
"Siapa ini? Siapa yang bersamamu!" kata nenekku pada ayahku.
Aku hanya tersenyum-senyum simpul melihat keheranan yang terdengar dari mulut ibu dari ayahku tersebut. Ia jauh-jauh datang dari Yogyakarta hanya untuk menghadiri pertunanganku.
"Haruskah aku perkenalkan dia padamu, Ibu?" setengah bercanda ayah melontarkan ucapan itu.
"Mana Tampan Menawan cucuku yang akan bertunangan itu?" tanya nenek lagi.
"Ini Tampan Menawan, Mama. Orang yang Ibu tanyakan"
"Tidak mungkin ini Tampan Menawan. Aku kenal sekali dengan wajahnya. Atau apa mata ini yang sudah terlalu tua. Sehingga wajah cucuku terlihat berbeda," jawab nenekku tak percaya.
"Saya Tampan, Nek," akhirnya aku yang meyakinkan nenekku.
"Benarkah. Gagah sekali engkau sekarang Tampan," kata nenekku sambil menatapku teramat lama.
Nampaknya semua sudah hadir di ruangan ini. Ibuku yang tadi sibuk menjamu tamu kini sudah mendekat ke arahku. Hanya satu yang belum aku lihat, Zibran sahabatku sendiri. Nampaknya dia belum hadir ke ruangan ini. Sementara beberapa waktu lagi acara sambutan dan ucapan sepatah dua patah kata akan dimulai, kemudian disusul acara makan-makan. Lalu para tamu akan melaksanakan sholat dzuhur di area mushola rumah di sisi Selatan rumah. Setelah sholat Dzuhur berjamaah selesai barulah akan dilanjutkan berombongan ke rumah Feby Romansa.
Selepas Dzuhur itu barulah Zibran terlihat kehadirannya. Sepertinya dia mencari-cari keberdaanku. Untunglah Mas Rocky membimbingnya ke arahku dan berbisik-bisik pada Zibran seperti menyampaikan sesuatu.
Zibran menatap ke arahku. Seperti ada keraguan di hatinya untuk lebih mendekat ke arahku. Aku yang menyadari kondisi itu segera mendekatinya, menyambutnya.
"Kau tak mengenaliku lagi, Zib," kataku memulai pembicaraan.
Tentu saja Zibran yang sedang dikuasai oleh rasa keheranan sebagaimana sepupu-sepupuku dan orang yang telah mengenalku sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu Tampan. Apakah aku bermimpi?" katanya sedikit terbata.
"Kamu mendengar suara aku bukan. Suaraku tetap suara yang dulu. Tapi wajahku memang telah berubah. Karena inilah wajahku sesungguhnya," kataku meyakinkan Zibran.
"Iya. Kalau suaranya tetap aku kenal. Tapi wajahmu itu keterlaluan tampannya. Apa yang terjadi?"
"Aku tak bisa bercerita sekarang, Zibran. Karena kita sebentar lagi akan menuju rumah Feby Romansa. Calon istriku. Aku sudah tak sabaran ingin bertemu dengannya," kataku pada Zibran.
"Aku juga tak sabaran melihat reaksi Feby melihat wajahmu yang ternyata sangat gagah sekali, sulit dipercaya."
***
Aku bersumpah dalam hatiku tidak akan mau melihat wajah Tampan Menawan sedikitpun saat dia datang melamarku hari ini. Walau aku telah pasrah dengan pertunangan ini terjadi, namun kesetiaanku pada Senopati Adi Raka harus senantiasa dijaga. Tak ada satupun yang bisa melunturkan cintaku yang tekah terpatri teramat dalam untuknya. Apalagi hanya untuk seorang Tampan Menawan orang yang menurutku sangat tidak pantas mendampingiku. Satu hal yang telah ia lakukan di saat itu di ruang BK membuatku memberikan pandangan miring padanya. Sebuah kelakuan dalam mimpi yang menyebabkan hidup ini berubah dengan cepatnya. Aku harus menikah dengannya untuk menutupi pandangan miring masyarakat pada keluarga terhormat Wibisono.
