
Antonius sedikit tersenyum melihat Kevin yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Padahal dia sudah menyuruh mamanya Kevin untuk masak nasi goreng karena Kevin yang sedikit terlambat tadi. Astrid dan juga papanya sedang keluar membeli buah-buahan yang dia minta tadi.
"Terimakasih Tuhan... engkau masih memberikan orang-orang yang baik disekitar ku..." gumam Antonius sedikit tersenyum.
Semenjak bangun dari tidurnya, Antonius merasa sedikit lebih tenang. Kesedihan di hatinya tiba-tiba tidak separah kemarin.
"Huh... Nak ini buahnya! kamu mau makan yang mana dulu? Pisang? Apel? Strawberry? Anggur? Jeruk? Pir? Buah naga? Salak? atau yang mana?" tanya papa Yanto antusias setelah kembali dari toko buah.
"Buah naga pa....,"
"Oke bentar papa kupas dulu ya,"
Papa Yanto semangat 45 menyiapkan buah yang baru dia beli. Kevin dan juga mamanya sibuk mempersiapkan makanan untuk Antonius.
"Antonius.... ini makanannya. Mama suapin ya... sini-sini," ujar mamanya Kevin membawa nampan.
Antonius menggeleng dan segera meraih nampan di tangan mama Kevin dan memakan nasi goreng yang baru di masaknya walaupun dengan kepala yang masih pusing.
"Sini mama suapin aja. Kalau di suapin pasti lebih enak," pinta mama Kevin.
__ADS_1
"Nggak ma... Mama pasti capek banget masak ini...,"
"Nggak lah. Kalau soal masak mama nggak pernah capek. Kalau gitu di habiskan ya. Biar mama senang liatnya,"
Antonius tersenyum dan mengangguk.
"Habis makan nanti tidur ya. Nanti mama datang lagi,"
"Mama..."
"Kalau mama nggak pergi kerja hari ini boleh ya!" pinta Antonius lembut.
"Kenapa? anak mama ini kenapa lagi? ada yang sakit? kalau ada kita langsung berangkat ke rumah sakit," tanya mama Kevin.
Mama Kevin kembali meletakkan tasnya. Begitu juga dengan suaminya dan bahkan Kevin, Astrid dan juga mama papanya kembali duduk. Mereka lebih mementingkan Antonius daripada yang lain saat ini.
"Kenapa? ayok cerita sama mama!" ujar Mama Kevin.
Antonius tiba-tiba langsung memeluk erat mama Kevin. Mamanya sedikit terkejut akan sikap Antonius yang tiba-tiba ini. Namun, mamanya Kevin langsung saja mengusap-usap kepala Antonius.
__ADS_1
"Ada apa? coba cerita sama mama..." pinta mama Kevin dengan suara lembut.
"Gini aja dulu ma..." pinta Antonius.
Mama Kevin mengangguk dan membalas pelukan Antonius. Antonius hanya diam, tapi air matanya terus mengalir. Mama Kevin menyadarinya karena semua air mata Antonius jatuh ke pundaknya.
Lama Antonius memeluk mama Kevin. Akhirnya dia tertidur. Mama Kevin menyadarinya. Beliau mendengar hembusan nafas Antonius yang teratur.
"Papa... bantu mama buat ngangkat Antonius. Dia udah tidur sepertinya masih capek," bisik mama Kevin.
Antonius pun di pindahkan ke kasur. Di beri selimut. Mereka pun keluar kamar dan menunggu di ruang depan sambil bercerita.
"Mama rasa tadi Antonius tiba-tiba meluk mama, itu karena Antonius pasti rindu sama ayah sama ibunya," ujar Mama Kevin membuka pembicaraan.
"Iya benar banget ma," jawab papa Kevin.
"Seandainya saja Kevin nggak maksa Antonius buat keluar waktu itu, ayah sama ibu pasti nggak akan cepat pergi ya ma," seru Kevin.
"Jangan bilang gitu nak Kevin. Tuhan sudah mengatur kehidupan Antonius. Coba misalnya kalau Antonius ikut sama ayah dan juga ibunya. Trus ngalamin kecelakaan seperti yang kemarin. Semisal Antonius meninggal sedangkan ayah dan juga ibunya masih hidup, betapa menderitanya mereka nanti. Kedua anak mereka meninggal karena kecelakaan. Mereka pasti akan berpikir bahwa hidup mereka telah sia-sia. Lagipula, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hambanya yang setia," jawab papanya Astrid.
__ADS_1
"Intinya kita harus selalu mendukung Antonius. Jangan biarkan dia selalu terpuruk. Selalu beri dia semangat. Apapun yang terjadi dia adalah keluarga kita," tutur papanya Astrid.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...