Kita Berbeda Tetapi Kita Satu

Kita Berbeda Tetapi Kita Satu
Bab 40 Penjelasan


__ADS_3

Sore itu sepulang dari sekolah. Tiba-tiba saja Sarah muncul di teras rumah Antonius. Ternyata cewek itu bawa mobil sendiri.


"Hai Antonius. Kamu apa kabar?" tanya Sarah memegang tangan Antonius. Masih dengan gaya khasnya. Suka nyosor. Antonius, yang sempat membaca buku langsung terkejut bukan main dengan kedatangan Sarah yang mendadak itu.


"Kamu nggak liat aku baik-baik saja di sini. Tapi... elo kok bisa tau dimana rumahku?" seru Antonius karna baru kali ini Sarah datang ke rumahnya. Waktu mereka sempat pacaran sama sekali nggak pernah berkunjung, hanya Antonius yang di jemput ke rumahnya. Itu pun Antonius selalu nunggu di persimpangan jalan.


"Emangnya aku nggak punya informan yang bisa di tanyain?" jawab Sarah.


Antonius cuma terdiam.


Kemudian Sarah berkata, "aku bisa masuk nggak, buat nyapa ayah sama ibu. Sekalian minta izin buat ajak kamu jalan. Apa kamu keberatan?"


Antonius menatapnya heran dan merasa tersinggung.


"Maaf nggak bisa. Ayah lagi nemenin ibu jualan. Dan kayaknya masih lama pulangnya. Jadi Lo pulang aja!" seru Antonius.


"Aku pasti nunggu ayah sama ibu kok, Antonius, kalau sekarang aku mau belajar bareng kamu saja. Kita kan sama-sama jurusan IPS jadi bisa lah kita berbagi ilmu. Kamu kan anak pintar. Nih, aku juga bawa nasi goreng kesukaan kamu. Ini aku sendiri yang masak. Di makan ya," jawab Sarah sambil menyodorkan kotak makan.


Antonius menggigit bibir, menimbang-nimbang.


"Tenang aja Antonius. Aku nggak kasih racun kok". Tapi pada akhirnya setelah beberapa saat terdiam, Antonius mengangguk juga. Terpaksa, apa boleh buat. Habis mau bagaimana lagi?


Antonius mempersilahkan Sarah duduk di lantai beralaskan karpet kecil. Tunggu sebentar di sini, aku mau masuk kedalam dulu. Sarah mengangguk dan tersenyum.


Setelah keluar, ternyata Antonius membawa teh untuk Sarah. "Cuma bisa buat teh manis. Kalau yang jus-jus atau yang lain-lain nggak ada di sini" ucap Antonius sambil meletakkan gelas.


"Iya, nggak apa-apa kok Antonius".


"Kalau gitu aku makan dulu ya, sayang kalau nggak di makan" seru Antonius sambil membuka kotak makan yang di bawa Sarah.


Dan sepanjang Antonius makan, tidak ada yang memulai pembicaraan. Sarah juga hanya memandangi Antonius makan dan sesekali dia membuka handphonenya.


"Maaf untuk sikapku yang dulu pernah mengkhianati kepercayaan kamu ya!" seru Sarah.

__ADS_1


"Uhuk-uhuk!" Antonius tiba-tiba tersedak mendengar perkataan Sarah.


"Makanya hati-hati kalau makan. Kan jadi batuk gini" ucap Sarah sambil menepuk-nepuk punggung Antonius.


"Maaf. Lain kali nggak gitu lagi"


Setelah sudah tenang. Sarah melanjutkan perkataannya.


"Dulu kenapa aku pergi ninggalin kamu. Waktu itu aku di ancam sama Dido"


Flash back on.


"Kring" suara bel istirahat berbunyi.


"Sarah aku ke perpustakaan dulu ya, mau cari buku sekalian ngerjain tugas. Kamu mau ikut nggak?" tanya Antonius.


"Iya ikut kok. Tapi kamu duluan dulu ya, aku mau ke kamar mandi dulu, sekalian ke kantin mau beli makanan. Kamu mau jajan apa?"


