
Malam berbintang, cahaya bulan berpendar di kejauhan. Sepasang kaki melangkah terseok seok. Sandal gunungnya hampir putus menahan beban perjalanan yang teramat jauh. Meski nafas terasa tinggal satu atau dua helaan, namun keinginan untuk segera keluar dari pekatnya kegelapan hutan membuat otot otot di tubuhnya tak mau berhenti melangkah.
Bermandikan peluh, Hasan berhasil keluar dari dalam hutan. Dia melirik arloji berwarna perak yang ada di tangan kirinya. Sudah jam 7 malam. Seharian penuh dia berputar putar mengitari jalan berkabut di kaki bukit manik manik kecamatan K.
Hasan kini mencapai jalan desa yang sudah beraspal. Beberapa puluh meter di depan nampak cahaya lampu rumah warga yang gemerlap bersaing dengan sinar bintang di angkasa.
"Alhamdulillah," Hasan mengucap syukur berhasil keluar dari hutan. Meskipun saat ini dia masih bingung, harus menuju ke arah mana.
Rasa lelah yang menumpuk membuat pijakan Hasan goyah. Kakinya gemetar dan akhirnya dia ambrug di tepian jalan beraspal. Di atas rerumputan yang sedikit basah Hasan meluruskan kedua kakinya. Dia menghela nafas, menatap langit yang berbintang. Tak ada lagi kabut tebal yang menghalangi pandangan. Hasan benar benar merasa lega.
Rasa haus mulai mencekik. Hasan harus segera meminta pertolongan, dia sangat butuh air untuk mengusir dahaga. Namun memaksa tubuhnya untuk melangkah kembali rasanya mustahil. Jangankan untuk berjalan, berdiri saja sekarang tak mampu. Otot otot kaki Hasan membengkak.
Saat Hasan mulai putus asa, sorot lampu motor berpendar di kejauhan. Suara knalpot motor dua tak yang terdengar berisik bagi sebagian orang, namun terdengar merdu sebagai malaikat penolong bagi Hasan. Seorang laki laki memakai kopyah, usianya mungkin sekitar 50 an tahun nampak menaiki motor dengan gayanya bagaikan pembalap meliuk liuk menghindari lubang lubang di jalanan.
"Pak toloonggg!" teriak Hasan sambil melambai lambaikan tangannya.
Pengendara motor berhenti tepat di tepi jalan di hadapan Hasan. Sorot lampu motornya menyinari tubuh Hasan yang selonjoran di rerumputan. Hasan nyengir sambil mengatur nafas.
"Hei Dik. Ngapain kamu di tempat gelap begini? Nyari bekicot?" tanya Bapak pengendara motor. Dia masih duduk di atas jok motornya. Kumisnya samar samar nampak lebat di tengah kegelapan.
"Pak, saya minta tolong," ucap Hasan lirih.
"Sek sebentar. Jangan jangan kamu salah satu rombongan mahasaswi. . .eh, kliru ding, mahasiswa yang melakukan penjelajahan. Kamu yang dilaporkan hilang siang tadi ya?" tanya Bapak pengendara motor.
"Iya Pak. Itu saya. Kok Bapak tahu?" Hasan balik bertanya.
__ADS_1
"Lhooo, aku itu Mbah Bayan di desa. Tadi, teman temanmu melapor ke balai desa katanya ada salah satu mahasiswa yang ilang di bukit manik manik. Ternyata kamu toh," ucap Bapak bapak yang menyebut dirinya Mbah Bayan itu.
"Terus piye ini? Bisa jalan nggak?" Mbah Bayan kembali bertanya. Dia masih duduk di atas jok motornya.
"Nggak kuat Mbah Bayan. Rasanya lututku lemas," jawab Hasan pasrah.
"Lho lho lho, lha masih muda gini kok dengkulnya wes kopong. Kebanyakan kamu ini," seloroh Mbah Bayan.
"Kebanyakan?" Hasan mengernyitkan dahi.
"Iya, kebanyakan jalan. . .ha ha ha," Mbah Bayan tertawa serak. Berikutnya dia terbatuk batuk.
"Yok naik tak bonceng tak antar ke teman temanmu," lanjut Mbah Bayan setelah batuknya mereda. Dia menepuk nepuk dadanya sendiri.
"Bantuin Mbah. Kakiku kaku," pinta Hasan sedikit merengek.