Aku sudah dihadirkan di ruang tengah rumah ini oleh kedua orang tuaku untuk menati Tampan Menawa. Di sisi kiri dan sisi kanan sudah pula berjejer bapak-bapak dan ibu-ibu dari RW teampat tinggalku. Di posisi belakang sudah berkumpul para sepupu dari pihak ayahku maupun pihak ibuku. Mereka sepertinya sudah tak sabaran menanti kehadiran keluarga Wibisono ayahnya Tampan Menawan yang beberapa menit lagi mungkin akan tiba di rumah ini.
MC yang memandu acara lamaran juga telah bersiap-siap membuka acara lamaran setelah semua rombongan itu di sambut dengan sangat hangat.
"Selamat datang keluarga besar Bapak Wibisono ayah dari Tampan Menawan calon mempelai perempuan berserta rombongan," ucap MC yang duduk tak jauh dari samping posisiku. Aku hanya merunduk dan terus merunduk, tak menoleh sedikitpun ke arah rombongan itu. Wajahku juga tertutup cadar dengan sempurnanya.
Entah apa yang terjadi. Suara-suara yang penuh kekaguman dan puji-pujian tiba-tiba berseliweran di telingaku sesaat setelah MC menyampaikan ucapan selamat datang itu.
Aku tetap tak melihat ke arah rombongan itu. Tidak mempedulikan suara hiruk pikuk yang makin menjadi-jadi itu. MC juga tidak lagi bersuara. Apa yang terjadi dengan MC itu. MC yang bertugas sengaja dipilihkan oleh ayahku merupakan pembicara terbaik dari perusahaan miliknya. Dia wanita 35 tahun yang telah dua tahun menjanda.
Hiruk pikuk yang makin menjadi itu memaksaku melihat ke arah MC.
__ADS_1
Barulah aku menyadari MC itu kemasukan mic yang ia pegang sehingga ia kesulitan bernafas. Aku sendiri tak tahu apa sebabnya mic itu sampai masuk ke mulutnya. Menggumpal penuh sehingga tak bisa membuatnya bernafas. Sementara matanya terus saja memperhatikan ke depan ke arah rombongan kelurga Wibisono, entah apa yang dilihatnya.
Tak lama ia kejang-kejang karena mic semakin dalam terdorong ke dalam kerongkongannya lalu roboh ke lantai. Beberapa orang memburu ke arahnya, mencoba melepaskan mic yang masuk ke kerongkongan namun sia-sia. MC acar pertunangan itu akhirnya di tandu ke ruang lain.
"Apa yang terjadi, Bu," tanyaku pada Ibuku yang tiba-tiba menghampiriku. Duduk di sampingku setelah tadi membantu MC yang roboh.
"Ibu juga tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Semenjak kehadiran keluarga Pak Wibisono di ruangan ini, sepertinya ada sebuah hal yang berbeda," ujar ibuku. "Sepertinya rombongan Pak Wibisono salah satunya adalah malaikat. Sangat sempurna, kalau manusia tak mungkin sesempurna itu wajah serta fisiknya," jawab ibuku.
Aku belum ingin menoleh ke arah keluarga Pak Wibisono, karena tak ingin melihat wajah Tampan Menawan seperti janjiku.
Sementara keadaan yang tadi hiruk pikuk sudah mulai agak tenang. MC yang baru telah ditunjuk oleh ayahku untuk menggantikan MC yang mulutnya kemasukan mic tadi.Kali ini MC nya seorang laki-laki. Dia memulai kata-kata yang mewakili pihak keluarga menyampaikan permohonan maaf atas ketidak nyamanan yang terjadi. Kemudian acara dilanjutkan dengan MC pengganti menyebutkan susunan acara demi acara.
"Keluarga Pak Wibisono yang membawa calon mempelai laki-laki yang terhormat silahkan memperkenalkan diri ke kami di sini semua. Lalu sampaikan juga maksud dan tujuan rombongan calon mempelai laki-laki datang ke sini?" kata MC melanjutkan tugasnya.
"Mana calon mempelai laki-lakinya?" tanya ibuku berbisik padaku.
Pertanyaan yang terasa aneh dan ganjil bagiku. walau sebenarnya aku menginginkan Tampan Menawan benar-benar tak ada di sini.
Bersambung..................
__ADS_1