"Iya"


Di kantin sekolah.


"Woi Sarah! Lo sebenarnya pacaran nggak sih sama Antonius. Kok Lo mau aja di suruh-suruh beli makanan. Padahal dia nggak mau nraktir kamu," seru Dido sambil memegang tangan Sarah.


"Do, lepasin tangan mu. Dan ya, emang kenapa kalau aku yang beli makanan untuk Antonius. Apa urusannya sama kamu?"


"Sini, ikut dengan ku. Cepat!" bentak Dido sambil menarik tangan Sarah.


"Ihhh! lepasin!" teriak Sarah.


Dido langsung menjatuhkan Sarah di lantai. "Asal Lo tau ya Sar! gue itu suka sama Lo. Dan ya, Lo harus jadi pacar gue mulai saat ini," seru Dido.


"Apa! emang kamu siapa bisa maksa gue buat jadi pacar Lo?"

__ADS_1


"Kalau Lo memang nggak mau. Lo liat saja nanti Antonius. Dia bakalan sengsara gue buat. Lo pikir dengan kekayaan yang kami miliki, dia bakalan sangat mudah kami hancurkan" ancam Dido.


"Jadi? Lo masih mau nolak gue" lanjutnya.


"Sampai kapan pun gue nggak bakalan ninggalin dia. Asal Lo tau cowok kayak kamu itu lebih baik di buang. Minggir kamu!" seru Sarah sambil mendorong badan Dido.


"Liat aja Sarah. Gue bakalan hancurin pacar Lo itu!" teriak Dido.


Flash back off.


"Jadi apa hubungannya dengan ku sar? jelas-jelas kan kamu udah ninggalin aku karna dia lebih kaya"


"Dengerin penjelasan ku dulu. Jadi dulu waktu adek kamu kecelakaan itu keluarga Dido yang buat. Diperjalanan pulang mereka dengan sengaja menabrak adek kamu dan ninggalin dia gitu aja. Waktu itu aku udah tau rencana mereka. Tapi aku di kurung mereka. Mereka mengancam ku. Mereka bilang kalau sampai aku bilang sama kamu, keluarga kamu bakalan di hancurin. Waktu itu kenapa aku malah Nerima Dido jadi pacarku, aku terpaksa. Aku nggak mau liat kalian lagi tersakiti. Apalagi saat itu aku dengar kalau adik meninggal dunia. Aku berasa bersalah. Aku nggak mau lagi kalian di sakiti keluarga Dido" jawab Sarah yang sudah menangis menceritakan kejadian masa lalu mereka.


"Jadi apa kamu memaafkan aku Antonius?" tanya Sarah.


"Kalau memang seperti itu. Nggak apa-apa kok Sar. Aku juga nggak pengen ingat masa lalu lagi. Kalau untuk membalas perbuatan mereka aku nggak bisa. Biarlah Tuhan yang membalas mereka. Kalau pun aku menuntut mereka, apa adikku bisa di kembalikan? apalagi di saat ayah sekarang masih sakit. Jadinya malah ayah ku yang bakalan sakit lagi!" sahut Antonius.


"Makasih sar udah mau ceritain kejadian itu. Tapi maaf, aku nggak bisa lanjutin hubungan kita yang dulu. Lebih baik kita jadi teman saja"


"Iya Antonius. Terimakasih. Maaf juga waktu itu aku malah marah-marah sama kamu" sahut Sarah mulai tenang.


"Iya nggak apa-apa kok"


"Udah jangan nangis lagi. Nanti orang liat kamu nangis, jadi aku yang di gebukin. Kamu mau?" tanya Antonius sambil bercanda.


"Apaan sih. Kamu kok bilang gitu!" seru Sarah sambil mengusap air matanya.


"Nih, biar nggak sedih lagi. Kerjain tugas matematikaku ini ya" ucap Antonius sambil memberikan bukunya kepada Sarah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: Jangan lupa tersenyum dan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2