
Purbo mengelap tubuh Dini menggunakan air hangat. Dengan lembut dia mengusap leher, punggung juga bagian ketiak istrinya itu. Dini senyum senyum sendiri, memperhatikan wajah Purbo yang terlihat cemas dan khawatir.
"Kenapa senyum senyum?" tanya Purbo setelah selesai membasuh punggung Dini.
"Hmmm, aku seneng aja kamu perhatian ke aku kayak gini," jawab Dini manja.
"Memangnya selama ini aku kurang perhatian?" sergah Purbo.
"Ya lumayan. Dari angka 1 sampai 10 kamu kuberi nilai 5," gurau Dini.
"Itu rendah banget Din. Apa aku se tidak perhatian itu ya ke kamu? Aku lupa sih soalnya," ucap Purbo sembari mencelupkan handuk kecil di tangannya ke dalam baskom yang berisi air hangat.
"Kamu itu laki laki paling perhatian yang pernah kutemui kok Mas," balas Dini sambil tersenyum.
Dini kembali memandangi wajah Purbo. Dia menyentuh dan mengusap rahang Purbo yang nampak kuat dan tegas.
"Jangan cemberut terus. Aku nggak pa pa kok Mas," ucap Dini dengan tatapan matanya yang sayu.
"Kita mesti ke dokter. Aku khawatir dengan kondisimu Yang. Masak iya tiba tiba lemes gitu," bujuk Purbo agar Dini bersedia memeriksakan kandungannya ke dokter.
"Aku nggak pa pa Mas. Beneran deh. Bawaannya orang hamil tua tuh emang kayak gini. Gampang capek," jawab Dini meyakinkan suaminya yang terlanjur cemas.
"Ya berarti mulai sekarang kamu jangan sampai kecapek an Yang. Santai santai saja di rumah. Kalau butuh apa apa, panggil aku. Kayak kemarin njemur baju kan tugasnya Mak Nah, jadi ya biarkan Mak Nah saja yang ngerjain. Termasuk nyiapin makanan itu kan juga tugas Mak Nah," gerutu Purbo.
"Aku kan cuma bantuin Mas. Kasihan kan kalau semua harus Mak Nah sendiri. Lagipula, bisa melayani suami itu merupakan salah satu kebanggaan dari seorang istri. Aku bahagia bisa menjadi istri yang baik untukmu Mas," sanggah Dini.
"Masih banyak waktu untuk melayaniku Yang. Tujuan paling penting saat ini adalah kesehatanmu dan buah hati kita," Purbo mencolek tahi lalat di ujung hidung Dini.
"Ngomong ngomong aku jengkel dan kecewa setengah mati sama Mak Nah. Ini udah sore, tapi dia belum juga kembali. Mungkin memang Mbah Modo dulu majikannya, tapi harus ingat dong saat ini dia mengabdi di keluarga kita," lanjut Purbo kesal.
__ADS_1
"Biarkanlah Mas. Sudah lama juga Mak Nah nggak sowan ke Mbah Modo," ucap Dini menenangkan.
"Nggak bisa gitu dong. Namanya tanggungjawab dan kewajiban itu ya harus dilakukan. Lihat sekarang, saat dia dibutuhkan malah tidak ada di rumah. Air panas habis, makanan habis. Kurasa kita perlu untuk mencari 'rewang' yang lebih niat dalam bekerja," bantah Purbo dengan ketus.
Beberapa kali Purbo memang merasa dikecewakan dengan kinerja Mak Nah. Purbo juga merasa Dini terlalu menurut dengan asisten rumah tangganya itu.
"Mas, kamu nggak boleh marah marah kayak gini," Dini berusaha menenangkan.
"Kenapa nggak boleh?" tanya Purbo.
"Kita harus menghormati orang lain Mas. Apalagi orang yang lebih tua. Yang sudah memberikan waktunya untuk mengurus kebutuhan kita sehari hari," tukas Dini menasehati Purbo.
"Dengan mengingatkan tugas dan kewajiban seseorang, bukan berarti kita tidak menghormatinya. Ketika Mak Nah siap menerima pekerjaan ini, seharusnya dia bertanggungjawab penuh Yang. Dan apakah dia bertanggungjawab dengan pergi dari pagi hingga sore hari, menelantarkan kamu dalam keadaan seperti ini? Kalau begini, ada dan tidaknya Mak Nah tidak mempengaruhi kehidupan rumah tangga kita. Jika demikian, bukankah lebih baik kita mencari 'rewang' yang lebih niat?" Purbo nampak benar benar jengkel.
