
Bersamaan dengan keluarnya Eyang Jiwo dan pengikutnya. Pak Trisno tiba-tiba masuk. Dia memanggilku ke dalam.
"Nona Feby. Sudah disuruh ulang oleh Tuan," ujar Pak Trisno setelah tiba di hadapanku.
Rupanya hari telah larut malam. Aku melirik pegelangan tanganku. Jarum jam di tanganku sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Sebenarnya aku ingin selalu duduk berdampingan dengan Senopati Adi Raka. Tak ingin meninggalkannya. Tapi dalam kondisi dikawal seperti ini aku tak bisa berbuat apa-apa.
"Tunggulah di luar beberapa menit lagi Pak Tris. Aku ingin berpamitan dulu dengan kedua orang tua temanku," kataku pada Pak Trisno.
Pak Trisno keluar dari ruangan rumah sakit.
"Siapa itu sayang?" tanya Senopati Adi Raka sepeninggal Pak Trisno.
Rupanya kondisi Senopati sudah benar-benar pulih. Tak ada lagi tanda-tanda sakit yang dideritanya. Rupanya pengobatan dari Eyang jiwo sangat mujarab dan manjur sekali. Untuk pertama kali dia memanggilku dengan kata sayang, terdengar sangat indah dan mesra. Agak geli memang mendengarnya, tapi aku memag semain terbuai cintanya Senopati setelah melakukan ritual persembahan cinta jiwo dan meminum obat berupa benda berbentuk kristal.
"Itu sopir pribadi aku, sayang" jawabku pada Senopati Adi Raka.
"Aku ingin kita ngobrol dari hati ke hati malam ini," kata Senopati Adi Raka.
Aku tak tahu harus menjawab apa mendengar permintaan Senopati Adi Raka. Ayahku bisa marah besar kalau aku pulang larut tengah malam. Apalagi aku sudah bertunangan dengan Senopati Adi Raka. Di sisi lain aku tak tega menolak permintaan itu.
"Iya. Tidak apa-apa," jawabku.
__ADS_1
"Tetaplah di sini sampai pagi bersamaku menemaniku di sini. Kita akan bercerita tentang keindahan hidup ini dan tentang kita," katanya lagi.
"Aku mau saja, Aa Seno. Tapi aku..." ucapanku terpotong. Tiba-tiba kedua orang tua Senopati Adi Raka sudah masuk. Rupanya mereka telah selesai mengantar Eyang Jiwo ke pintu gerbang rumah sakit ini.
Kedua orang tua itu menatap pada anak mereka Senopati Adi Raka. Berseri-serilah wajah keduanya melihat Senopati Adi Raka yang telah segar bugar seperti sedia kala.
"Tubuhmu sudah segar bugar,sepertinya kamu sudah sehat sekali Seno," kata ibunya.
"Iya. Bu. Semua berkat Feby dan Eyang Jiwo," jawab Senopati Adi Raka.
"Kalau begitu kita bisa pulang malam ini ke rumah," sambung ayah Senopati Adi Raka.
"Feby. Kita pulang ke rumahku saja ya," ujar Senopati Adi Raka padaku.
Belum sempat aku menjawab. Pak Trisno kembali muncul. Kali ini dia tak sendirian karena di belakangnya ada dua orang polisi wanita yang turut masuk ke dalam ruangan rumah sakit ini.
Dua polisi wanita yang berpakaian biasa itu mendekatiku. "Ayo dek kita pulang," ujar salah satu di antara polisi itu. Aku yang memang dalam pengawalannya tak bisa membantah lagi. Apalagi aku tak ingin ketiga orang yang ditugaskan oleh ayahku ini tahu tentang hubunganku dengan Senopati Adi Raka. Maka aku saat ini aku di hadapkan pada dilema. Aku harus mengatakan apa pada Senopati Adi Raka, bahwa aku belum bisa menemaninya hingga sampai ke rumah malam ini.
Perasaan cinta yang semakin dalam karena pengaruh pengobatan Eyang Jiwo beraksi. Au lagi-lagi tak kuasa mengatakan pada Senopati Adi Raka. Bahkan hatiku cenderung lebih menginkan pergi ke rumahnya sperti permintaannya.
"Apakah kakak berdua bisa mengawalku ke rumah temanku," akhirnya aku putuskan untuk mengutarakan nitaku pada dua polisi wanita pengawalku itu.
Kedua pengawal itu menggeleng hampir bersamaan. "Maaf Dek. Pesan ayahnya, adek harus segera pulang."
"Iya Non. Ayah Non sudah gelisah di rumah menunggu," timpal Pak Trisno.
Serta merta kedua pegelangan tanganku digenggam oleh kedua polisi wanita itu lalu menggiring langkahku ke luar ruangan rumah sakit ini.
"Sebentar Kak. AKu ingin pamit dulu sama mereka," ake melepaskan cengkeraman itu. Lalu berlari pada arah Senopati Adi Raka.
"Pergilah sayang. Pergi untuk kembali melanjutkan cinta kita berdua esok hari," katanya.
"Karena di rumah aku tak boleh pegang HP. Kabari aku malam ini lewat email ya! Aa Seno,'" kataku kemudian.
Aku selanjutnya melangkah ke hadapan ibu dan ayahnya Senopati Adi Raka.
"Aku pamit pulang, ya Pak. Ya Bu," kataku.
"Hati-hati di jalan," balas Ayah Senopati Adiu Raka.
"Selamat sampai di rumah," timpal ibunya.
Aku akhirnya melangkah pulang di bawah pengawalan tiga suruhan ayahku orang untuk kembali ke rumah.
__ADS_1
__ADS_1