
Sepulang dari rumah sakit menjenguk keadaan orang tua Feby Romansa, keinginan untuk menyelamatkan tunanganku itu dari tangan para penculik semakin menggebu-gebu. Aku semakin tak kuat menyimpan kegelisahan ini yang setiap waktu makin menumpuk bagai racun yang bisa membunuhku. Aku harus pergi menyelamatkan dia pemilik hati ini. Tapi bagaimana aku bisa menemukannya.
Aku teringat buku sakti lentera jiwa yang dikasih ibu di sebuah kamar rahasia rumah ini beberapa hari yang lalu. Buku itu aku simpan di lemari kamar ini. Aku sebenarnya ingin membawa buku itu selalu semenjak ibu memberikannya padaku. Tapi aku saat itu belum memiliki baju yang ada saku di bagian dada sehingga niat itu aku urungkan dulu. Aku kemarin sudah berbelanja online untuk mendapatkan baju tersebut kemungkinan datang hari ini sebanyak selusin.
Aku ingin menguji kesaktian buku tersebut dengan ilmu taekwondo yang aku dapatkan selama ini di sebuah klub taekwondo elit di kota ini. Untuk menaruh buku lentera jiwa di bagian dada, aku terpaksa melilitkan tali rafia ke dadaku untuk mengikatkan buku aneh tersebut, buku yang tak pernah ada halaman terakhirnya.
Selesai mengikatkan buku lentera jiwa di dadaku menggunakan tali rafia aku mencoba melakukan tendangan
yang dilakukan dari suatu sikap bergerak, dengan menggunakan daya jangkau dan kekuatan kaki yang lebih besar. Aku tentu meniatkan dalam hati agar gerakan itu menyatu dengan buku tersebut.
Hasilnya sungguh di luar yang aku duga, gerakan ini terasa sangat ringan dan sangat cepat sekali. Aku merasakan buku itu telah memberikanku tenaga dalam yang luar biasa besarnya. Selanjutnya aku menjajal dengan melakukan pukulan samping, pukulan dari bawah ke atas, pukulan mengait dan pukulan dengan sasaran, hasilnya semuanya sungguh ajaib. Aku dapat melakukan semuanya dengan sangat mudah.
"Hebat sekali!" kata ibuku yang tiba-tiba masuk ke kamarku tanpa aku sadari.
Aku serta merta menghentikan gerakan-gerakan taekwondo itu. "Ini semua berkat buku lentera jiwa yang ibu berikan padaku."
"Sekarang kamu bisa pakai baju ini, paketmu telah sampai," kata ibuku padaku sambil menyerahkan paket yang berisi selusin baju kaos yang bersaku di bagian dada.
Aku menyambut baju itu dengan senang hati, dan segera melepaskan tali rafia yang mengikat buku lentera jiwa di dadaku. Dan memakai salah satu baju kaos tersebut.
"Ibu. Bagaimana kabar dari pihak kepolisian?" tanyaku pada ibuku.
__ADS_1
Ibuku hanya menggeleng pertanda belum ada kabar apapun dari pihak kepolisian. "Polisi kehilangan jejak penculik," ibuku menjawab datar.
"Saat aku pergi mencari Feby Romansa, Bu. Aku sudah tak sabaran ingin membawanya pulang," kataku pada ibuku.
"Tunggulah sampai esok pagi atau lusa. Polisi pasti menemukannya. Firasat ini mengatakan Feby Romansa baik-baik saja," ujar ibuku mencoba menenangkanku.
"Tapi aku sudah tak tahan, Bu. Aku ingin segera pergi."
"Ibu sih yakin saja. Kamu bisa menemukan Feby dengan kekuatan buku lentera jiwa, tapi kamu tak boleh pergi sendirian," ujar ibuku.
"Tidak apa-apa ibu. Aku pergi dengan buku ini saja sudah cukup," jawabku.
"Kalau begitu keinginanmu apa boleh buat. Pergilah dengan niat yang tulus dan iklas karena ketulusan dan keiklasan akan membuat segala urusan jadi lebih mudah. Pasrahkan semuanya pada yang Tuhan."
