Kita Berbeda Tetapi Kita Satu

Kita Berbeda Tetapi Kita Satu
Bab 51 Sandaran


__ADS_3

Rumah keluarga Antonius.


Daniel dan juga teman-temannya yang lain terkejut saat Kevin membopong Antonius turun dari mobil.


"Astaga Tuhan, Antonius kenapa nak?" tanya ibu tetangga rumah Antonius.


"Pingsan bu, tadi di pemakaman," jawab Kevin.


"Ayo nak, cepat bawa masuk ke dalam!" ucap ibu itu.


Mereka langsung membawa Antonius masuk ke dalam kamarnya. Menjaga Antonius sampai Antonius sadar.


"Maafin bang Kevin ya dek! seandainya saja bang Kevin nggak paksa kamu ikut. Ayah sama ibu pasti nggak akan begini" ucap Kevin dengan nada bersalah.


"Jangan bilang gitu nak. Semua ini memang udah rencana yang di atas. Coba misalnya kalau Antonius ikut, tiba-tiba mengalami kecelakaan tadi. Jadi lapangkan hati untuk menerima semuanya," ujar ibu tetangga rumah Antonius.


"Iya Bu... makasih bu selalu support Antonius padahal kondisinya seperti ini," ucap Kevin.


"Mau bagaimana pun, Antonius itu tetap keluarga ibu. Walaupun tidak ada hubungan darah, mereka sekeluarga selalu baik. Mana mungkin ibu ninggalin Antonius gitu aja," jawab ibu itu.

__ADS_1


"Terimakasih Bu atas perhatian yang ibu berikan," balas Kevin sambil tersenyum.


......***......


Antonius sadar dan pandangannya kosong, tidak ingin ditemani siapapun, tidak punya keinginan apapun, tidak merasa lapar dan haus. Hanya ada rasa sedih dan menyesal.


Kevin, Astrid, orangtuanya dan bahkan teman-teman Antonius sendiri pun tidak bisa membantah permintaan Antonius, mereka hanya harus sabar menghadapi keadaan Antonius yang seperti ini.


"Antonius... makan yuk... Bang Kevin bawa nasi goreng kesukaan kamu nih sama ada susu strawberry juga. Yuk makan! atau kamu mau makan bareng? Abang suapin deh," ajak Kevin dengan nampan di tangannya.


Antonius tak menjawab, hanya menggeleng, memunggungi Kevin dan kembali tidur. Kevin hanya menghela nafas panjang untuk bersyukur.


...***...


Hari berikutnya.


Antonius masih murung, setelah pulang sekolah, Kevin, Astrid dan juga teman-temannya yang lain langsung mengunjungi Antonius. Mereka menggantikan ibu Siti yang sedang menjaga Antonius.


"Ibu... Antonius gimana? udah mau makan belum? Dari kemarin itu dia nggak mau makan bu," keluh Kevin.

__ADS_1


"Udah mulai respon kok nak. Dia mau makan," ujar ibu Siti.


"Benarkah? Antonius makan apa aja Bu? nambah nggak?" tanya Kevin bersemangat.


"Cuma makan 1 pisang sama segelas air putih nak!" jawab ibu Siti.


Jujur, itu bukan jawaban yang ingin mereka dengar. Tapi setidaknya itu lebih baik dari yang kemarin. Kevin dan Astrid pergi ke kamar untuk melihat keadaannya.


"Antonius... bang Kevin sama Astrid pulang, ada teman-teman juga di luar," seru Kevin.


Antonius masih saja berbaring di kasurnya. Siang malam dia hanya tidur di kamar. Pikiran di otaknya membuncah, Antonius benar-benar ingin berteriak namun seperti tidak memiliki suara.


Dia seperti kehilangan arah, hidup tanpa tujuan, seolah penderitaan selalu menantinya di mana pun dia berada.


"Antonius... bangunlah, makan... masa dari kemarin cuma makan 1 pisang doang? makan nasi lah ya. Atau kamu mau makan apa? Astrid beliin, kami akan mencarinya walaupun itu susah. Tolong Antonius, kamu ngomong dong ya... Ngomong dong dek, kamu mau apa? kami semua siap jadi sandaran kamu," seru Astrid yang mulai meneteskan air mata.


"Antonius... ngomong dek. Kakak mohon... kalau ada apa-apa cerita sama kakak, sama bang Kevin. Jangan gini dek. Kalau kamunya kayak gini ayah sama ibu pasti menangis melihat kamu. Kamu mau ayah sama ibu menderita di sana?" tanya Astrid. Dia tidak mau melihat Antonius semenderita ini. Jujur saja, Astrid sangat sedih melihat keadaan Antonius.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Author: Jangan lupa tersenyum dan bahagia.


__ADS_2