
"Kak Astrid di panggil bang Kevin, katanya masuk ke kamar, ada yang mau di bilang," panggil Antonius.
"Eh... Antonius udah bisa jalan?" tanya Astrid.
"Sudah kak. Ayo kak, dipanggil bang Kevin,"
"Oh... iya bentar ya. Dav aku pergi nemuin Kevin dulu ya, siapa tau penting!" seru Astrid.
"Oh iya Ast. Aku mau main game dulu sini".
Astrid mengangguk dan segera berlalu pergi ke kamar. "Antonius nggak ikut ke kamar?" tanya Astrid.
"Nggak kak. Aku mau ke kamar mandi dulu,"
"Iya hati-hati. Dav... minta tolong temenin Antonius ya," pinta Astrid.
"Iya Ast..."
...***...
"Vin... ada apa?" tanya Astrid.
Kevin diam seribu bahasa. Walaupun dia sudah tahu kalau Astrid sudah masuk kedalam kamar.
"Vin... kenapa diam?"
"..."
"Astrid sudah disini"
"..."
"Jangan diemin Astrid. Coba cerita sama Astrid"
"Kayaknya seneng banget ya ngomong-ngomong sama David. Lanjutin aja bicaranya, nggak usah pikirin kami" seru Kevin mengeluarkan unek-unek di hatinya.
"Tapi tadi aku cuma bicara soal pertandingan itu kok Vin. Nggak ada yang lain!"
__ADS_1
"Bicarain pertandingan tapi kok ketawa-ketawa ya. Harusnya serius kan? Aku nggak pernah dengar kalau lagi bahas pertandingan ketawa-ketawa!" seru Kevin sedikit membentak Astrid.
"Vin... Kevin kenapa kayak gini? Biasanya Kevin selalu lembut bicara sama Astrid. Tapi kenapa sekarang Kevin bentak Astrid?" tanya Astrid lembut.
"Kamu nggak ngerti perasaan aku kayak gimana? Aku itu nemenin Antonius di kamar, harusnya kamu juga di sana. Kamu memang nggak peka! Terus aja sama David, sama Kevin nggak usah!" keluh Kevin menggebu-gebu.
Astrid mendengarkan semua cerita Kevin. Astrid hanya diam menganggapi Kevin.
Setelah cukup lama mereka terdiam, akhirnya Astrid buka suara.
"Udah marahnya sama Astrid?" tanya Astrid lembut.
"..."
"Sekarang dengerin Astrid ngomong ya? Astrid tadi ketawa-ketawa sama David karna memang bahas pertandingan itu. Kalau memang Kevin nggak percaya sama Astrid ya udah nggak apa-apa. Yang terpenting Astrid udah jujur sama Kevin!" tutur Astrid.
"..."
"Kalau begitu Astrid keluar ya. David sama Antonius udah nunggu di luar!" seru Astrid sambil beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah Kevin menarik pergelangan tangan Astrid dan terduduk kembali disampingnya.
"Maafin Kevin yang terlalu egois sama Astrid. Jujur saja Kevin cemburu tadi liat Astrid ketawa-ketawa sama David. Harusnya Astrid bareng Kevin kayak gitu di sini!"
"Kalau Astrid nggak mau maafin Kevin gimana coba?"
"Berarti Kevin bakalan kayak dulu lagi. Semua orang akan Kevin ganggu kecuali Astrid!" seru Kevin.
"Eh mana boleh kayak gitu. Kan Kevin udah janji nggak kayak dulu lagi!"
"Berarti Astrid maafin Kevin kan?" tanya Kevin.
"Hm..."
"Hm... apanya? berarti Astrid nggak maafin Kevin? Okelah, nggak usah dekat-dekat Kevin lagi. Soal Antonius biar urusan keluargaku".
Kevin beranjak dari tempat tidur dan mulai berjalan. Namun beberapa langkah Astrid tiba-tiba memeluk Kevin.
Deg
__ADS_1
Kevin terkejut atas perbuatan Astrid.
"Kenapa Kevin nggak peka terhadap perasaan Astrid. Selama ini Astrid nggak pacaran itu karena Astrid selalu nunggu waktu kalau Kevin bakalan ngutarain perasaan Kevin sama Astrid. Tapi yang Astrid lihat selama ini kayaknya Kevin nggak suka sama Astrid, Kevin nggak sayang sama Astrid. Kan nggak mungkin Astrid duluan yang nembak Kevin! Hiks...hiks" Astrid menangis sesenggukan sambil memeluk Kevin.
Kevin tersenyum mendengar semua keluhan Astrid. Segera dia berbalik badan dan menangkup wajah Astrid. Dibelainya pipinya dan di hapusnya air mata Astrid.
"Berarti selama ini Kevin yang nggak peka ya. Maafin Kevin. Sejujurnya Kevin juga sayang sama Astrid. Tapi Kevin takut kalau Astrid udah punya pacar, Kevin takut bakalan sakitin hati cowok kamu. Tapi, setelah mendengar penjelasan Astrid! Ternyata Kevin lah yang salah. Kevin selalu kasih harapan palsu sama Astrid. Kevin minta maaf,"
Astrid masih tetap mengeluarkan air matanya. Walaupun sudah tidak menangis namun air matanya tidak bisa diajak kompromi.
Cup
Kevin mengecup pipi Astrid. Menghapus jejak air mata di pipinya.
"Apa pun yang kamu lakukan!
Apa pun yang kamu rasakan saat ini!
Satu hal yang pasti bahwa perasaanku padamu tidak akan pernah berubah!"
"Apa masih ada kesempatan buat Kevin jagain Astrid?" tanya Kevin lembut.
Astrid tersenyum dan mengangguk.
"Maafin Astrid juga ya Vin!"
"Astrid jangan minta maaf, seharusnya Kevin lah yang harus minta maaf. Berarti mulai sekarang kita udah?" tanya Kevin menggantung.
"Iya Vin" Astrid membalas ucapan Kevin.
Kevin menarik Astrid ke pelukannya.
"Duh senangnya bisa jadi pacar Astrid. Janji deh bakalan selalu jagain Astrid sampai maut yang memisahkan kita. Terimakasih telah menerima Kevin. Terimakasih telah menerima kekurangan Kevin" ucap Kevin lembut.
Astrid mulai tenang dalam pelukan Kevin.
Dan perjalanan cinta Kevin dan Astrid di mulai sekarang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: Jangan lupa tersenyum dan bahagia.