
Setelah Rangga dan Ayu melewati lampu lalu lintas, Mereka berdua berjalan lurus kembali. Mereka tetap mengikuti jejak dari alat pelacak tersebut.
"Terus kemana kita lagi kak Ayu?" tanya Rangga
"Berhenti Rangga" ucap Ayu tiba-tiba
"Kenapa berhenti?, Apa mereka berada di dekat sini?" tanya Rangga kebingungan
"Sepertinya mereka disini, namun ini aneh banget!" ucap Ayu
"Aneh kenapa kak Ayu?" tanya Rangga penasaran
Ayu pun memperlihatkannya ke Rangga, "Lo liat deh, kok ini tiba-tiba diem ya?" tanya Ayu
Tapi Rangga gak melihat karena fokus menyetir, "Maksud lo?" tanya Rangga
"Ini bulatan merahnya diem gak bergerak kemana-mana" ucap Ayu
Seketika Rangga pun menghentikan mobilnya di tepi jalan, "Sini gue lihat" Rangga pun melihat alat pelacaknya
Setelah Rangga lihat, ternyata memang benar bahwa ada yang gak beres dari alat pelacaknya. Rangga pun keluar dari mobil untuk menemukan alat pelacaknya, Setelah
keluar dari mobil Rangga mengikuti tombol merah dari alat yang dia pegang dan mendekatinya. Ternyata kami di tipu sama Desi, rupanya alat yang di pasang Randy sudah lepaskan di jalanan. Kami kehilangan jejak Desi yang sedang membawa Randy.
__ADS_1
Rangga dan Ayu pun bingung mau ngapain lagi, sepertinya sangat mustahil mengetahui lokasi jika tanpa alat pelacak ini. Rangga dan Ayu pun bersantai sejenak di jalan raya untuk memikirkan cara mengetahui lokasi. Namun tiba-tiba ada perasaan yang naik turun yang di rasakan Rangga.
"Kak Ayu, ada yang aneh dari diri gue" ucap Rangga
"Maksud lo Rangga?" tanya Ayu yang merasa aneh dengan pertanyaan Rangga
"Sepertinya Randy mau memberi tau gue lokasi yang dia lewati bersama Desi menggunakan perasaan" ucap Rangga
"Memangnya bisa Rangga?" tanya Ayu
"Sepertinya bisa, kalau dia cubit gue sebelah kanan berarti belok kanan, kalau dia cubit tangan kiri berarti belok kiri, dan kalau dia cubit hidung berarti lurus" ucap
Rangga
Rangga pun memberi isyarat kepada Randy bahwa Rangga bisa mengerti maksud yang di berikan Randy.
"Rangga apakah cara itu berhasil?" tanya Ayu
"Sepertinya berhasil kak, ayo kita pergi dari sini kak?" ucap Rangga
"Baiklah" ucap Ayu
Rangga pun buru-buru beranjak dari tempatnya sekarang untuk menyusul Randy yang di bawa sama Desi.
__ADS_1
Rangga pun mengikuti rasa sakit dari cubitan Randy, jadi kemanapun Rangga merasa sakit disitulah Rangga harus pergi. Rangga terus mengikuti arahan Randy menggunakan kemampuan bisa merasakan satu sama lain itu. Walaupun kemampuan ini membuat mereka berdua saling kesakitan saat ini namun kemampuan ini jugalah yang akan bisa menyelamatkan mereka.
Tak berapa lama, akhirnya kami pun melihat mobil Desi, sepertinya kami berdua berhasil
mendekati mobil mereka. Kami pun melanjutkan membuntuti mobil Desi dari
belakang.
"Rangga!" teriak Ayu kepada Rangga
"Ada lagi Kak, mending kita fokus membuntuti mereka?" ucap Rangga
"Bukan begitu, sepertinya kejadian ini pernah terjadi sebelumnya saat gue ke Bali" ucap Ayu
"Gue kira kakak bakal ngomongin yang penting, ternyata gak penting juga yang di omongin" ucap Rangga sambil geleng-gelengkan kepala
Setelah lama membuntuti mobil Desi, akhirnya mereka berhenti di rumah kumuh dan kosong. Rumah ini banyak sekali di tumbuhi lumut di sekitar dindingnya, belum lagi halamannya banyak sekali rumput liar dimana-mana, apalagi atapnya sudah
bolong-bolong.
Mobil Desi pun masuk ke dalam rumah itu, kami pun sedikit kehilangan jejak mereka. Akhirnya kami pun memutuskan untuk memarkirkan mobil ini di jalan raya saja, biar gak ketahuan. Karena jika kami langsung masuk menggunakan mobilnya, maka
akan ketahuan sama Desi.
__ADS_1
Rangga dan Ayu memutuskan untuk jalan kaki menuju ke rumah itu, Sesampainya di rumah itu mereka belum melihat tanda-tanda keberadaan Desi dimana pun. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke rumah itu.
Bersambung