Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Sebuah Keindahan Tiada Tara


__ADS_3

Ini adalah tempat yang asing bagi ku. Aku berada di sebuah hutan rimbun tepatnya di sebuah pinggir sungai berair jernih. Saking jernih nya aku bisa melihat ikan-ikan berenang kian kemari dengan lincahnya. Entah mengapa aku begitu penasaran dengan ikan-ikan itu. Tanpa pikir panjang, aku melepaskan baju yang aku kenakan sehingga tak menyisakan sehelai benang pun. Aku tak sedikit pun merasa was-was kalau nanti ada yang melihat ku. Apa lagi melihat area sensitif ku yang masih perjaka itu.


"Byurr," aku mencebur ke sungai dan berusaha menangkap ikan-ikan itu dengan kondisi telanjang bulat. Ikan-ikan itu spontan terkejut berlarian dengan liar dan menjauh. Aku yang sangat ingin menangkap ikan itu terus mencoba memburu hingga ke tempat jauh, dan tiba di sebuah pemandian wanita ala jaman dulu.


Aku menggosok-gosok kedua bola mata-ku melihat sebuah pemandangan di depan mata ku. Itu sosok Feby yang mandi seorang diri dengan nada bersenandung. Aku sampai melotot melihat keadaan Feby yang juga tanpa mengenakan busana, tak ada sehelai benang pun menempel di tubuhnya,secara refleks gairah kelelakian ku membara. Dada nya yang begitu menantang, paha nya yang mulus, setiap inci aku perhatikan dengan seksama.


Sampai-sampai area sensitif ku berdiri tak karuan ketika menatap area sensitif nya.


Aku tak ingin Feby tahu keberadaan ku, aku terlanjur dirasuki nafsu mencoba berfantasi dengan cara ku sendiri sambil menikmati keindahan tiada tara tersebut dari kejauhan.


"Byurrrrr! " Sebuah ikan besar menggelepar, ke permukaan persis di hadapan ku. Ini kejadian tak terduga, Feby spontan menoleh ke arah ku. Di saat itu lah ia menjerit-jerit sejadi-jadinya.


Tiba-tiba saja sebuah keanehan terjadi, sebuah gemuruh muncul dari hulu. Air yang tadi jernih berubah jadi keruh. Sebuah air bah besar datang, menggulung-gulung tubuh feby terlebih dahulu, aku ingin menyelamatkannya.


Namun, arus itu terlalu deras, aku berusaha meraih tubuh Feby yang lewat hanyut di depan ku, tapi sia-sia belaka, aku sendiri akhirnya juga digulung-gulung derasnya air bah. Hingga sebuah kayu besar menghantamku, tubuh ku mental mencelat dari permukaan sungai, terjatuh ke daratan.


"Bukkk!!!" Aku terjatuh.


Aku tersadar bahwa aku sedang bermimpi dan terbangun ketika terjatuh dari tempat tidur ku.


Aku mencoba merenungi mimpi yang menimpa ku barusan. Aku berusaha mencari arti mimpi itu lewat primbon melaui searching di internet.


Mimpi telanjang di sungai dengan wanita, lalu dihanyutkan air bah, demikian aku ketik kata kunci pencarian di google. Menunggu hasil pencarian, aku mencoba minum air putih dulu, mengobati rasa cemas ku akan mimpi yang sangat menyeramkan itu.


Hasilnya, arti mimpi itu sangat mengecewakan: sebuah malapetaka akan menimpa anda, hati-hati melangkah ke depan.


Aku teringat kembali pada Feby, perlakuan nya pada ku yang berubah tiga ratus enam puluh derajat, memang menghantuiku. Hari ini aku jadi enggan ke sekolah, dan aku memutuskan untuk tidur walau pagi saat ini masih pagi hari.


Barangkali Feby juga belum masuk ke sekolah, dia barangkali masih lemas dan sakit. Jika aku sekolah besok dan bertemu dengan nya. akan aku tanyakan sebab musabab dia menjauhiku dan bersikap seperti itu. Namun, mimpi itu membuat ku kembali waspada.


Aku mencoba berpikir positif, barangkali saja mimpi itu karena aku terlalu memikirkan perlakuan Feby. Di saat-saat aku sedang jatuh cinta pada nya semua keburukan ini begitu cepat datang.


Ahhhk... aku mencoba mengalihkan pikiran yang mebalut benak ku. Ku buka jendela kamar ku. angin sepoi-sepoi menyeruak dan membawa ke ketenteraman ke seluruh persendianku. Aku terlalu memkiirkan Feby, sehingga lupa dengan keindahan alam yang membentang di samping kamar tidur ku.


