
NEW YORK
Kini Lucas dengan sangat gelisah menunggu kedatangan Zoya, Lucas berharap Zoya bersedia menerima lamaranya dan ikut pulang ke Prancis hanya dengan begitu Lucas bisa membatalkan pernikahanya dengan Elena dan hidup bahagia bersama Zoya.
"Sayang di sini " teriak Lucas memanggil Zoya.
" Sayang, apakah kamu sudah menunggu lama " tanya Zoya.
" Belum selama itu sayang, aku akan selalu menunggu jika itu untukmu" ucap Lucas.
" Kamu bisa saja , oh ya memang ada hal penting apa yang mau kamu sampaikan " tanya Zoya.
" Sayang, sebenarnya,aku sudah memikirkan ini dengan matang, ayo kita menikah dan kembali ke Prancis " kata Lucas dengan sedikit ragu.
Perkataan Lucas membuat Zoya tercengang, ia merasa semua itu terlalu mendadak dan sangat terburu-buru.
" Luc, apakah kamu bercanda, jika iya itu sangat tidak lucu" ucap Zoya.
"Zoy, aku serius, ayo menikah, kita sudah berpacaran selama dua tahun menurutku itu waktu yang cukup untuk mengenal satu sama lain "
" Tapi menurutku itu terlalu terburu-buru Luc " ucap Zoya.
" Dua tahun itu bukan waktu yang singkat Zoy, kita sudah cukup mengenal " ucap Lucas.
Zoya dan Lucas terus saja melakukan perdebatan kecil, dan belum menemukan titik terang dalam pembicaraan mereka sampai pada akhirnya Zoya memutuskan dengan serius.
" Luc, tunggulah aku dua tahun lagi, tidak, tidak cukup satu tahun lagi, setelah aku meraih cita-citaku dalam satu tahun mari kita menikah " ucap Zoya.
Lucas tidah habis pikir ternyata Zoya lebih mementingkan cita-citanya dalam berkarir menjadi model dari pada menerima lamaranya.
" Maaf Zoy, aku tidak bisa menunggu selama itu, sekarang kamu pilih menikah denganku dan pulang ke Prancis atau kita akhiri hubungan kita sekarang " kata Lucas memberi Zoya pilihan.
" Luc, kamu tidak bisa seenaknya saja memutuskan seperti itu, tidak bisakah kamu menungguku walau hanya satu tahun " ucap Zoya.
Lucas sendiri pun tidak punya pilihan, jika dirinya tidak bisa menikah dengan Zoya dan membawa Zoya pulang, maka Lucas harus menerima pernikahan antara dirinya dan Elena.
" Pilihlah sekarang Soy, keputusan ada ditanganmu " ucap Lucas.
Zoya sendiri pun tidak bisa melepaskan impianya yang sudah didepan mata, tapi ia juga tidak bisa melepaskan Lucas begitu saja.
" Maaf Luc, aku tidak bisa menerima lamaranmu, aku masih ingin mengejar impianku " ucap Zoya.
" Berarti mulai dari sekarang kita adalah orang asing, aku doakan semoga kamu bisa mewujudkan impianmu, selamat tinggal " ucap Lucas sambil berlalu pergi meninggalkan zoya.
Lucas dengan hatinya yang hancur pun berlalu meninggalkan Zoya, ia berpikir Zoya sangat mencintainya jadi jika Lucas melamar Zoya maka akan diterima dengan senang hati, tapi malah sebaliknya, Zoya lebih mementingkan impianya menjadi model.
Sedangkan Zoya yang juga masih merasa sedih menangis ditempat,
ia tidak menyangka bawa ia dan Lucas akan putus seperti itu.
__ADS_1
Lucas pun pergi ke apartemen dimana ia tinggal bersama Uncle Casaro dan Gino juga, ia berpikir bahwa ia akan memberitahu Gino bahwa ia akan pulang ke Prancis.
Setibanya diapartemen Lucas bingung karena Gino tidak ada ditempat, Lucas pun segera menghubungi Gino dan menanyakan keberadaanya.
Tut,tut
" Halo Gino kamu sekarang ada dimana " tanya Lucas lewat sambungan telfonnya.
" Oh, apakah ini Lucas, apa kamu sekarang berada di New York " tanya Gino.
"Iya, ini aku sedang di apartemen, saat aku masuk tempat ini seperti rumah hantu karena seperti sudah lama tidak ditempati "
" Maaf Luc, tapi aku sudah kembali ke Prancis untuk membantu keluarga, kamu tahu sendiri kan aku bukan orang berada seperti kamu"
" hentikan ocehanmu apakah terjadi sesuatu dalam keluargamu "
" Ya begitulah, ceritanya panjang "
" Oke, saat aku tiba di Prancis mari kita bertemu dan bercerita masalah satu sama lain "
" Baiklah sampai jumpa di Prancis " ucap Gino mengakhiri panggilan.
