Kita Berbeda Tetapi Kita Satu

Kita Berbeda Tetapi Kita Satu
Bab 49 Tangisan Antonius


__ADS_3

Antonius diam, ia berjongkok memegangi nisan ayah dan juga ibunya. Orangtua Antonius di makamkan di samping makam adiknya.


"Ayah... ibu... kenapa pergi secepat ini? Gimana Antonius nantinya? Siapa yang masakin Antonius? Siapa yang nyetrikain baju sekolah Antonius?" gumam Antonius.


"Antonius... Antonius yang sabar ya, harus kuat!" ujar Sarah.


"Iya makasih Sar," jawab Antonius.


Semuanya pergi karena hari sudah semakin gelap, tinggal Antonius, Astrid, dan juga Kevin yang masih ada di pemakaman.


"Antonius... kita pulang ya. Hari udah makin gelap," ajak Astrid.


"Astrid balik aja dulu, Antonius masih mau di sini," jawab Antonius tanpa ragu.


"Tapi dek...,"


"Nggak apa-apa Ast! bang Kevin... Abang tunggu di mobil aja, nanti Antonius balik sendiri ke mobil," pinta Antonius.


"Tapi dek...," ucap Kevin terpotong.


"Udah Vin, kita tunggu di sana aja," ajak Astrid.


Kevin menurut, mereka berdua pergi meninggalkan Antonius sendirian di makam ayah, ibunya dan juga adiknya.


"Vin... aku tau kalau aku itu bukan kakak yang baik buat Antonius. Tapi satu hal yang pasti aku tau, saat Antonius udah minta waktu sendirian, jangan pernah kau bantah. Cukup kasih ruang aja buat dia, aku tau ini dari mendiang ayah dan juga ibu," peringat Astrid.

__ADS_1


"Iya Ast,"


Hati Kevin penuh kekhawatiran akan keadaan Antonius. Kevin tidak menduga bahwa Antonius akan di tinggalkan dalam keadaan seperti ini. Kevin baru ingat kalau ini adalah kali kedua Antonius tidak menangis. Yang pertama orangtua dari Antonius pernah bercerita kalau Antonius tidak menangis ketika adiknya meninggal. Dan yang kedua juga terjadi saat ini. Di saat orangtuanya meninggal, tak ada setetes air mata pun yang keluar dari mata Antonius.


Kevin benar-benar khawatir dengan kondisi mental Antonius. Antonius bukan tipikal anak


yang bisa menceritakan semuanya dan menangis dengan mudahnya.


"Antonius... Abang harap kamu bisa lewatin semua ini," batin Kevin.


...***...


Di pemakaman


"Ayah... ibu... adekk" panggil Antonius lembut.


Antonius terduduk lemas, dia memeluk salib ayahnya dan menangis sejadi-jadinya.


"Ayah... ibu... kenapa kalian ninggalin Antonius? Hiks... kenapa pergi secepat ini? Antonius menyesal. Seandainya aja Antonius nggak pergi, ayah sama ibu nggak akan kayak gini!" Hiks...


Antonius menangis keras, hari semakin gelap, semakin enggan pula Antonius meninggalkan tempat peristirahatan terakhir orang tuanya.


"Ayah sama ibu kenapa pergi ninggalin Antonius? Hiks... setelah ini Antonius harus gimana? Hiks... Nggak ada lagi alasan Antonius harus hidup yah. Hiks..."


Kevin dan Astrid semakin khawatir, hari semakin gelap, matahari perlahan terbenam, namun Antonius belum kembali juga. Kevin pun langsung menyusul Antonius ke pemakaman. Kevin tertegun melihat Antonius menangis.

__ADS_1


Antonius... menangis?" kaget Kevin.


"Ya bagaimana pun, dia masih anak kecil. Sekuat apapun dia, seberapa banyak orang bilang kalau dia adalah anak yang dewasa, pasti ada saatnya mereka menangis saat sampai di titik terendahnya," batin Kevin.


Kevin berjalan mendekati Antonius, memasangkan jaket yang dia bawa dari mobil ke punggung Antonius. Antonius terkejut, tapi belum sempat Antonius berbalik melihat, Kevin lebih dulu merangkulnya.


"Jangan nangis lagi... masih ada Abang di sini, ada kak Astrid juga, mama sama papa, ada kawan-kawan juga, jangan buat ayah sama ibu tersiksa karena tangisanmu. Mereka lebih suka tawamu daripada air matamu," ujar Kevin menenangkan.


"Hiks... ayah... ibu"


Kevin mengeratkan rangkulannya, ia benar-benar ingin membawa Antonius pergi dari segala penderitaan ini. Ia tidak bisa melihat Antonius menangis lagi.


"Ayo pulang... kita berdoa sama Tuhan, kita doakan ayah sama ibu, semoga mereka diberikan tempat yang paling nyaman di sisinya," ujar Kevin.


"Hiks..."


"Jangan tangisi mereka lagi. Sekarang ayah sama ibu itu butuh doa dari anaknya yang saleh," jelas Kevin.


Antonius mulai tenang, kata-kata Kevin mampu membuatnya lebih tenang. Kevin benar-benar bijaksana, dia berbicara seolah-olah sudah seperti mendiang ayahnya Antonius, itu yang ada dalam pikiran Antonius saat ini.


"Ayo pulang... kita doakan yang baik-baik untuk mereka ya," ajak Kevin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: Jangan lupa tersenyum dan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2