Kita Berbeda Tetapi Kita Satu

Kita Berbeda Tetapi Kita Satu
Bab 48 Kematian


__ADS_3

"Bang Kevin kenapa?" bang Kevin nggak lagi sakit kan?"


"Ayo pergi sekarang!" ajak Kevin


"Mau kemana bang?" tanya Antonius.


"Udah ikut aja!"


"Eh kalian mau kemana Vin. Kok langsung pulang," seru teman-temanya.


"Nanti aja ku kabari. Kalian lanjut dulu ya,"


Kevin langsung pergi menuju parkiran mobil dengan sedikit berlari, Antonius yang masih kebingungan ikut berlari agar tidak ketinggalan langkah dari Kevin.


...***...


Di dalam mobil


"Bang Kevin, kita mau kemana sih?" tanya Antonius.


"Antonius... Abang minta tolong kamu diem aja. Sebentar saja. Abang biar bisa fokus nyetir," pinta Kevin melirik Antonius.


"Ish... bang Kevin di tanyain mah jawaban nya nggak masuk akal," kesal Antonius.


......***......


Di rumah sakit


Antonius semakin keheranan dengan tingkah Kevin, apalagi sekarang dia membawa Antonius ke rumah sakit. Kepala Antonius penuh dengan segudang pertanyaan.


"Bang Kevin... ini kenapa sihh? Ngapain kita ke sini? siapa yang sakit sih bang?" tanya Antonius yang sudah kesal.


Kevin diam tak menjawab, dia hanya terus berjalan. Mempercepat langkahnya hingga mereka sampai di paviliun melati. Ruang perawatan VIP di rumah sakit kota ini. Kevin menghela nafas panjang sebelum membuka pintu.


Karena tadi Kevin di telpon oleh papanya, dia di beritahu bahwa ayah dan ibu Antonius mengalami kecelakaan besar, dan papanya meminta Kevin untuk membawa Antonius ke rumah sakit.


"Bang Kevin.... ini kenapa sihh! jelasin dong bang! jangan diem aja dari tadi, aku nggak paham! bang Kevin udah bisu ya" kesal Antonius.


"Dek... please dengerin Abang ya. Jangan ngebantah dan jangan banyak tanya dulu. Cukup liat kondisinya aja ya! bisakan?" pinta Kevin.


"Iya-iya bang, Abang dari tadi sok misterius banget," kesal Antonius.


"Janji?"


"Iya bang"


"Ayah sama ibu kamu mengalami kecelakaan tadi. Dan sekarang mereka lagi di rawat di dalam. Ada Astrid juga di sana, papa sama mama dan juga om Yanto ada di dalam, jadi Abang mohon kamu jangan bertingkat aneh-aneh nantinya," pinta Kevin.


"APA?"


"Kamu tunggu bentar di sini, biar Abang dulu yang masuk,"


Ceklek.....

__ADS_1


Dengan penuh keberanian, Kevin membuka pintu. Mamanya dan juga mamanya Astrid telah menangis duduk di sofa. Papanya dan juga papanya Astrid hanya diam bersandar di dinding, dan Astrid... Ia duduk diam di samping ranjang ayah dan juga ibunya Antonius, sambil menutupi seluruh wajahnya dengan tangannya.


"Papa! gimana keadaannya ayah sama ibu Antonius? gimana pah?" tanya Kevin.


"Kamu tenangin Antonius ya nak..."


"Pah...jangan bercanda yah! ayah sama ibu gimana?" tanya Kevin serius.


"Ayah sama ibu Antonius... udah nggak ada,"


"Pah... papa jangan bercanda ya! Kevin serius yah. Lagi nggak bercanda," ucap Kevin tak percaya.


Kaki Kevin melemas, ia langsung berbalik untuk menemui Antonius di luar. Tapi terlambat, Antonius sudah lebih dulu masuk ruangan dan mendengar semua.


"Antonius..."


"Antonius..." kaget Astrid dengan mata yang merah.


"Kakak... ayah sama ibu mana kak?" tanya Antonius dengan wajah datar.


"Antonius...."


Astrid tidak sanggup menjawab pertanyaan Antonius. Kevin berjalan mendekati Antonius.


"Bang Kevin... ayah sama ibu mana bang?"


tanya Antonius.


"Antonius..."


"Ayah... ibu... bangun ya," panggil Antonius lembut.


Kevin terkejut mendengar suara Antonius yang begitu lembut di telinganya. Sama juga dengan Astrid. Hampir setengah tahun mereka berteman, bahkan sama-sama saling menganggap keluarga, baru kali ini mereka mendengar Antonius berbicara dengan suara lembut.


"Ayah... ibu... bangun ya. Katanya ayah sama ibu mau beliin Antonius sepatu baru biar bisa berangkat pertandingan basket? ayo beli sekarang, ayo beli yah, ibu," ajak Antonius lembut sambil menggenggam tangan ayah dan juga ibunya.


