Kita Berbeda Tetapi Kita Satu

Kita Berbeda Tetapi Kita Satu
Bab 57 Marahnya Antonius


__ADS_3

Di sekolah


Semua mata tertuju pada Antonius, tapi Antonius tidak menyadarinya. Hampir setiap gadis di sekolah langsung memandang Antonius begitu Antonius lewat.


"Ni cewek-cewek pada kenapa sih! Liat artis ya?" gumam Antonius.


Antonius cuek dan masuk kedalam kelasnya tanpa beban, ia langsung duduk di bangkunya. Daniel dan lainnya langsung mendekati Antonius.


"Antonius Lo nggak apa-apa kan?" tanya Daniel.


"Hah! emang kenapa? aku udah baikan kok!" jawab Antonius.


"Bukan masalah kesehatan...Tapi Lo bener-bener nggak apa-apa kan?" Tanya Bella.


Antonius mulai jengah dengan semua teka-teki ini! "Maksud kalian itu apa sih? Aku nggak paham!"


"Nih lihat...!"


"Daniel menunjukkan sebuah postingan yang kini sedang populer di forum siswa-siswi sekolah mereka.


@xena123


Kemarin gue liat Antonius jalan sama cewek guys.


Dan setelah di pikir-pikir rupanya itu adalah seorang tante-tante!!!


@gray010


Gue juga kemarin spil-spil foto. Eh gue jumpa sebuah foto Antonius lagi meluk ibu-ibu. Dan bener itu pasti tante-tante.


Sebuah foto juga beredar tentang Antonius. Dia berjalan dengan menggandeng tangan perempuan yang bentuk tubuhnya memang sudah seperti orang tua. Timbul pertanyaan bagi Antonius "Tapi kenapa wajah ibu-ibu itu di blur ya?" tanya Antonius.


Dan banyak komentar rasis yang lebih serius di tujukan kepada Antonius.


"Ni anak pada gila ya! Seenaknya aja menghakimi orang," kesal Bella.


"Nggak waras itu orang!" celetuk Daniel.


"Gila ya mereka?"


Teman-teman Antonius berkomentar tidak suka. Mereka benci saat Antonius dipojokan seperti itu. Seolah-olah Antonius itu anak yang paling buruk di dunia ini.

__ADS_1


"Udah biarin aja...Ntar kalau mereka capek juga diem sendiri nanti!" jawab Antonius cuek.


"Tapi Lo beneran nggak apa-apa kan Antonius?" tanya Daniel.


"Baik-baik aja kok...Mulut emang bisanya cuma ngoceh doang" jawab Antonius enteng.


"Ibarat kata setengah setan setengah dakjal, ya itu mereka yang berkomentar bacot nggak jelas!" cibir Bella pedas.


Antonius dan yang lainnya bertepuk tangan untuk kata-kata Bella. Memang Bella terkenal sebagai anak yang ramah namun kepedasan omongannya sudah tingkat dewa. Hanya penampilannya saja seperti putri cantik bak bidadari, namun kata-katanya setajam silet.


"Udah ah...Di biarin aja. Kalau mereka memang punya otak dan bisa berpikir. Seharusnya mereka nggak menghakimi Antonius kan?" seru Antonius.


"Whoo..."


"I'm so proud of you!"


"Good sayang!"


"Cakep plus mantul banget!"


***


Jam istirahat


Saat Antonius dan yang lain pergi ke kantin, semua tertuju pada Antonius. Banyak yang menatapnya tidak suka. Bahkan pandangan mereka pun seolah-olah bisa menelan ayam hidup-hidup.


"Yang punya obat mata alias insto, kasih tu sama anak-anak yang melihat gue mulu! Ntar di hembusin kuntilanak tau rasa nanti" ujar Antonius cuek.


"Hahahaha..."


Teman-teman Antonius tertawa tanpa beban, mereka bersenang-senang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Antonius hanya menuli saja daripada mendengarkan cemoohan semua siswa.


***


Beberapa hari Antonius membiarkan berita itu menyebar, ada yang berkomentar pedas tiada henti. Bahkan ada juga yang sengaja melemparinya bola saat pelajaran olahraga, menyembunyikan baju olahraga Antonius saat akan ganti baju, bahkan menyindir-nyindirnya saat di kantin.


"Aku heran...Itu informasinya dapat dari mana sih?" tanya Antonius dengan nada sedikit kesal.


"Iya ya... Nyebarin informasi pribadi Lo kok nggak ada habisnya ya! Mau mereka sebenarnya apa sih? Mentang-mentang mereka dari keluarga tajir" kesal Daniel.


"Perlu gue ladenin ya?" tanya Bella dengan suara yang sudah meninggi karena kesal.

__ADS_1


"Jangan... Nggak usah bel! Nanti malah makin ribet urusannya!" cegah Antonius.


Sarah ikut bersuara "Bang Kevin udah tau masalah ini belum?"


"Kayaknya belum deh! Biasanya kalau ada masalah Antonius selalu cepat!" jawab Antonius.


Daniel menyela, "Kenapa nggak Lo kasih tau? Biar semua cepat kelar! Antonius nggak capek tiap hari dihujat terus?"


"Kalau diem Lo nggak di hargai, bungkam aja mereka semua!" tegas Daniel.


"Hei...Hei... Itu si Antonius ya, yang lagi digosipin jadi simpanan tante-tante? Heh Antonius, ngaca Lo! Muka Lo kayak apa? Lo nggak punya uang ya makanya jadi simpanan tante-tante?" celetuk Boy yang tiba-tiba menghampiri Antonius di kantin.


"Heh! jaga ya mulut lo!" bentak Bella.


"Apa? Nggak terima Lo?" tanya Boy dengan nada tinggi.


"Bel... Biarin aja, anjing menggonggong itu normal kok!" jawab Antonius enteng.


"Heh! Jaga mulut lo cabe!" bentak Boy.


"Kalau pengen dihormati orang itu, juga harus bisa menghormati orang lain! Jangan cuma bisa komentar pedas doang!" bantah Antonius dengan berani.


"Emang kenapa? Lihat aja buktinya! Katanya kamu tinggal bareng keluarga Kevin, keluarga Astrid juga. Tapi kenapa Lo tidur bareng tante-tante itu?'' tanya Boy meledek.


Antonius berdiri dari tempat duduknya, ia mendekati Boy dan mencengkeram kerah bajunya.


"Jangan uji batas kesabaran gue ya! Sekali lagi Lo jelek-jelekin gue, gue nggak akan segan-segan make cara lain buat kasih Lo pelajaran!" tegas Antonius sambil sedikit menghempaskan tubuh Boy.


"Heh! Lo pikir gue takut sama Lo?" tanya Boy.


"Urusan Lo takut sama gue itu nggak penting. Dan sekali lagi Lo jelek-jelekin gue inget gue bantai Lo!" tegas Antonius.


Boy beranjak pergi, namun mulutnya masih memprovokasi kemarahan Antonius.


"Udah **** boy, berhati dingin pula. Ibu sama bapaknya mati aja dia nggak nangis sama sekali, kayaknya udah memang berharap biar mak bapaknya cepat pergi biar bisa main sama tante-tante itu!" provokasi Boy.


Semua anak-anak mulai mencibir Antonius, apalagi saat tau kalau Antonius tidak menangis sama sekali saat kepergian orangtuanya. Tapi Antonius tidak tinggal diam, kemarahannya tidak bisa ditahan lagi saat mendengar kata-kata Boy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: Jangan lupa tersenyum dan bahagia.

__ADS_1


Jangan lupa di like and vote ya.


Terimakasih.


__ADS_2