Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Cinta Hadir Penuh Warna


__ADS_3

Pak Bakri tetap di mobil, sementara aku dan Bi ratna sudah diajak Senopati Adi Raka masuk ke ruang tamu rumahnya yang megah.  Namun yang menggelitik hatiku adalah tentang rumah berlantai dua didominasi cat nuansa biru  itu ternyata di setiap pintu yang aku temui masih bersegel plastik.


“Non, ini kebetulan apa tidak ya,” kata Bi Ratna padaku setengah berbisik saat kami sudah duduk di kursi tamu. Semnata Senopati yang barusan mempersilahkan duduk pergi ke ruang dalam rumahnya.


“Kebetulan apa maksud Bibi,”


“Baju yang non kenakan biru, baju Senopati juga biru, rumah ini juga bercat biru,”


“Kalau warna baju senada, saya dan Senopati  memang sudah janjian untuk memakai baju yang sama. Namun, kalau ternyata rumah ini berwarna biru saya juga baru tahu,”


“Selamat datang di pondok yang seadanya ini,” kata Senopati Adi Raka merendah. Sementara di belakangnya nampak dua pria muda membawa berbagai hidangan kue yang mahal dan minuman berkelas.


Aku jadi tersipu diperlakukan seperti ini dan tak mampu berkata apa-apa. Seumur hidupku baru kali ini aku menjadi tamu sebuah rumah dilayani seperti  menginap di hotel berbintang lima. Senopati yang sangat ramah dengan senyuman yang selalu mengembang saat berbicara denganku. Aura ketampanannya sangat memancar, baru kali ini aku melihat seorang pemuda yang ketampanannya tak mampu diuraikan dengan kata-kata, pemuda yang menjabat sebagai kepala desa. Apa aku yang terlalu lebay atau karena sudah terlanjur jatuh cinta, sehingga apapun terlihat sangat menyenangkan hati dan indah, sampai aku melupakan semua masalahku.


Di hadapan Senopati aku tiba-tiba seperti hilang, akumterenyuh ke dalam pesona yang dihadirkan di rumahnya.


“Aa Senopati rumahnya seperti istana,” kataku saking mengagumi kerendahan pribadinya yang berwibawa dan menawan itu.


“Rumah ini terlalu berlebihan jika disebut seperti istana, terlebih rumah ini Aa siapkan untuk mengarungi bahtera rumah tangga kelak,” kata Senopati sambil menatapku lembut.


Aku jadi semakin terkesima dengan ucapan Senopati, Entah mengapa sepertinya kalimat itu seperti ditujukan untukku.


“Jadi rumah ini bukan rumah orang tuanya Aa Senopati, terlihat masih baru dengan segel palstik di setiap pintu dan jendelanya,” ujarku.


“Segel plastik itu akan segera dibuka kalau Aa sudah menempati rumah ini bersama istri kelak,” jawab Senopati lagi.


“Ohya. Aa Senopati, katanya mau memperkenalkan saya  dengan orang tuanya,”  kataku tanpa sadar.


Sebuah kalimat yang sepertinya ditunggu Aa Senopati Adi raka, dia langsung tersenyum sangat mesra kepadaku. Membuat hatiku semakin dikuasai oleh cinta yang semakin berbunga-bunga mekar.


“Orang tuaku sedang OTW ke sini, sebentar lagi datang,”katanya.


“Namun. Aa Adi Raka ingin menyatakan sesuatu dulu pada Neng Feby sebelum kedatangan mereka,” lanjut Senopati Adi Raka.


“Dengan senang hati,” jawabku dengan perasaan tak menentu.


“Apakah Neng Feby bersedia jadi istri Aa Senopati kelak,” tanyanya penuh pengharapan.


Sejenak saja aku seperti melambung-lambung di udara yang dipenuhi pelangi-pelangi yang membentuk lukisan cinta. Indah sekali ungkapan itu, seumur hidupku baru kali ini aku mendengar ungkapan yang semesra itu.


Puluhan cowok mungkin telah meyatakan cintanya padaku semenjak aku duduk di sekolah menengah pertama tanpa kesan dan aku tolak begitu saja. Namun, kali ini ungkapan datang dari lelaki yang telah menyihirku dengan cinta pandangan pertama. Seorang kepala desa dan anak dari seorang anggota dewan yang merupakan juragan


tanah. Inikah yang dinamakan jodoh itu.

