
Kami berangkat dari kampus menuju hutan, sepanjang perjalanan aku dibonceng sama Rangga, karena aku gak bisa naik motor, karena aku hanya diajarkan naik mobil. Aku pun mengobrol dengan Rangga.
"Rangga!!" teriak Randy memanggil
"Kenapa lagi Randy?" jawab Rangga sambil sepintas melihat ke belakang
"Orang tua lo kerja apa?" tanya Randy
"Ayah gue nelayan" jawab Rangga
"Nyaman dong bisa makan ikan tiap hari!" ucap Randy memuji
"Gak juga, biasanya ayah bawa sisa ikan saja buat aku, karena yang lainnya dijual untuk beli nasi" ucap Rangga
"Gitu ya, padahal gue berharap banget bisa makan ikan" ucap Randy
"Emang kenapa lo tanya seperti itu, memangnya rumah lo gak ada ikan?" tanya Rangga
"Di rumah gue makanannya steak mulu, gak ada makan ikan" jawab Randy
"Anak orang kaya mah bebas, makanannya mahal-mahal" ucap Rangga menyinggung
"Gak juga, kadang gue ada gak sukanya jadi orang kaya karena selalu kesepian di rumah, karena orang tuaku sibuk kerja mulu, dan pulangnya selalu malam" ucap Randy curhat tentang orang tuanya
"Kalau orang tua gue pulangnya siang, karena berangkat mencari ikannya dari subuh" balas Rangga
"Nyaman dong orang tua lo selalu ada buat lo!" ucap Randy yang merasa iri
"Gak selalu ada juga, kadang dia kalau dia gak dapet banyak ikan siangnya, dia akan lanjutkan cari ikan sampai malam" ucap Rangga
"Gue mau tanya sama lo, gue itu masih gak percaya kalau kita bisa merasakan sakit jika salah satu diantara kita di pukul?" tanya Rangga sambil tertawa
"Lo mau bukti, nanti kita coba kalau sudah sampai di hutan" jawab Randy
"Kenapa gak sekarang?" tanya Rangga
"Nanti kita jatuh bambang" jawab Randy
"Hahaha....kasian si bambang kena omongin mulu" ucap Rangga tertawa
"Lo buat gue kesel dari tadi, gue kan jadi emosi" ucap Randy dengan sedikit kesal
"Sorry, gue gak akan bercanda lagi" ucap Rangga
__ADS_1
Setelah kami lama berbincang di motor, akhirnya hutannya sudah terlihat dari
jauh. Hutan itu tampak menyeramkan, suasananya mencekam seperti di film-film
horor, apakah kejadian yang kami alami ada hubungannya dengan kekuatan
supranatural seperti di film.
"Rangga, ini beneran hutannya?" tanya Randy kepada Rangga dengan nada bicara seperti ketakutan.
"Iya, ini beneran hutan yang selalu di datangi ayah gue, soalnya waktu kecil gue pernah di ajak ke sini" jawab Rangga
"Kok lo gak takut?" tanya Randy
"Buat apa takut, gue dan ayah biasanya mencari sayur disini kalau lagi gak ada uang untuk beli sayur" jawab Rangga dengan tenang
"Jauh amat, ngambil sayur sampai ke hutan" ucap Randy
"Disini segar-segar kata ayah gue, kalau di pasar banyak yang sudah layu juga" ucap Rangga
"Terserah lo dah" ucap Randy
Tak beberapa lama akhirnya mereka sampai di hutan itu, Rangga pun menyimpan motor di tepi jalan karena jalan masuk ke hutan itu becek jadi tak bisa di lalui motor.
Makanya Randy dan Rangga akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki
di tujuan agak memakan waktu yang lama.
Mereka berdua pun berjalan kaki masuk ke dalam hutan, jalannya sangat becek
karena semalem habis di guyur hujan dan hutan ini di kelilingi pohon yang
sangat tinggi, kabut di hutan ini juga sangat tebal dan banyak sekali semak
belukar yang mengganggu langkah kaki mereka. Mereka sekarang sudah menempuh satu kilometer dari jalan raya, jaraknya lumayan jauh dan membuat kaki Randy
pegel-pegel.
"Ini masih jauh ya Rangga?" ucap Randy sambil memegang lutut dengan nafas kelelahan
"Gak bentar lagi nyampe" jawab Rangga yang masih tetap berjalan di depan Randy
"Istirahat dulu dong, gue udah mulai capek nih" ucap Randy sambil berhenti
__ADS_1
Rangga pun berhenti juga, "Gitu aja capek, dasar anak orang kaya, di rumahmu gak ada gym ya?" ucap Rangga dengan nada sombongnya
"Ada, tapi gue jarang di pakai" balas Randy
"Makanya punya tempat gym itu di pakai, jangan di pajang" ucap Rangga sedikit menyinggung
"Di pakai kok, tapi hanya ibu gue yang pakai, soalnya gue gak di bolehin, takut rusak kata ibu" jawab Randy
"Randy gimana kalau kita coba memukul diri kita, apakah beneran kita bisa saling merasakan sakit?" tanya Rangga penasaran
"Lo masih gak percaya dengan apa yang gue bilang sebelumnya?" tanya Randy kembali
"Belum di coba belum tau kan, lagipula yang pernah merasakannya cuma lo sedangkan gue gak pernah" ucap Rangga
"Baiklah kita coba, gue akan pukul diri gue sendiri, nanti lo rasakan sakit dari pukulan gue" ucap Randy
Rangga sambil menunjukan jempolnya dan bilang, "Baiklah, tapi lo mukulnya jgn terlalu keras ya?" ucap Rangga
"Kalau pukulannya lemah bukan pukulan namanya" balas Randy
"Iya gue paham, lo kasi aba-aba saat memukul ya?" ucap Rangga dengan ekspresi seperti menahan rasa sakit
"Tenang saja, gue mulai ya, satu...dua...buk..." Randy pun memukul wajahnya
"Aduh....sakit pipi gue" teriak Rangga sambil mengusap pipinya
"Gimana lo masih gak percaya?" tanya Randy sambil mengusap pipinya juga
"Iya gue percaya, tapi jangan seperti tadi dong ngitungnya, gue belum siap tadi" ucap Rangga dengan nada kesal
"Ya kalau di hitung sampai tiga, yang ada lo malah nahan sakitnya, kan gak seru jika seperti itu" balas Randy
"Masih ketawain gue ya, nanti gue akan balas, gue akan pukul diri gue sendiri" ucap Rangga dengan nada kesal
"Eeett, jangan seperti itulah, gue minta maaf, gue bercanda tadi" ucap Randy sambil menggelengkan kepalanya
"Iya gue tau lo becanda, Randy kalau bisa kekuatan ini di rahasiakan saja karena bahaya untuk kehidupan kita berdua?" ucap Rangga memohon kepada Randy
"Iya, gue pasti rahasiakan, terutama dari orang tua gue" jawab Randy
"Ok, baguslah, menurut gue kekuatan ini ada bagusnya juga karena bisa membuat kita tau, apakah salah satu diantara kita mengalami kejadian buruk yang sedang menimpa diri kita sendiri?" ucap Rangga
"Iya, menurut gue juga begitu" jawab Randy
__ADS_1
Setelah beberapa lama Rangga dan Randy berjalan menyusuri hutan, akhirnya mereka sampai di lokasi yang menjadi tujuan awal mereka.
bersambung