
Elena merasa hari berlalu dengan sangat lama. Sudah lima hari sejak kepergian Lucas ke Rusia. Hari-hari dijalani Elena dengan sepi karena ia merasa merindukan Lucas.
"Sayang, sabar ya! kita akan memberi Daddy kejutan saat ia pulang nanti!" gumam Elena sambil membelai lembut perutnya yang masih rata.
Selama Lucas pergi Elena sering pergi keluar bersama Hendri, hanya sekedar mencari makanan yang di inginkan Elena dan juga sekedar jalan-jalan saja.
Elena belum memberitahu Hendri prihal kehamilannya, yang tau hanya Aera saja. Aera sering mengirimkan berbagai makanan atau cemilan manis untuk Elena.
"Bibi Mei! aku akan pergi keluar sebentar!" pamit Elena.
"Non El! apa perlu saya temani?" tawar bibi Mei.
"Tidak usah! aku hanya akan berjalan disikitar sini saja!" tolak Elena.
"Baiklah! non Elena harus berhati-hati ya! dan jangan lama-lama!" ucap bibi Mei.
"Baik!" jawab Elena sambil tersenyum
Elena pun keluar dari rumah dan berniat mencari udara didekat rumah saja. Saat Elena sudah keluar tiba-tiba Zoya menyelinap masuk kedalam rumah Lucas.
Zoya masuk ke kamar Elena diam-diam dan mengambil sesuatu.Zoya merasa aman karena ia mendapatkan apa yang ia cari dan tidak ada yang melihatnya.Namun tiba-tiba bibi Mei datang dari lantai bawah.
"Nona Zoya! apa yang anda lakukan disini?" kaget bibi Mei yang melihat Zoya.
"Bi...bibi Mei!" ucap Zoya yang panik.
"Apa yang nona Zoya pegang?" tanya bibi Mei lagi.
"Aku tidak memegang apa pun!" dalih Zoya.
Bibi Mei merasa curiga dan berusaha mengambilnya dari tangan Zoya. Zoya merasa panik dan bingung karena bibi Mei tidak mau berhenti dan akhirnya bibi Mei berhasil mendapatkan apa yang Zoya ambil dari kamar Elena.
"Jadi non Elena....!" belum sempat selesai bicara Zoya merebut kembali dan mendorong bibi Mei hingga terjatuh kebawah.
Bruuk...! Darah keluar begitu banyak dari kepala bibi Mei. Zoya yang melihat menjadi bertambah panik, ia takut jika seseorang melihatnya mendorong bibi Mei dari atas tangga.
"Bagaimana ini! apakah dia akan mati? aku tidak mau masuk penjara!" gumam Zoya.
Saat Zoya mau melihat bibi Mei. Tiba-tiba Zoya mendengar suara langkah kaki, Zoya menjadi panik dan bertambah takut. Zoya memutuskan bersembunyi dibalik meja.
"El! Elena!" panggil Hendri.
Seperti biasa Hendri datang untuk mengajak Elena makan dan berjalan-jalan. Saat merasa rumah Elena menjadi sangat sepi, Hendri merasa tidak seperti biasanya.
Hendri berniat ke kamar Elena,namun ia melihat bibi Mei sudah tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah. Hendri pun membangunkan bibi Mei yang sudah sekarat itu.
Hendri pun menghubungi ambulans dan juga polisi. Zoya yang mengetahui bahwa Hendri menghubungi polisi menjadi semakin takut. Tiba-tiba Zoya datang dari belakang dan memukul kepala hendri dengan vas bunga yang ada di atas meja.
Praak! Suara vas yang menghantam kepala Hendri. Hendri pun jatuh tak sadarkan diri tanpa tau siapa yang memukulnya. Kepala Hendri tentu saja mengeluarkan banyak darah.
Sedangkan bibi Mei yang sekarat masih setengah sadar, melihat Hendri terjatuh disebelahnya. Di saat dekit terakhir bibi Mei masih mencemaskan Elena.
"Bagaimana ini! apakah mereka berdua mati?" gumam Zoya yang ketakutan.