***

__ADS_1


Tanpa terasa sudah seharian aku mengurung diri di kamar ini. Seharian itu pula aku hanya memikirkan Feby yang mungkin juga mendekam di kamarnya karena sakit. Sekira pukul 16.00 WIB ibu mengetuk-ngetuk pintu rumah sambil memanggil nama ku pelan.


"Tampan! Buka Pintu,"


"Sebentar Bu," bergegas aku menuju kamar mandi mencuci muka, lalu berpakaian.


Jarang sekali ibu yang memanggil ku kalau tidak perlu sekali, biasanya pembantu yang mengingatkanku akan segala sesuatu, untuk melayani keperluanku.


Aku dapati ibu dengan rona kecemasan dengan sebuah surat di tangan nya ketika aku membukakan pintu.


"Tampan! Kamu tidak membuntingi orang bukan?" kata ibu ku dengan nada serius.


"Apa," aku terkejut mendengar ucapan ibu. Ibu memang suka berseloroh dengan ku tapi kali ini mimik ibu ku penuh kecemasan, membuat ikut-ikutan cemas.


"Ibu, anak mu ini masih masih suci, masih perjaka, mana mungkin membuntingi orang?" sangkal ku.


"Kamu tahu Feby bukan?"


"Tahu Bu, teman sekelas ku,"


Apakah Feby bunting, kalau aku hanya berhubungan badan dengan nya melalui mimpi basah, atau ada lelaki lain yang menghamilinya. Pantasan dia sakit seperti itu, jadi dia mengidam, pikirku.


Ibu hanya terkejut melihat aku spontan menjerit, bagaimana jadinya kalau Feby bunting oleh lelaki tak bertanggung jawab. Seketika tubuh ku terasa lunglai. Seperti hentakan kereta api yang menabrak sebuah kendaraan, yang membuat seluruh penumpangnya terhenyak, dada ku turun naik, tak karuan.


"Apa maksud teriakanmu, Tampan," ibu ku tak habis pikir.


"Aku mencintai Feby, Bu"


"Kamu mencintai Feby! Jadi kamu telah melakukan perbuatan haram itu," ibu ku mulai serak, suranya parau seperti hendak menangis.


"Aku tak sudi jika dia dihamili orang lain,"


"Jadi bukan kamu pelakunya," ibu ku mulai menarik nafas lega.


Aku menggeleng, membuat Ibu menatap ku dan memegang pipi ku.

__ADS_1


"kamu tahu kan sayang kalau itu terjadi reputasi keluarga ini sebagai keluarga terhormat dan terpandang bakal sirna dalam sekejap mata, pantangan bagi keluarga leluhur kita untuk menodai ajaran agama. Leluhur bisa mengutuk kita, dan Tuhan akan menurunkan ajab pada kita juga,"


"Ibu rasa surat ini salah alamat" lanjut ibu ku kemudian setelah kami terdiam beberapa waktu.


"Surat apa itu, Bu?"


"Surat dari sekolah," kata ibu ku sambil menyerahkan surat itu pada ku.


Aku yang penasaran segera membaca isi surat itu dengan seksama. Mata ku membesar beberapa bagian surat karena terkait sakitnya Feby Romansa, di timbulkan oleh perbuatan terduga Tampan Menawan.


"Aneh!" kata ku pelan. Jadi Feby sakit, ibu ku sudah menduga dia hamil, aku menepuk jidat. Tapi apa gerangan sakitnya terkait diriku.Seribu pertanyaan kembali bertahta di hati ini. lalu mencoba menghubungkan dengan keganjilan sikap Feby waktu di rumahnya tempo hari.


"Awas saja kalau surat itu salah alamat, saya akan tuntut itu sekolah, sampai bangkrut sekalipun," ibu ku mulai meluapkan kemarahannya. Di hadapan ku ibu ibarat dua sisi sifat manusia, terhadap sebuah kekeliruan dia akan sangat garang, namun akan berbaik hati jika terkait rasa kemanusian, dengan cepat ibu ku akan membantu secara materil. Tas  ibu ku yang seperti ATM, berisi uang hingga ratusan juta yang dia bawa kemanapun ia pergi dan siap membantu setiap kesusahan yang ia jumpai.


"Atau jangan-jangan sekolah itu hendak mencoba merusak reputasi keluarga kita dengan bekerja sama dengan pihak lain yang ingin menghancurkan raksasa bisnis keluarga ini," kata ibu ku lagi.


"Tentu tidak ibu," ucap ku mencoba menenangkan ibu ku.


"Kita lihat saja esok" kata ibu ku, lalu berlalu dari kamar ku, aku kembali menutup pintu kamar dan sejuta pertanyaan tentang Feby kembali menyelubungi ku.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung.....


__ADS_2