"Dek...," panggil Astrid.


"Ayah... ibu... Ayo bangun yah," panggil Antonius dengan suaranya yang paling lembut.


"Antonius..."


Kevin berjalan mendekati Antonius. Dia sedikit memutar tubuh Antonius. Matanya memerah dan sudah berkaca-kaca, wajahnya datar pucat, pandangannya kosong. Kevin memeluk adiknya itu yang saat ini sedang rapuh, begitu juga dengan Astrid dia berjalan dan segera ikut memeluk Antonius.


"Ayah... ibu..." panggil Antonius dengan suara lembut.


Tak ada setetes air mata pun yang keluar dari mata Antonius, dia hanya diam dan tak berekspresi.


"Yang kuat ya dek..." ucap Kevin.


Kevin dan Astrid mendekap erat Antonius. Namun Antonius semakin melemas, Kevin keheranan tidak biasanya Antonius lemas seperti ini. Kevin sedikit melonggarkan dekapannya. Namun Antonius sudah jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


"Antonius...,"

__ADS_1


"Dek... Antonius.... sadar dek," panggil Kevin.


Semua panik, mereka langsung membaringkan Antonius dan mengusapkan minyak kayu putih agar Antonius segera sadar.


...***...


Di rumah keluarga Antonius.


Antonius masih terbaring tidak sadarkan diri, ia mulai membuka matanya. Ia terkejut sudah terbaring di kamarnya. Ada Daniel, Ronni, Sarah, dan juga Bella.


"Dan...Ron...! ayah sama ibu mana? orang tua gue mana" tanya Antonius panik.


"Antonius, yang kuat ya. Ayah sama ibu udah nggak ada," ucap Daniel.


"Ayah sama ibu mana Dan?" bentak Antonius.


"...."


Daniel, Ronni, dan juga Sarah maupun Bella, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Antonius. Antonius kehilangan kesabarannya, ia langsung berlari keluar kamar. Sudah banyak orang yang datang melihat orangtua Antonius. Mereka ber bela sungkawa atas meninggalnya orangtua Antonius. Mereka sangat kasihan pada Antonius, bahkan mereka terkejut kala mendengar kematian orangtua Antonius. Karena orangtua Antonius adalah orang yang baik, sopan. Ketika mereka mendengar pembicaraan bahwa keluarga Antonius meninggal, mereka langsung bergegas menuju rumahnya.


"Ayah sama ibu mana?" gumam Antonius.


Kevin dan Astrid yang melihat Antonius berdiri di sisi lain. Kevin menarik tangan Astrid dan pergi menghampiri Antonius.


"Dek... ikut Abang aja," ajak Kevin.


Kevin merangkul pundak Antonius, membawanya kembali ke kamarnya, dan mendudukkannya kembali di tempat tidur.


"Kalian ber-4 keluar dulu ya," pinta Kevin.


"Iya bang,"


"Dek... dengerin Abang sama Astrid di sini ya. Kamu harus kuat, Tuhan nggak akan menguji hambanya di luar kemampuannya," jelas Kevin.


Antonius hanya diam mematung, tak ada suara, apalagi gerakan air mata. Hanya diam seperti boneka hidup. Kevin kembali membawa Antonius ke dalam pelukannya.


"Antonius...jangan kayak gini, aku nggak suka kamu yang kayak gini. Kamu harus kuat, sekarang kamu ganti baju dan kita pergi makamin ayah sama ibu ya! kamu harus kuat, temui mereka buat yang terakhir kalinya. Buat kepergian mereka sebagai kepergian yang berkesan," pinta Astrid mengusap kepala Antonius.


Antonius hanya mengangguk halus. Astrid keluar menunggu Antonius dan Kevin. Kevin menemani Antonius untuk mengganti baju, Kevin takut kalah Antonius pingsan lagi. Setelah Antonius mengganti baju yang serba hitam, mereka pun keluar bersama.


"Dek, ada apa-apa jangan di pendam ya. Cerita sama Abang," pinta Kevin lembut.


Antonius hanya mengangguk halus, mereka pun mulai mengiringi dua peti mayat ayah dan juga ibu Antonius, menuju pemakaman setempat.


...***...


Di pemakaman


Antonius hanya diam memperhatikan semuanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.Semua teman-temannya juga datang. Selesai di doakan, semua orang pergi. Tinggal Antonius, Kevin, Astrid, dan juga teman-temannya yang lain.


"Kevin... papa sama mama dan juga om Yanto sama Tante ke sana dulu ya. Mau ngucapin terimakasih sama orang-orang,"


"Iya pa,"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: Jangan lupa tersenyum dan bahagia.


__ADS_2