Zoya pun memutuskan menghubungi Nico kakaknya. Sebagai kakak Nico sangat peduli terhadap adiknya, Nico pun bergegas datang ketempat Zoya, sebelum ambulans dan polisi tiba.
"Apa yang kamu lakukan? bagaimana ini semua bisa terjadi?" tanya Nico yang baru datang dan melihat Zoya tampak kacau.
__ADS_1
"A...aku tidak mau masuk penjara! tolong kali ini saja lakukan apapun agar aku selamat!" pinta Zoya kepada Nico.
Melihat Zoya yang ketakutan Nico menjadi kasihan dan menenangkan Zoya dengan lembut.
"Tenanglah! semua akan baik-baik saja. Hem?" ucap Nico lembut.
Dari sudut pandang Nico, Zoya hanya berusaha melindungi diri dari seorang pria yang mencoba melec*hkannya.Karena melihat Hendri jatuh terkapar dilantai. Namun sebenarnya Zoya adalah wanita yang berbahaya.
Nico menghapus semua sidik jari Zoya.Namun sebelum Nico selesai polisi dan ambulans sudah tiba.Nico menyuruh Zoya kabur terlebih dulu lewat pintu belakang dan sisanya akan diselesaikan Nico.
Nico pun tertangkap polisi untuk menggantikan Zoya. Hendri yang masih kritis dibawa kerumah sakit sedangkan bibi Mei sudah meninggal ditempat karena banyak mengeluarkan darah.
...****...
Disisi lain saat Elena berniat untuk pulang tiba-tiba ada segerombol orang yang membekapnya dengan obat bius dari belakang. Elena pun terkulai tak sadarkan diri. Orang-orang tersebut langsung membawa Elena masuk kedalam mobil.
"Tuan! kami sudah berhasil menangkapnya!" ucap salah satu seseorang tersebut dari balik telefon.
"Bagus! segera bawa kemarkas! Ah! jangan lupa suruh seseorang memakaikannya gaun yang cantik!" perintah Hans.
"Baik kami mengerti!" ucap salah satu bawahan Hans, dan mengakhiri panggilan.
Zoya pun bergegas pergi menemui Hans. Setibanya dimarkas Hans, Zoya pun menampar pipinya sendiri sampai berdarah dan lebam.
"Apa yang kamu lakukan? apa kamu sudah gila?" tanya Hans kaget.
"Diamlah! ini agar rencana kita berhasil! ingat jangan melukai wanita itu, cukup aku yang seperti ini. Apa kamu sudah menghubungi Lucas?" ucap Zoya.
"Belum!" jawab Hans.
"Dasar bod*h! apa kamu tidak tau Lucas berada di Rusia! segera hubungi dia sekarang!" ucap Zoya memerintah Hans.
Lucas sangat terkejut mendengar apa yang terjadi dirumahnya.
"Apa kalian sudah gila? bagaimana sampai Elena tidak ditemukan?" tanya Lucas sambil berteriak ditelefon.
Tak lama setelah Lucas mematikan panggilannya, ia mendapat panggilan dari Hans yang memberitahukan bahwa Elena ada bersamanya.
Lucas pun langsung bergegas menuju bandara, ia memberitahu Riven salah satu tangan kanannya agar segera menyiapkan jet pribadi miliknya.Riven tanpa bertanya langsung melaksanakan perintah Lucas.
Sekitar 6 sampai 8 jam perjalanan akhirnya Lucas tiba di Prancis. Lucas pun bergegas kemarkas Hans.
Dini hari, di Prancis.
Disisi lain saat Elena sadar ia sudah terikat di sebuah papan dijembatan bersama Zoya yang terlihat lembam disekitar wajahnya.Disaat Sean mau menyelamatkan Elena, ia justru tertangkap.
"Wah,wah! ternyata tuan Hero sudah datang!" ucap Hans sombong.
"Aku akan lakukan apapun! asalkan kamu lepaskan non Elena!" ucap Sean.