"Tapi Mas, Mak Nah itu sangat berjasa untukku. Bagiku, Mak Nah seperti seorang ibu," ucap Dini.
"Aku akan memberi Mak Nah kesempatan. Kalau sampai kinerjanya seperti ini terus, maka setelah anak kita lahir aku akan memberhentikannya," ancam Purbo.
"Aku akan menyampaikan padanya nanti Mas," tukas Dini.
"Tidak. Nanti biar aku saja yang ngomong padanya," sanggah Purbo cepat.
Dini masih terlihat kurang puas dengan keputusan Purbo. Saat Dini hendak memprotes, terdengar langkah kaki di teras depan. Langkah kaki yang terdengar terburu buru.
"Nyonya, siapa yang menggali . . .," Mak Nah memasuki kamar Dini dengan tergesa gesa. Ketika melihat Purbo ada di dalam kamar, dia tidak melanjutkan pertanyaannya pada Dini.
"Nyonya kenapa?" tanya Mak Nah saat melihat Dini terbaring di kasur.
Purbo berdehem sebentar kemudian berdiri dari duduknya. Dia mendekati Mak Nah dengan tatapan penuh kemarahan.
__ADS_1
"Mak Nah, ikut saya!" ucap Purbo lirih, namun penuh penekanan.
"Baik Tuan," Mak Nah menunduk. Dia sudah mengerti kalau majikannya itu sedang murka.
Dini hanya diam saja kali ini. Tidak ada yang bisa dilakukan ketika melihat sorot mata suaminya yang berapi api.
Mak Nah berjalan mengekor Purbo. Di bawah lampu gantung ruang tamu yang berkedip sesaat, Purbo bersedekap sambil kaki kanannya mengetuk ngetuk lantai rumah yang terbuat dari semen.
"Mak Nah?" panggil Purbo.
"Dalem Tuan," Mak Nah menunduk di hadapan Purbo.
"Njenengan darimana seharian?" tanya Purbo singkat.
"Saya dari rumah Mbah Modo Tuan. Kebetulan Mbah Modo minta tolong sama saya untuk membantu beberes. Saya nggak enak hendak menolaknya," jawab Mak Nah.
"Sebelumnya, aku sangat berterimakasih pada njenengan yang sudah menemani Aku dan Dini. Tapi hari ini njenengan membuatku kecewa. Dini tiba tiba saja kondisinya lemah. Dan njenengan tidak juga pulang ke rumah. Padahal kami sangat butuh bantuan. Aku sebenarnya ingin langsung memberhentikan njenengan Mak. Maaf, ini kukatakan 'bloko suto', terus terang. Namun Dini sangat baik memberi kesempatan. Kuharap ini adalah peringatan terakhir Mak. Lain kali, kalau sampai njenengan keluyuran nggak jelas dan tak ada saat dibutuhkan aku akan langsung memberi pesangon dan mencari 'rewang' baru!" gertak Purbo mengancam.
"Maaf Tuan. Saya berjanji, kesalahan seperti ini tidak akan terulang lagi," jawab Mak Nah sambil terus menunduk.
"Segera siapkan makan untuk Dini Mak," Purbo menghela nafas kemudian berjalan kembali masuk ke dalam kamar, meninggalkan Mak Nah yang masih tertunduk di tengah ruang tamu.
Setelah majikannya masuk ke dalam kamar, Mak Nah mengangkat wajahnya. Sorot mata yang tajam dengan bola mata memerah. Kedua tangan terkepal erat dan bergetar hebat. Sementara mulutnya menyeringai menunjukkan deretan gigi yang menghitam menakutkan.
"Kalau saja bukan karena bayi itu, aku pasti sudah mencakar mulutmu yang lancang itu, Purbo! Tunggu saja!" gumam Mak Nah, menggerak gerakkan jarinya seakan dia sedang mencakar sesuatu.
Mak Nah menghela nafas, dan wajah menyeramkan itu berubah kembali seperti semula. Wajah perempuan tua yang ramah dan penuh perhatian. Kemudian, Mak Nah melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Bersambung___
__ADS_1