Lucas pun dengan segera memesan tiket pesawat kembali ke Prancis, ia sudah menyerah akan kisah cintanya bersama Zoya.
ia memutuskan mengubur semua kenangnya bersama Zoya di New York dan terpaksa menerima pernikahanya.
*****
Sejak pagi hari Elena sudah keluar rumah dengan Hendri, ia meminta ditemani Bendri untuk berlatih.
Tentu saja tanpa sepengetahuan tuan Yustaf, Elena hanya pamit jika dirinya akan ikut ke kantor Hendri, Elena berlatin dengan sangat keras hanya dengan begitu ia akan melupakan masalah yang tengah ia hadapi.
"El sudah cukup, apa kamu tidak lelah dari tadi terus berlatih " ucap Hendri.
" Kak apakah kPKakak tahu jika dengan berlatih aku bisa melupakan semua masalah yang ada " ucap Elena.
" Masih dengan masalah pernikahan " ucap Lucas.
" Iya, memangnya apa lagi " ucap Elena.
" Kenapa harus dibuat susah sih El, kamu kan tinggal menikah saja lalu tulis perjanjian antara kamu dan orang itu tanpa sepengetahuan keluarga, begitukan beres " ucap Hendri melantur.
Elena memikirkan perkataan Hendri dengan sangat serius
" *I**ya bagaimana bisa aku menjadi stupid begini, aku kan bisa mengajukan perjanjian pernikahan tertulis dengan orang itu* " batin Elena dalam hati.
" Terimakasih banyak ya Kak atas sarannya " ucap Elena sambil berlari memeluk Hendri.
Hendri menjadi salah tingkah, jantungnya berdebar dengan keras sedangkan wajahnya menjadi merah padam karena pelukan mendadak dari Elena.
__ADS_1
" Ya ampun, jika saja kita sudah tidak terikat sebagai keluarga, aku pasti sudah menyatakan perasaanku padamu " batin Hendri dalam hatinya.
" Bisakah kalian tidak usah berpelukan ditempat umum " ucap Nico menyadarkan Elena dan Hendri.
" Shit , selalu saja ada dia dimanapun aku berada, memangnya dia hantu ya selalu muncul tiba-tiba " gumam Elena.
"Kamu kenal sama dia El " tanya Hendri.
" Iya kita aku dan dia berteman baik, apakah ada masalah" ucap Nico menyela pembicaraan elena dan hendri.
" Siapa yang teman siapa " kata Elena ketus.
" Oh, jika bukan teman apakah, pacar " goda Nico.
" Iihh, percaya diri sekali kamu " ucap Elena.
" Sudah hentikan, Elena ayo kita pulang " kata Hendri sedikit kesal.
"Oh, jadi wanita ini bernama elena " batin Nico dalam hati.
" Tunggu " ucap Nico sambil menarik pergelangan tangan Elena.
"Singkirkan tanganmu darinya " ucap Hendri dengan marah.
Elena yang melihat Hendri dan Nico merasakan Atmosfer yang sangat menakutkan, ia bingung harus memisahkan mereka dengan cara seperti apa.
" Emm, Kak Hendri sebenarnya dia memang temanku , tapi aku sedikit kesal dengannya jadi untuk kali ini biarkan aku selesaikan masalah denganya dulu, boleh kan " ucap Elena berbohong.
" Apakah benar dia temanmu ? " tanya Hendri.
"Benar Kak, apakah Kak Hendri tidak percaya padaku, pernahkan aku berbohong " ucap Elena.
" Baiklah hanya untuk kali ini saja, Kakak akan kembali ke kantor dulu jika ada sesuatu segera hubungi Kakak " ucap Hendri .
" Maafkan aku Kak **H***endri, kali ini aku berbohong kepadamu* " batin Elena.
"Baiklah teman kita pergi sekarang, ada beberapa urusan yang harus kita selesaikan " ucap Nico.
" Apakah kamu puas " ucap Elena kesal.
Kini Nico pun membawa Elena pergi kesuatu tempat, Elena terpaksa mengikuti karena jika tadi Elena tidak memisahkan Hendri dan Nico mugkin akan ada pembantaian ditempat.
.
.
.
.
__ADS_1
Like n coment sangat membantu 🙏🙏😊😊 jika ada poin lebih bisa vote juga.
Terimakasih karna msih setia membaca Kisah Elena, jgn sungkan memberi kritik dan saran ya para kakak 😉😉 see you