KISAH ELENA (Si Gadis Mafia )

KISAH ELENA (Si Gadis Mafia )
Meninggalnya Marisha.


__ADS_3

Pagi hari saat Elena akan berangkat ke kantor. Tiba-tiba ponsel Elena berdering tertera nomor asing dilayar ponselnya.


"Huh! siapa yang menelponku sepagi ini." gumam Elena.


Elena pun menjawab panggilan tersebut dan kaget sampai tidak bisa berkata apa pun.Setelah Elena menerima panggilan tadi, ia dengan cepat-cepat bersiap keluar sekaligus berangkat ke kantor.


Tok,tok,tok


"El,ini aku!" ucap Lucas.


"Ada apa pagi-pagi Kak Lucas tumben datang kekamar, apa jangan-jangan mau membahas soal kemarin."gumam Elena.


"Iya Kak, masuk saja,"ucap Elena.


Saat Lucas membuka pintu kamar Elena betapa terkejutnya ia melihat Elena yang masih berpakaian santai.



"Ada apa! Kak Lucas tumben pagi-pagi ke kamarku." ucap Elena.


Lucas yang memandang Elena begitu terpesona sampai-sampai saat Elena bertanya Lucas tak mendengarnya, merasa aneh Eleba pun menggogang-goyangkan tangan kanannya didepan wajah Lucas guna menyadarkanya.


"Kak Lucas kenapa sih?" tanya Elena.



"Cantik!" gumamnya Lirih.


"Apa Kak!" tanya Elena.


"Em, maksud aku, kenapa pagi-pagi sekali kamu sudah bermake up," kata Lucas yang sedikit tidak nyambung.


"Ya! jelas mau kekantor." jawab Elena.


"Kenapa pagi-pagi sekali, biasanya juga kamu masih tidur!" ucap Lucas.


"Karena sebelum ke kantor aku ada urusan, jadi mau berangkat pagi." ucap Elena.


"Ada urusan! sama siapa lelaki atau perempuan?" ucap Lucas penuh dengan pertanyaan.


"Sama perempuan! apakah Kak Lucas puas,sekarang keluarlah aku masih mau bersiap." ucap Elena.


"Puas! baiklah aku keluar sekarang." ucap Lucas sambil tertawa puas.


Terkadang Lucas menjadi bingung karena saat bersama Elena ia merasa nyaman dan senang, namun ia berpikir hatinya masih milik Zoya.


Saat dalam perjalanan Elena meminta Sean mengantarnya kesebuah cafe yang dekat dengan kantornya, karena Elena ada janji dengan seseorang disana.


"Non El, apa tidak sebaiknya aku ikut masuk?" tanya Sean.


"Tidak perlu, ini cuma sekedar masalah kecil, kamu tidap perlu turun tangan." jawab Elena.


"Baiklah, aku akan menunggu Nona disini." ucap Sean.

__ADS_1


Elena pun masuk kecafe sendiri, karena menurut Elena ia harus menghadapi orang itu sendiri.


"Kamu sudah datang! duduklah." ucap Zoya.



"Ada apa? kamu pagi-pagi menelponku dan mengajak bertemu." tanya Elena malas.


"Sebeleunmya kita sudah mengetahui nama masing-masing bukan, jadi aku akan langsung ke intinya saja. Aku adalah mantan pacar Lucas dan satu-satunya wanita yang menempati hati Lucas." ucap Zoya.


"Jadi?" tanya Elena singkat dan dingin.


Karena bagi Elena ini bukanlah apa-apa dibandingkan saat Elena berhadapan dengan musuh-musuhnya hingga bertaruh nyawa.


"Ja,jadi! kamu bertanya jadi," ucap Zoya tidak percaya.


"Iya, aku bertanya jadi memanganya kenapa kalau kamu mantan pacarnya Kak Lucas? asal kamu tau walaupun kamu mantan pacar Kak Lucas tapi Istri Sah Kak Lucas adalah aku, soal hati siapa yang bisa memastikan kalau hati Kak Lucas masih milikmu." ucap Elena dengan percaya diri.


"Huh! ap,apa kamu bilang?" tanya Zoya yang tidak percaya ada wanita seperti Elena, karena kebanyakan wanita yang Zoya tau, saat seorang wanita mengetahui suami atau kekasih yang masih menyimpan mantan dihatinya akan maraha atau menangis sejadi-jadinya.


Tapi berbeda dengan Elena, walaupun ia mengetahui bahwa Lucas masih memiliki perasaan kepada Zoya, Elena tak bergeming sedikit pun dan malah terkesan dingin.


"Aku rasa perkataanku tadi cukup jelas! jika tidak ada yang penting aku pergi dulu, karena ini sudah waktunya masuk ke kantor." ucap Elena sambil berlalu meninggalkan Zoya.


Zoya pun tidak pernah menyangka jika usahanya membuat Elena mundur ternyata malah gagal, justru Zoya yang menjadi malu.


...****...


Saat waktu pulang kerja Elena mendapat panggilan dari Yunus yang menyuruh Elena untuk datang ke kediaman utama Yustaf. Disaat yang bersamaan Lucas pun juga mendapat panggilan dari Kristina yang menyuruh Lucas datang ke kediaman utama Yustaf.


"Tapi ak6 harus....!" ucap Elena yang belum selesai.


"Iya, aku tau kita harus kerumah utama keluarga Yustaf." ucap Lucas.


