
"Ayo pulang... kita doakan yang baik-baik untuk mereka ya," ajak Kevin.
"....."
Kevin berdiri bersama Antonius, ia menggandeng pundak Antonius sambil berjalan.
"Bang Kevin..." panggil Antonius.
"Ya? Kenapa?" tanya Kevin.
"Ah... Aku..."
Antonius tak sanggup meneruskan kata-katanya. Dadanya sesak, dia kesulitan bernafas, matanya buram, pandangannya kabur, hingga akhirnya Antonius kembali lagi tak sadarkan diri.
"Dek... Antonius? Antonius... Astaga Tuhan. Kuatkan keluarga kami ya Tuhan!" panik Kevin.
Kevin dan Astrid langsung segera membawa Antonius pulang ke rumah Kevin. Dan segera menelepon dokter pribadinya.
...***...
Di rumah keluarga Kevin.
Kevin dengan cepat mengendong Antonius dan membaringkannya di salah satu kamar tamu di rumahnya.
"Astaga Tuhan... Antonius kenapa Vin?" tanya mama Kevin.
__ADS_1
"Nggak tau mah, tadi pingsan waktu di pemakaman," jawab Kevin.
"Ya Tuhan... cepat panggil kan dokter?" panik mama Kevin.
"Ya Tuhan... Antonius bangun nak... ," ujar papanya Kevin.
...***...
Tak butuh waktu lama, dokter keluarga Kevin pun datang untuk memeriksa keadaan Antonius.
"Gimana om?" tanya Kevin.
"Ia sepertinya mengalami tekanan berat pada psikisnya,"
"Sepertinya?"
"Baik om,"
"Tapi dia akan baik-baik aja kan om?"
"Kita berdoa kepada Tuhan... asal ada dukungan dari keluarga, semua pasti mudah untuknya,"
"Iya om. Makasih ya om,"
.........
__ADS_1
Setelah Antonius sadar, dokter melakukan beberapa pemeriksaan terhadap psikis Antonius. Benar saja, rasa kehilangan yang begitu besar membuatnya menjadi stres dan lebih mengarah kepada depresi. Di tambah, kematian adiknya di masa lalu, dan juga Antonius memikirkan hari dimana dia pergi jalan-jalan sedangkan orangtuanya pergi berbelanja. Perasaan bersalah semakin membuncah di hati Antonius.
"Gimana dok?"
"Beberapa orang akan baik-baik aja kalau sudah melakukan pemeriksaan. Tapi sepertinya dia anak yang tertutup, sedikit sulit memintanya untuk bercerita dengan sukarela. Memaksanya pun akan berdampak buruk padanya."
"Jadi, apa solusinya dok?"
"Terus beri dia dukungan. Buat dia merasa kalau semua akan baik-baik saja. Setelah dia mau sedikit saja bercerita, maka kemungkinan besar bahwa beban di hatinya perlahan akan menghilang. Dan sampai pada saat itu, dukungan keluarga lah yang paling dia butuhkan."
"Baik om. Aku mau kabarin teman-teman dulu. Biar sama-sama saling mendukung. Antonius juga kesayangan mereka!" ujar Kevin.
"Iya hubungi mereka Vin. Antonius juga butuh dukungan dari mereka," sela Astrid.
"Gimana kalau Kevin bawa Antonius ke rumahnya. Nanti Kevin sama Astrid tetap dampingi. Tapi kan keluarga terdekatnya cuma kita. Keluarga Antonius sendiri saja nggak mau nolong mereka," seru Kevin.
"Tidak apa-apa. Kita kan keluarga Antonius juga. Kalau sempat mereka gangguin adek kamu. Papa yang akan langsung bertindak. Enak saja mereka mau ngancurin keluarga Antonius lagi," sahut papa Kevin mulai mengeluarkan unek-unek di hatinya.
"Ya udah begitu saja. Semoga Antonius baik-baik saja," sela mama Kevin.
"Sekarang saja kamu ke sana. Papa sama mama dan juga om dan Tante bakalan nyusul ke sana nanti. Kita tidur di rumah Antonius," ujar papa Kevin.
"Iya pa,"
Kevin pun mengambil kunci mobilnya dan mengantarkan Antonius yang belum sadar ke rumahnya dan ditemani oleh Astrid.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: Jangan lupa tersenyum dan bahagia.