Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Sebuah Pentunjuk


__ADS_3

Aku ikuti saran Gibran menghubungi semua nomor yang ada di rumah, mamun semua yang bekerja di rumahku sudah tertidur.


"Hasilnya nihil," kataku pada Zibran.


"Berarti kita pulang saja," kata Zibran.


"Tak ada pilihan lain."


Dengan berat hati kutinggalkan hotel ini. Tak lupa aku titipkan pesan pada resepsionis hotel untuk menghubungiku jika ada kamar kosong.  Ibuku barangkali sudah cemas menungguku di rumah.


"Kamu menginap saja di rumahku, bagaimana?" tanyaku pada Zibran sesampai di parkir hotel.


"Baiklah. Tadi memang ibuku sudah mengijinkan kalau kemungkinan pulang malam aku menginap."


Sesampai di rumah ibuku dan ayahku ternyata belum tidur. Keduanya nampak resah dan gelisah, wajah keduanya memperlihatkan kerisauan, ini hal yang janggal dan jarang terjadi.


Apakah mereka mencemaskan aku yang keluar malam, atau ada hal yang lain yang terjadi?


"Kamu dari mana saja, Tampan?" tanya ayahku begitu aku masuk.


Aku ragu menjawab apa, jika aku katakan dari rumah aku teringat pada Feby Romansa.


"Lama sekali kamu di rumah Zibran," untunglah ibuku segera menjawab.


"Calon tunanganmu melarikan diri dari rumah, tadi ayahnya mengabarkan," kata ayahku.


Jadi peristiwa yang aku saksikan tadi adalah pelarian Feby. Sudah aku duga sebelumnya, bahwa kepergian Feby di tengah malam buta seorang diri dengan membawa koper saat hujan deras adalah sesuatu yang tidak beres. Ini sangat janggal, bisa jadi bentuk penolakannya atas pertunanganan aku dengannya yang akan segera terjadi.


"Orang tuanya saat ini sedang pusing mencari keberadaanya," kata ibuku kemudian.


Aku menatap ke arah Zibran yang berusaha menyikutku, mungkin maksudnya aku harus menyampaikan apa yang tadi terjadi dan kita saksikan berdua.


"Aku tadi melihat Feby, Bu," jawabku kemudian.


"Kamu lihat dimana?" desak ibuku sambil mendekat ke arahku.


"Benar kamu lihat Feby?" kata ayahku juga yang penasaran.


"Maaf Bu, sebenarnya tadi saya dan Zibran hanya iseng saja melihat-lihat rumah Feby, namun secara tak terduga saya dan Zibran menyaksikan Feby membawa koper dan menyetop sebuah taksi, kami mengikuti arah taksi itu, dan ternyata menuju hotel Samudra," kataku menjelaskan.

__ADS_1


"Iya benar, aku tak menyangka itu bentuk pelarian diri," ujar Zibran menyela pembicaraan.


"Bagus. Barangkali kamu memang jodoh dengannya, sehingga pada saat yang tepat kamu melihat apa yang dilakukanya," ujar ibuku senang.


Sementara ayahku sudah memencet nomor telepon dan terhubung dengan orang tua Feby. Beberapa saat mereka saling mengobrol melalui sambungan telepon. Tak lama ayah mengakiri pembicaraan.


"informasi yang tepat, sekarang kedua orang tuanya sudah lega dan segera menysusul ke hotel" kata ayahku sambil memelukku.


"Ibu. Kenapa Feby melakukan itu. Kenapa dia harus kabur saat hari pertunanganan kita sudah dekat?" kataku pada ibuku.


"Kesabaran kamu sedang diuji di sini. Dan Tuhan telah memberimu petunjuk tentang keberadaannya, kamu harus tetap sabar sampai nanti tiba saatnya Feby menerimamu sepenuh jiwa. jangan pernah mengluh dengan sikapnya, iklas dan terus berusaha mengambil hatinya. Itu yang harus terus kamu tanamkan saat ini. dan kutukan itu akan hilang dari dirimu, Nak," jawab ibuku menyemangatiku.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Bu. Apakah aku harus ke hotel itu!"