"Benarkah! bahkan jika ditukar dengan nyawamu apa kamu setuju?" tanya Hans.
Tanpa berpikir panjang Sean langsung menjawab. "Aku setuju!" jawab Sean.
"Sean! tolong jangan bertindak bodoh! aku mohon larilah selamatkan dirimu!" teriak Elena.
__ADS_1
Karena Hans sudah mempunyai dendam dengan Sean, tanpa ragu Hans langsung menembak Sean ditempat.
Doorr...! Suara tembakan yang mengarah ke Sean.
"Tidak! Sean! tolong bangung! Sean!" teriak Elena histeris.
Beberapa saat kemudian Lucas tiba ditempat Elena disandra.
"Wah! ternyata tuan Lucas yang terhormat datang lebih cepat dari dugaanku!" ucap Hans sombong.
"Apa yang kau inginkan? lepaskan Elena sekarang juga!" ucap Lucas marah.
"Tenang-tenang! aku hanya menginginkan jawaban darimu tuan Lucas!" ucap Hans.
"Apa maksudmu?" tanya Lucas heran.
"Diantara dua wanita itu mana yang mau kau selamatkan? istrimu atau kekasih hatimu?" Hans berkata dengan percaya diri.
Lucas yang melihat Elena dan Zoya menjadi bingung, sebab Lucas berhutang budi kepada Zoya. Namun ia tab bisa melepaskan Elena.
Lucas yang melihat Zoya penuh dengan luka dan lebam menjadi semaki kasihan, ia berpikir setelah ia menyelamatkan Zoya, Leo akan segera tiba dan menyelamatkan Elena.
"Tuan Lucas! aku menunggu jawabanmu!" ucap Hans.
"Aku...! Aku memilih menyelamatkan Zoya!" ucap Lucas ragu.
Elena yang mendengar menjadi terluka dan kecewa, ia berpikir ternyata Lucas masih mencintai Zoya dan bukan dirinya.
"Wah! kau sangat pintar tuan Lucas! berarti nona Elena akan menjadi istri ketigaku!" ucap Hans senang.
"Cepat lepaskan mereka!" perintah Hans.
Saat Lucas menyelamatkan Zoya, tak lama kemudian Elena pun dilepaskan oleh anak buah Hans. Lucas membantu dan memapah Zoya.
Elena yang melihat Lucas sangat perhatian kepada Zoya merasa semakin sakit hati, saat Elena akan turun dari atas jembatan tiba-tiba istri kedua Hans datang dan meraih pistol yang ada di tangan Hans.
Doorr!. Suara tembakan pun terdengar disepanjang jembatan. Semua orang heran dan mencari arah suara tersebut dan ternyata Elena yang tertembak dibagian dada kanan atas.
"Apa kamu gila? apa yang kamu lakukan dasar wanita bod*h!" Hans marah kepada istri keduanya.
"Sa...saya tidak rela jika kamu menjadikan wanita itu istri ketigamu!" ucap wanita tersebut.
Hans marah dan menyuruh anak buahnya mengurus istri keduanya itu, sedangkan Lucas yang melihat Elena terus mengeluarkan darah menjadi sangat khawatir.
"Kami menyayangimu! tapi semua itu sudah berakhir bagi kita!" kata terakhir Elena sebelum jatuh ke air.
Byurr!. Dengan penuh darah dan rasa kecewa Elena jatuh kedalam air.
"Tidak! Elena....!" teriak Lucas.
"Semuanya cari wanita itu sampai dapat! bahkan jika itu hanya mayatnya!" perintah Hans.
Lucas sangat terpukul melihat Elena yang tertembak dan jatuh ke dalam air. Lucas panik ia takut jika harus kehilangan Elena bahkan ia belum mencerna kata-kata terakhir Elena.
Zoya merasa sangat senang karena rencananya berjalan dengan sempurna, bahkan istri kedua Hans juga termakan oleh hasutan Zoya.
__ADS_1
Jangan lupa like,coment dan vote juga ya, Terimakasih bagi yang sudah setia membaca.