__ADS_1


“Aku akan menerima Aa Senopati jadi imamku kelak,” jawabku.


Mendengar jawabanku mata Senopati berkaca-kaca, “Alhamdulillah,


katanya sambil mengusap mukanya. Lantas dia menggenggam jemarikku, merangkulku


dan memberi kecupan hangat yang begitu mesranya.


Selanjutnya obrolan kami mengalir begitu saja, Sebopati Adi Raka banyak sekali menceritakan tentang hobinya, kegemarannya, dan sebagainya. Sesekali Bi Rtana yang mendampingiku menyela dan jadi sesuatu yang lucu di antara kami.


Hingga akhirnya, orang tua Senopati Adi Raka datang, keduanya masuk ke ruang tengah. Senopati Adi Raka membisiki aku agar mengikuti keduanya.


“Kita akan makan bersama-sama mereka sambil mengobrol, di ruang makan,” katanya padaku.


Aku mengangguk dan memandang pada Bi Ratna, “Bi Ratna tetap di sini, ya,”


“Baik Non,” jawab Bi Ratna cepat.


Aku dan Senopati Adi Raka melangkah ke ruang tengah rumah megah itu, semua yang terlihat di dalam rumah adalah keindahan. Rumah modern ala kekinian itu ternyata di tengah rumahnya dihiasi oleh ornament-ornamen bernuansa arba dan paduan timur tengah. Bola lampu menggantung yang mahal dan dinding ruang bagian dalam bersepu perak, namun tidak menghilangkan nuansa birunya.


Kedua orang tua Senopati sudah duduk di meja makan. Keduanya menatap ke arahku. Tatapan yang penuh arti dan makna dari orang tua senopati yang mungkin sudah berusia di atas enam puluh tahunan.


Aku menyalami mereka dengan penuh hormat, lalu duduk persis di hadapan mereka, diikuti oleh Senopati  Adi Raka.


Aku hanya tersenyum simpul mendengar pernyataan itu, kupandang Senopati Adi Raka yang Nampak sangat berseri-seri yang juga menahan senyum.


“Siapa namanya,” tanya ibu Senopati Adi Raka.


“Feby Romansa,” jawabku.


“Nama yang bagus. Sesuai juga dengan Senopati Adi Raka,” kata ibunya lagi.


Sebenarnya aku agak gemetaran berhadapan dengan kedua orang tua Senopati Adi Raka, terlebih pada pertemuan pertama ini. Aku sempat kikuk dan tak tahu harus bertingkah seperti apa.


“Jujur kami sudah menunggu momen ini cukup lama. Saat-saat Senopati membawa wanita ke rumah ini dan memperkenalkannya pada kami, dan ternyata wanita itu adalah kamu Feby Romansa,” kata ayah Senopati diakhiri


dengan sedikit tawa renyah yang enak didengar.


“Senopati anak laki-laki kami satu-satunya, bungsu dari tiga bersaudara, kaka-kakaknya sudah menikah dan ikut suaminya. Senopati adalah harapan kami satu-satunya. Jadi kami sangat ingin dia menikah secepatnya dengan


wanita pilihan hatinya. Apakah kamu akan serius menjalani hubungan dengan Senopati?” kata ibunya.


Aku cukup terkejut mendengar pertanyaan ibunya, hanya saja aku menjawab dengan anggukan sebagai isyarat setuju.

__ADS_1


“Sebenarnya, taaruf itu lebih penting, nanti pacaran setelah menikah saja, kita harus secepatnya menyusun rencana,”  sambung ayah Senopati.


Aku dan Senopati lebih banyak diam mendengar perkataan-perkataan kedua orang tua Senopati.  Intinya kamu manut dan menurut saja apa yang mereka berdua inginkan dari hubungan kami yang baru terjalin ini. Aku jadi tahu bahwa kedua orang tua Senopati sangat ingin anak bungsu mereka itu menikah secepatnya, dan mereka juga mendambakan keturuna atau cucu dari anak laki-laki.


Hingga akhirnya dua orang lelaki menghidangkan berbagai sajian di meja makan. Makanan-makanan yang gurih dan lezat ala makanan Sunda, bercampur dengan makanan Padang seperti Kikil dan rending, serta dendeng, dan ada pula makanan ala Eropa. Jadilah obrolan kami terhenti dan kami semua makan dengan nikmatnya, aku sangat bahagia hari ini.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Bersambung....................


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2