"Kak Lucas juga mau kesana?" tanya Elena.


"Iya tadi mama menelponku menyuruh kita cepat-cepat kesana."ucap Lucas sambil melanjujan mobilnya.


"Ada apa ya Kak? kenapa para orang tua menyuruh kita kesana, apa jangan-jangan mereka sudah tau kalau kita menikah atas dasar perjanjian." ucap Elena.


"Sudah, jangan memikirkan masalah yang tidak penting, lebih baik kita kesana dulu." ucap Lucas tenang.


"Bagaimana mungkin para orang tua tau kalau kita menikah atas dasar perjanjian, yang pasti tidak akan ada orang yang tau, karena aku sudah membakar surat-surat tidak penting itu." batin Lucas dalam hati.


Setibanya Elena dan Lucas sudah ada Yunus yang menunggu mereka, Elena pun bertanya-tanya karena tumben Mama dan Kakeknya tidak menjemput dirinya, karena ia tau Hendri sedang ada tugas diluar Negri.


"Uncle! tumben sepi, dimana Mama sama Kakek? karena aku tau Kak Hendri sedang bertugas keluar, jadi aku tidak heran kalau dirinya tidak disini." ucap Elena.


"Em! mereka ada didalam El." ucap Yunus.


"Kalau begitu Elena masuk dulu ya Uncle." ucap Elena.


"Iya, masuklah!" jawab Yunus.

__ADS_1


Elena dan Lucas pun masuk kedalam rumah mereka, saat Elena masuk ia merasa heran kenapa rumah ya terasa sepi, semakin Elena memasuki rumah Elena semakin tidak tenang, apa lagi Elena melihat Dokter Mario berada dirumah Kakeknya.


"Lho! Dokter Mario disini, siapa yang sakit? tanya Elena.


"Lebih baik Nona Elena langsung ke atas saja." jawab Dokter Mario.


Elena pun dengan sedikit berlari menuju ke atas, dimana ruang perawatan dirumah Kakeknya itu berada.


Saat Elena membuka pintu ruangan tersebut betapa terkejutnya Elena melihat Marisha terbaring lemah.


"Kakek! apa yang terjadi dengan Mama? kenapa Mama bisa seperti ini Kek," ucap Elena penuh pertanyaan.


Elena pun tak kuasa menahan air matanya, begitu juga dengan Yustaf yang melihat putri satu-satunya terbaring kritis sedangkan cucunya menangis tersedu-sedu.


"Mama kamu mengalami kecelakaan, saat akan berkunjung kerumah kamu." jawab Yustaf.


"Ba,bagaimana itu bisa terjadi Kek, apa Mama tidak membawa bodyguard?" tanya Elena.


"Marisha membawa dua bodyguard tapi, entah bagaimana kecelakaan itu tetap terjadi, Kakek juga tidak tau sayang!" ucap Yustaf sambil menangis.


Mendengar suara tangisan Anak dan Ayahnya, Marisha pun tersadar ia dengan sekuat tenaga ingin berbicara dengan Elena. Dengan perlahan tangan Marisha membuka selang Oksigen yang terpasang pada dirinya.


"Sayang! Mama baik-baik saja." ucap Marisha perlahan.


"Mama! Kak,Kak Lucas cepat panggilkan Dokter Mario kesini." ucap Elena kepada Lucas.


Saat Lucas hendap pergi memanggil Dokter Mario, Marisha mencegah Lucas untuk pergi keluar.


"Ja, jangan Nak! kamu tetap disini, ada yang mau mama katakan." ucap Marisha lemah.


"Ba,baik!" jawab Lucas.


"Ma, kenapa Mama bisa seperti ini? apa yang terjadi Ma?" tanya Elena.


"Sayang, Mama tidak apa-apa. Tolong dengarkan Mama!" ucap Marisha.


"Ap,apa yang mau Mama katakan?" tanya Elena sambil berderai air mata.


"Sayang! Mama bahagia sekali bisa terlahir menjadi Mama kamu. Tolong berbahagialah hidup bersama suami kamu dan jaga Kakek ya sayang." ucap Marisha.


"Apa yang Mama bicarakan! tentu Elena akan menjaga Kakek dan juga Mama dan Elena juga akan hidup bahagia bersama Kak Lucas." ucap Elena.


Marisha hanya tersenyum lembut mendengar perkataan putri tercintanya itu.


"Lucas, aku percayakan Elena dan Papa sama kamu ya, tolong jaga mereka." ucap Marisa sambil terbatuk-batuk.


Dengan tersenyum manis ,tangan Marisha pun membelai lembut pipi Elena, menandakan bahwa Marisha sangat menyayangi Elena. Namun beberapa saat kemudian tangan Marisha terkulai lemas dan Marisha mulai menutup matanya.


Elena yang menyadari tangan Mamanya yang jatuh pun menjadi panik dan menangis histeris.


"Ma, Mama, bangun Ma, Mama kenapa? ayo buka mata Ma." ucap Elena sambil terisak tangis.


Lucas yang menyadarinya pun cepat-cepat memanggil Dokter Mario. Dengan segera Dokter Mario pun bergegas memeriska kondisi Marisha.

__ADS_1


Dengan berat hati Dokter Mario memberitahukan bahwa Marisha sudah pergi. Mendengar kabar duka pun Elena tak kuasa menahan tangis dan akhirnya terjatuh pingsan.


__ADS_2