Kita Berbeda Tetapi Kita Satu

Kita Berbeda Tetapi Kita Satu
Bab 17 Bisa Main Piano


__ADS_3

Saat papa sudah selesai bernyanyi. Aku dan Astrid langsung masuk kedalam.


"Wahh suara papa bagus juga ya. Bisa main piano lagi" ucap ku memuji papa.


Hahaha kamu bisa saja nak, papa mana bagus suara nya. Suara papa aja kayak petir sahut papa kepada ku.


Apaan sih pa, suara papa sebagus itu di bilang suara petir jawab ku membalas perkataan papa.


"Ya udah ya udah. Sekarang kita nyanyi-nyanyi dulu ya. Tugas kalian gimana? udah siap kan?


Kalau belum siap di kerjakan dulu lagi" sahut mama Indah.


"Iya mama, tugas kami sudah siap kok ma. Maka nya kami berdua datang kesini" jawab ku dan Astrid bersamaan.


Baiklah kalau begitu. Sekarang siapa nih yang nyanyi. Biar papa yang mainin piano nya ucap papa kepada kami.


"Ini pa, coba Antonius yang nyanyi. Dia ini jago loh pah nyanyi. Nga kaleng-kaleng" sahut Astrid kepada papa.


Apaan sih Ast. Suara ku mana bagus


jawab ku kepada Astrid.


"Tidak apa-apa. Ayo sini nak kesamping papa. Kita nyanyi bareng" ucap papa memanggil ku.


Iya deh pa. Tapi kalau suara Antonius nga bagus jangan di ketawain ya pa ma.


Iya iya. Mana mungkin papa sama Mama marah sama kalian berdua. Kalian kan kesayangan nya papa sama Mama sahut papa kepada ku.


Aku langsung berjalan ke arah papa dan langsung duduk di depan Piano. Aku langsung mulai menekan tuts-tuts piano itu.


"Namaku cinta ketika kita bersama


Berbagi rasa untuk selamanya


Namaku cinta ketika kita bersama

__ADS_1


Berbagi rasa sepanjang usia


Hingga tiba saatnya aku pun melihat


Cintaku berkhianat


Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi


Aku tenggelam dalam lautan luka dalam


Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang


Aku tanpamu butiran debu


Namaku cinta ketika kita bersama


Berbagi rasa untuk selamanya


Namaku cinta ketika kita bersama


Berbagi rasa sepanjang usia


Hingga tiba saatnya aku pun melihat


Cintaku berkhianat


Menepi


Menepilah


Menjauh


Semua yang terjadi


Antara kita

__ADS_1


Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi


Aku tenggelam dalam lautan luka dalam


Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang


Aku tanpamu butiran debu


Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi


Aku tenggelam dalam lautan luka dalam dalam luka dalam


Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang


Aku tanpamu butiran debu


Butiran debu"


(Butiran debu dari Terry Shahab)


Setelah Antonius selesai bernyanyi, Astrid dan juga mama papanya terpukau dengan permainan lagu Antonius. Mereka berpikir bahwa Antonius tidak bisa bernyanyi karena ucapan nya tadi.


"Wahh ini beneran suara kamu Antonius?


Atau jangan-jangan kamu lipsing ya maka nya suara nya bagus" ucap Astrid kepada Antonius.


"Mana mungkin Antonius berbohong sama kalian Ast, tadi itu memang suara ku. Waktu SMP dulu pernah ikut ekskul seni musik tapi cuma sebentar doang karena setiap siswa harus punya minimal alat musik. Sedangkan aku, untuk makan sehari-hari saja sudah bersyukur banget. Ya bisa di bilang supaya bisa bantu ngirit biaya untukku"


Jawab Antonius kepada Astrid.


Tapi sekarang sudah bisa beli alat musiknya. Kan ada papa sama mama. Nanti kalau kita nganter Antonius pulang ke rumah, kita singgah dulu nanti di toko musik ya.


Dan tidak ada kata penolakan.


Ucap papa tegas kepadaku.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2