Kita Berbeda Tetapi Kita Satu

Kita Berbeda Tetapi Kita Satu
Bab 9 Panggilan Papa dan Mama


__ADS_3

Kami cukup lama berbincang-bincang.


Membahas tentang apa saja kegiatan-kegiatan yang kami lakukan.


"Antonius kamu nanti cita-citanya apa?" tanya paman Yanto kepadaku.


Antonius cita-citanya mau jadi Advokat paman.


Doain Antonius ya paman biar bisa seperti paman dan bibi, semuanya sukses.


Ucapku membalas perkataan paman Yanto.


"Wahh cita-cita kamu hebat banget, paman sama bibi akan selalu doain kamu, harus tetap semangat ya.


Kalo kamu butuh apa-apa, kamu bisa cerita sama paman sama bibi atau nga sama Astrid.


Kami akan selalu membantu kamu dan mendukung kamu.


Kamu itu udah paman anggap seperti anak paman sendiri, seraya kamu tau paman sama bibi masih pengen punya anak laki-laki tapi, nga bisa lagi.


Paman mau bilang sesuatu sama Antonius.


Apa Antonius mau manggil paman sama bibi sebagai papa sama Mama.


Tapi kalo memang Antonius nga mau tidak apa-apa, paman nga maksa kok.


Karena walaupun paman sudah punya Astrid tapi rasanya masih kurang lengkap.


Jadi,, apa kamu mau mempertimbangkan nya nak?" ucap paman Yanto kepada ku dengan memegang tanganku dan air mata yang mulai terbendung.


Aku yang tidak tega melihat paman Yanto memohon kepada ku, akhirnya aku pun menerima permohonan mereka.


"Paman sama bibi nga usah memohon seperti ini.

__ADS_1


Antonius mau kok manggil paman sama bibi Papa Mama.


Tapi paman jangan nangis".


Ucapku sambil tersenyum ke arah mereka.


Dan tanpa aba-aba Paman Yanto memeluk ku dengan erat.


Aku bahkan mendengar suara isak tangis paman Yanto.


"Makasih ya nak, makasih banyak.


Kamu mau memanggil kami papa" ucap paman Yanto kepada ku.


"Ternyata seperti ini rasanya orang tua yang ingin mempunyai anak.


Banyak usaha yang mereka lakukan untuk mendapatkan seorang anak.


Di negara ini, banyak orang tua yang menelantarkan anak-anaknya, bahkan di letakkan di jalan, dan yang paling kejam nya anak-anak itu di buat dalam pesugihan untuk menghasilkan uang, dan kesenangan mereka sendiri" ucapku dalam hati.


Begitu juga dengan bibi dan Astrid yang sudah menangis.


"Terimakasih ya nak, terimakasih banyak".


Ucap paman Yanto kepada ku.


Iya Paman, sama-sama.


Sekarang paman, bibi, dan juga Astrid jangan nangis lagi.


Nanti Antonius jadi ikutan sedih loh ucapku sambil bercanda.


Iya nak, papa nga akan menangis lagi.

__ADS_1


"Antonius, sini nak, mama pengen meluk kamu juga, masa cuma papa yang di peluk" ucap mama Astrid.


Aku langsung berjalan dan segera memeluk mama Astrid.


"Makasih ya nak, kamu sudah mau mengabulkan permintaan kami".


Ucap mama Astrid kepada ku.


"Iya bibi, eh maksud Antonius iya ma".


"Haha kamu memang anak yang baik nak.


Mama tau ini baru pertama kali untukmu, tapi lain kali jangan terlalu kaku ya.


Kami akan selalu mendukung kamu dan juga Astrid.


Kalian akan mendapatkan kebahagiaan yang sama nanti.


Karena kalian adalah anak-anak kami" ucap mama Astrid kepada ku sambil memeluk ku dengan erat.


"Iya ma, Antonius nga akan kaku lagi.


Terimakasih juga udah nganggap Antonius sebagai anak kalian, seraya kami dari keluarga yang kurang mampu, bahkan ada yang memanggil kami manusia pembawa beban di kampung kami.


Kata mereka, kami hanya merusak lingkungan mereka, padahal kami cuma berjualan makanan saja.


Tetapi mama, papa sama Astrid mau menganggap kami sebagai keluarga kalian.


Antonius senang masih ada orang yang mau menganggap kami keluarga.


Bahkan keluarga kami sendiri tidak ada yang mau menganggap kami.


Hanya karena perekonomian kami yang kurang. Terimakasih ma, pa dan juga Astrid" ucapku kepada mama.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2