
Setelah semua selesai berbicara. Berbaikan dengan masa lalu. Tidak ada lagi yang namanya saling menyalahkan. Dan semua di akhiri dengan kata maaf.
"Percayalah bahwa maaf akan selalu ada jika kita memang tulus untuk memintanya".
"Tiba-tiba keinget, dulu aku pernah suka sama kamu!" seru Sarah dengan nada lembut.
"Sayang banget malah!"
"Dan kamu tau nggak sih? Sekarang perasaan itu sudah berubah, jadi perasaan biasa-biasa saja," sahut Antonius.
"Harusnya aku senang, ya? Iya harusnya. Tapi aku justru sedih, sedih karena ketika melihatmu sekarang semua itu sudah berubah,"
"Nggak ada lagi rasa sayang, nggak ada lagi perasaan ingin memiliki, nggak ada lagi perasaan ingin memperjuangkan," seru Sarah.
"Tapi sekarang rasanya kayak, ahh ya udahlah," sahut Antonius.
"Terima kasih sudah mau menjadi Aurora ku. Semoga kamu juga mendapatkan tempat singgah yang paling sempurna nanti,"
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya. Sebentar aku pamit sama ayah dan juga ibu!" seru Sarah sambil berjalan ke dalam rumah.
"Ayah, ibu, Sarah pulang dulu ya. Udah mau malam. Papa juga tadi udah nelpon, katanya cepat pulang".
"Wahh, cepat banget pulangnya nak. Padahal ibu udah mau masak makan malam untuk kita!" sahut ibu.
__ADS_1
"Aduh, Sarah jadi ngerepotin ya Bu? maaf ya Bu. Lain kali Sarah pasti datang berkunjung lagi kok"
"Ya sudahlah nak. Hati-hati nanti di jalan. Titip salam juga sama mama papanya ya!" seru ibu.
"Iya Bu. Sarah berangkat ya!" sahut Sarah sambil mencium tangan ayah dan juga ibu.
Segera setelah keluar dari rumah. Sarah melambaikan tangannya ke arah Antonius.
"Antonius, aku pulang ya" ucap Sarah.
"Iya, hati-hati ya Sar!" sahut Antonius.
Sarah pun memasuki mobilnya dan langsung melajukan mobilnya dengan perlahan. Tak lupa dia juga membunyikan klakson mobilnya.
"Iya Bu. Ini sudah siap kok, tinggal nge rapiin buku-buku ku," jawab Antonius.
"Kalau udah siap langsung masuk ya. Sebentar lagi kita makan malam," seru ibu.
"Iya Bu!"
...***...
Antonius memasuki kelasnya dengan gembira. Dia duduk di depan meja guru di samping jendela. Teman-temanya tidak ada yang berani duduk berdekatan dengan guru. Alasannya karena takut.
__ADS_1
"Widih, senang banget tampang Lo, pasti abis pergi sama kak Fitri ya?" ujar Daniel melihat temannya tersenyum-senyum sendiri.
"Dih, apaan sih, kok bawa-bawa dia lagi. Tadi itu kita latihan basket, trus tiba-tiba pertandingannya di majuin jadi dua hari lagi. Gue kan baru kali ini ikut pertandingan basket jadi senang aja. Biasanya waktu SMP cuma ikut bola voli," jawab Antonius, masih tersenyum senang.
"Serius di majuin? tempatnya dimana?"
"Iya di majuin. Kalau tempatnya belum di bilang, kita tinggal dengerin pengumuman aja Dan,"
"Wah, bagus dong. Nanti katanya teman-teman sekelas kita semua bakalan nonton. Jadi harus menang ya!" seru Daniel menyemangati Antonius.
"Siap bang!" sahut Antonius bergerak seperti tentara.
"Ya udah, sekarang kita ke kantin dulu ya. Ngisi perut, babang Daniel udah lapar. Bajunya nggak usah di ganti!" ucap Daniel sambil berjalan ke arah Antonius dan segera merangkul pundaknya.
"Teman-teman yang lain mana?" tanya Antonius.
"Ohh kalau itu mereka udah di kantin. Tinggal kita yang belum datang. Makanya gue tadi ngajak Lo ke kantin.
"Iya deh. Yukk!" jawab Antonius bersemangat karena dia juga sudah lapar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk apa pun.
__ADS_1
Jangan lupa tersenyum dan bahagia.