"Pegangan yang erat," ucap Mbah Bayan pada Hasan yang sudah duduk di jok belakang.
"Apa bakal ngebut Mbah?" tanya Hasan sembari mengalungkan tangannya di pinggang Mbah Bayan.
"Lhooo bukan lagi, mbalap dong. Gas pol rem poll semrinthilll," ucap Mbah Bayan melepas koplingnya. Ban depan sedikit terangkat dan motor segera melaju meraung raung di tengah kegelapan.
"Heh, kamu tadi kemana saja kok ilang? Teman temanmu nyariin sudah heboh banget lho. Mungkin saat ini mereka juga nggak enak makan minum," tanya Mbah Bayan sambil mengemudi motornya.
"Aku kobeng Mbah," jawab Hasan singkat.
__ADS_1
"Lagian kalian yo aneh, bukit manik manik itu terkenal wingit kok malah jelajah disana," gerutu Mbah Bayan.
"Tempatnya indah Mbah, eksotis," sambung Hasan.
"Aku yang warga sini saja pikir pikir lho Mas kalau mau ke hutan area sana. Oh iya, namamu siapa Mas?" tanya Mbah Bayan.
"Hasanudin bin Wagiman Mbah. Panggil saja Hasan," ucap Hasan memperkenalkan diri.
"Ohh, tak panggil Wagiman ya kalau begitu," sambung Mbah Bayan cuek. Hasan diam saja tak menyahut. Hasan menduga, Orangtua yang tengah memboncengnya itu mungkin dulunya suka ikut dagelan.
"Kamu tahu, di malam malam tertentu di tengah hutan sana terdengar suara keramaian. Seperti ada orang yang tengah hajatan. Padahal bukit manik manik kan seluruhnya berupa belantara, mana mungkin ada hajatan kan. Suara gamelan paling sering terdengar di rabu pahing atau jumat kliwon," ucap Mbah Bayan sambil mengelus elus tengkuknya menggunakan tangan kiri. Tangan kanannya masih sibuk menarik gas lebih dalam.
"Emmm, memangnya nggak ada pemukiman atau desa gitu Mbah di tengah hutan sana?" tanya Hasan sambil menunjuk kaki bukit yang penuh pohon pohon besar.
"Tanganmu jangan nunjuk nunjuk!" bentak Mbah Bayan.
"Ya nggak ada lah. Satu satunya desa terdekat dengan bukit manik manik itu ya desa Karang ini. Eh, tapi dulu katanya ada sih desa kecil di tengah hutan sana," ujar Mbah Bayan.
"Sekarang sudah nggak ada Mbah?" tanya Hasan lagi.
"Ya ini cerita turun temurun. Konon katanya dulu ada sebuah desa di tengah hutan. Namanya desa Ebuh. Yang artinya desa kabut. Desa itu dulu tempatnya orang orang bersemedi, pati geni, tirakat, pokoknya begitulah. Namun lama kelamaan desa itu ditinggalkan, karena perubahan zaman. Nggak ada lagi orang yang melihat atau menemukan bekas dari desa itu. Musnah, hilang, menyatu dengan alam," terang Mbah Bayan.
"Tapi ada satu cerita lagi, desas desus dari warga yang biasa mencari kayu bakar di hutan. Katanya kadang kadang warga ada yang melihat ada pasar di tengah hutan. Bahkan ada yang ikut belanja di pasar itu. Nyampek rumah bingung, wong niat nyari kayu bakar dapatnya kok ikan kutuk, udang kali, kayak gitu. Entahlah, bener atau tidaknya aku pun nggak tahu Mas," Mbah Bayan mengakhiri ceritanya. Hasan manggut manggut mendengarkan.
Motor yang dikendarai Mbah Bayan sampai di lapangan samping balai desa. Disana berdiri sebuah tenda dengan lampu petromak yang menyala terang. Ada juga api unggun dengan aroma ketela bakar yang harum.
__ADS_1
Saat motor Mbah Bayan berhenti, beberapa orang di dalam tenda segera menyambut. Ada 2 orang laki laki dan 3 perempuan yang langsung menghambur ke arah Hasan. Wajah wajah lelah dan cemas kini nampak sumringah melihat kedatangan Hasan yang kembali setelah tersesat seharian di hutan.
Bersambung___