"Tidak usah, yang penting keluarganya sudah mengetahui keberadaanya, dia akan baik-baik saja. Sekarnag tidurlah, esok pagi pasti kabar baik itu akan datang untukmu," kata ibuku lagi.


Aku dan Zibran pun melangkah ke kamarku di lantai atas, walau rasanya aku ingin kembali ke hotel itu dan menginap bersama-sama di sana. Tapi sudahlah, bertemu dan melihatnya saja malam ini aku sudah sangat senang.


 


 


                                                                       ***


Memanfaat wi-fi hotel aku membuka email tersebut. Ternyata Senopati sudah seringkali mengirim email untukku hal yang sama juga terlihat di kolom komentar youtube yang kau miliki, dia mencari keberadaanku.


Email yang paling berkesan aku buka, berbunyi:


Neng Feby belahan hati, puas Aa menunggu balasan email tapi mengapa diam seribu bahasa


Hati ini sudah tak bisa menahan rindu, tiap hari tiap waktu hanya selalu ingin bertemu


Ada gerangan bidadari hati yang aku rindu...


Lalu aku perhatikan email-email yang lain, ternyata Senopati selalu menghubungi nomor hanphoneku namun selalu mail box


Aa Senopati Adi Raka, aku ingin ceritakan semuanya...


Ini penting untuk kita

__ADS_1


Aku ingin bertemu malam ini di Hotel Samudra


Aku Menunggumu..


salam sayang....dari Feby Romansa


Aku menunggu balasan dari Senopati Adi Raka secepatnya, aku ingin dia membaca surat itu dan segera datang menjemputku ke tempat ini. Akan kuceritakan tentang diriku padanya hingga dia merasa perlu mengambil keputusan yang tepat, misalnya kawin lari, karena aku ingin selalu bersamanya.


Lama aku menunggu emailku dibaca dan dibalas Senopati Adi Raka. Mungkin aku terlalu berharap akan kedatangnnya. Atau dia memang telah putus asa mencari dan meneleponku sebelumnya, menganggap aku telah mengabaikan dan ia pun berusaha melupakan diri ini.


Tiba-tiba aku kembali gusar dan gundah gulana, bagaimana kalau dugaanku itu benar adanya. Tentu ini sangat membahayakan bagiku. Pelarianku akan sia-sia, dan uang tabunganku tentu akan perlahan habis, dan kartu kredit yang aku miliki pemberian ayah dan ibuku tentu akan diblokir secepatnya. Maka celakalah diriku. Tentu aku akan kesulitan bertahan hidup. Kembali pulang tentu sebuah hal yang mustahil.


Kalau itu terjadi, aku akan mencoba hidup baru dengan caraku sendiri, aku akan mencari kerja daripada menikah dengan Tampan Menawan yang tidak aku cintai itu.


Aku kembali mengecek emailku kalau-kalau sudah ada balasan dari Senopati Adi Raka dan ibarat gayung bersambut, tiba-tiba balasan email dari Senoapti Adi Raka sudah muncul. Bukan main girangnya hati mendapat balasna itu.


Neng Feby, rindu yang lelah akhirnya terbayar sudah, Aa Seno sekarang segera OTW...


Demikian penggalan singkat balasan dari Senopati Adi Raka. Segera saja aku bongkar koperku dan mencari baju yang pantas aku temukan untuk bertemu dengannya nanti. Semangatku tiba-tiba membumbung tinggi, hatiku yang lelah bugar kembali, seperti padang gersang yang telah lama diisi kemarau yang tiba-tiba diguyur hujan, semuanya mekar.


Satu jam aku menunggu, aku berharap Senopati Sudah datang. Aku mendengar langkah-langkah kecil berhenti di depan pintu kamar hotel nomor 62 tempat aku menginap. Tentu aku sangat yakin itu suara langkah Senopati Adi Raka.


"Tok. Tok. Tok!" Pintu kamar hotel diketuk sebanyak beberapa kali.


Aku yang tak sabaran ingin bertemu dengan Senopati Adi Raka segera bangkit dari tempat tidur kamar hotel ini.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung.....


__ADS_2