***
Kendaraan yang membawa kami ke Kediri di sopiri oleh Mang Tatang sopir pribadi dari ayah Senopati Adi Raka. Kami ke Kediri menggunakan mini bus yang dirental agar bisa memuat banyak penumpang. Kendaraan ini memuat delapan orang penumpang yang terdiri dari aku dan Senopati Adi Raka yang duduk di kursi deretan ketiga, kedua orang tua Senopati Adi Raka yang duduk di deretan kedua, dua orang kaki tangan Eyang Jiwo yang duduk di kursi bagian belakang dan satu orang penunjuk jalan ke tempat Eyang Jiwo di kaki Gunung Kelud Kediri. Anehnya, Eyang Jiwo tak ikut bersama rombongan ini. Hanya saja dia menuturkan akan menunggu di kediamannya di kaki Gunung Kelud. Entah dengan cara apa dia ke sana masih menjadi pertanyaan di benakku.
Saat ini posisi mobil sudah berada di perbatasan Jakarta dengan Bekasi. Entah mengapa perasaanku tak menentu saat ini. Perasaan bercampur baur antara kebahagiaan dengan kesedihan. Bahagia karena saat ini aku bersama-sama dengan Senopati Adi Raka. Berada di sampingnya membuat cintaku kembali bersemi dengan indahnya. Cinta yang sempat diusik oleh pesona Tampan Menawan dengan bunga-bunga dan boneka kesukaanku. Kini pesona Tampan Menawan kembali sirna tanpa bekas, hal ini bisa terjadi karena pengaruh persembahan cinta jiwo yang kami lakukan beberapa waktu lalu.
Di sisi lain aku sedih dengan keadaan kedua orang tuaku saat ini. Ayahku mungkin terluka dan ibuku mungkin mencari keberadaanku dengan gelisah. Aku ingin keduanya baik-baik saja walau tanpa aku lagi di tengah kehadiran mereka. Aku berharap kembaranku secepatnya tercipta untuk mengganti posisiku di rumah itu. Kembaranku yang tentu akan menjadi bagian hidup dari Tampan Menawan nantinya kalau misi yang digagas Eyang Jiwo berhasil nantinya.
__ADS_1
Di tengah-tengah laju mobil yang disopiri oleh Mang Tatang melaju kencang, tiba-tiba kami dikejutkan dengan mobil polisi yang menghentikan kendaraan mini bus ini. Aku berpikir bahwa polisi mendeteksi keberadaan aku di dalam mobil ini. Aku tahu aku sedang dicari oleh mereka. Penumpang lain sepertinya memikirkan hal yang sama. Senopati Adi Raka nampak sedikit cemas akan hal ini, dia menggenggam jemari tanganku yang erat untuk mengurangi rasa khawatirnya. Dua kaki tangan Eyang Jiwo melihat ke arahku dengan perasaan cemas.
"Adakah yang menghidupkan HP?" tanya Dio, salah satu kaki tangan Eyang Jiwo menyelidiki kami.
Polisi bisa saja melacak keberadaanku melalui sinyal HP yang aku gunakan. Tapi HP milikku selalu dalam keadaan mati karena kehabisan baterai, di acapa jumpa pers itu sudah low battery. Tidak mungkin polisi mampu melacak keberadaanku hanya dengan HP milikku yang tak menyala. Kedua orang tua Senopati Adi Raka bergegas mematikan HP milik mereka. Senopati Adi Raka juga nampak demikian, dia buru-buru mematikan HP miliknya agar tidak terdeteksi pihak kepolisian. Tapi yang paling berpengaruh adalah HP milik saya langsung, sebagai orang yang dijadikan korban penculikan.
"Hanya ada dua kemungkinan polisi menghentikan kita," ujar Ayah Senopati Adi Raka.
"Apa itu," tanya ibu Senopati Adi Raka Penasaran.
"Pertama polisi mengetahui di antara kita sebagai salah satu orang yang terlibat penculikan dan melacak keberadaan kita di sini, bisa dari sinyal HP yang kita gunakan," jawab Ayah Senopati.
"Yang kedua," sambung Ibu Senopati Adi Raka penasaran.
"Kedua, kemungkinan polisi sedang razia masker. Ayo semuanya pasang masker!" ujar ayah Senopati Adi Raka,
aku baru menyadari bahwa kami semua tidak menggunakan masker saat ini, barangkali saja polisi curiga.
"Ibu punya persediaan masker di tas," kata Ibu Senopati Adi Raka sambil mengeluarkan masker di tasnya dan membagikan ke semua penumpang mini bus ini.
__ADS_1