KOBENG

KOBENG
Patangpuluh Songo


__ADS_3

Semakin malam udara dingin kian terasa menggigit. Dalam tidurnya, Purbo tak kuasa menahan suhu beku yang benar benar menusuk. Mungkin sudah lewat tengah malam, suhu udara terus menerus turun.


Dalam tidur, Purbo memeluk erat lututnya. Tubuhnya menggigil tertekuk. Giginya terdengar gemeretak beradu. Saat itulah, terasa kain hangat menutupi seluruh badan.


Sepertinya Dini membetulkan letak selimut di tubuh Purbo. Pelukan yang lembut diiringi deru nafas yang entah kenapa terdengar kasar berhembus menerpa tengkuk Purbo yang terbuka. Aroma anyir tercium, disertai udara dingin yang benar benar beku, membuat bulu bulu halus Purbo berdiri.


Purbo enggan membuka mata. Tidur di dalam selimut terlalu nyaman untuknya. Suasana benar benar tenang dan hening selama beberapa menit setelah tubuh Purbo tertutup selimut seutuhnya. Namun, tiba tiba Purbo merasakan Dini yang berbaring di sebelahnya bergerak meninggalkan ranjang. Mau kemana istrinya itu? Ke kamar mandi kah? Tapi bukankah dari kemarin Dini tak sanggup menggerakkan tubuhnya dari tempat tidur. Bahkan untuk buang air kecil pun harus dibantu Mak Nah.


Terdengar langkah kaki yang diseret pelan, nyaris tak ada suara. Setengah tertidur telinga Purbo masih bisa menangkap suara jejak kaki yang aneh. Bunyinya tak beraturan, seolah satu telapak kaki menapak ke lantai, sedangkan kaki yang sebelah diseret begitu saja.


Dengan sedikit memaksa, Purbo membuka matanya perlahan. Meski buram Purbo dapat melihat sosok istrinya berjalan menuju pintu kamar. Punggungnya yang bidang tertutup rambut hitam terurai panjang. Piyama putih kecokelatan lusuh dengan bekas seperti lumpur di ujung lengannya. Sungguh aneh, padahal waktu tidur tadi, seingat Purbo Dini mengenakan piyama putih bersih.


Lebih anehnya lagi, Dini terlihat berjalan terseok seok. Terlihat jelas, telapak kaki kiri Dini diseret. Istrinya itu berjalan pincang. Dalam keadaan setengah tidur, benak Purbo bertanya tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dengan kaki kiri Dini?


Rasa penasaran membuat Purbo memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Kepala terasa berat, Purbo mengambil nafas sejenak dan duduk bersandar pada dinding kamar. Udara dingin merayunya untuk kembali masuk ke dalam selimut.


Purbo menguap lebar, dan menggeliat meregangkan badannya. Dia menoleh ke tempat tidur Dini. Terlihat lusuh, bekas Dini berbaring. Dan ada sesuatu yang tertinggal di atas sprei berwarna putih itu. Gulungan rambut se genggaman tangan tergeletak disana, menimbulkan aroma anyir dan apek yang menguar di udara.


Purbo menyingkap selimut yang menutupi separuh tubuh bagian bawah. Dia menyambar sarung di atas kursi depan meja rias. Mengalungkan di lehernya kemudian berjingkat keluar kamar.


Suasana sepi dan lengang menyambut. Ruang tamu gelap gulita tanpa pencahayaan. Purbo berdiri di ambang pintu kamar. Sempat terbersit di benaknya untuk kembali masuk ke dalam kamar, kemudian sayup sayup terdengar suara orang berbincang bincang dari arah dapur.

__ADS_1


Dengan perlahan, Purbo mengendap ngendap menuju dapur. Melewati ruang kerja yang nampak kosong. Figura figura berdebu dengan sarang laba laba bergelantungan dibiarkan terpasang di dinding ber cat kusam. Purbo terus melangkahkan kakinya, meski tengkuk sudah membesar, merinding hebat.


Sampai di ruang makan Purbo menghentikan langkah. Dari balik pintu dia menguping pembicaraan dua orang perempuan yang ada di dapur. Dari suara yang terdengar, jelas Dini dan Mak Nah tengah berbincang bincang serius.


"Lusa rabu wage. Waktunya kumpul lho Nyonya," ucap Mak Nah. Suaranya terdengar lebih serak dari biasanya.


"Gimana dengan Mas Purbo Mak?" tanya Dini. Berbeda dengan Mak Nah, suara Dini malah terdengar lebih kecil melengking.


"Besok tak buatin parem khusus. Pokoknya suamimu itu nurut, manut, minum beres," jawab Mak Nah meyakinkan.


"Emm kian hari Mas Purbo semakin banyak tanya tanya Mak," keluh Dini kemudian.


"Terus gimana Mak?" tanya Dini terdengar panik.


"Ya nggak gimana gimana Nyonya. Pokoknya Nyonya tenang saja. Semua sudah dijamin sama Mbah Modo. Nyonya pasti bahagia di desa Ebuh ini," Mak Nah menenangkan.


"Tenang Nyonya, suami njenengan itu juga nggak bakal bisa kemana mana kok," ucap Mak Nah sekali lagi.


Purbo sangat terkejut mendengar obrolan tengah malam itu. Meski masih banyak hal yang tidak dia mengerti maksudnya, namun yang jelas kini Purbo tahu kalau Dini dan Mak Nah berkomplot.


Perlahan Purbo mundur beberapa langkah. Percakapan Dini dan Mak Nah sudah berakhir. Bisa saja istrinya itu segera kembali ke kamar tidur. Sayangnya, karena kurang berhati hati, tumit Purbo tersandung kaki meja ruang makan. Menimbulkan suara berderit yang memecah kesunyian malam.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Purbo segera memutar badan dan berlari sambil berjinjit agar tak ada suara yang tercipta dari langkah kakinya. Dia kembali masuk ke dalam kamar dan pura pura tidur di dalam selimut.


Purbo mencoba memejamkan mata. Namun karena baru berlari dari ruang makan hingga kamar tidur, bulir bulir keringat susah dicegah untuk keluar melalui pori pori kulit. Peluh pada akhirnya tetap menetes di dahi Purbo meski suhu udara sedang beku.


Detik berganti, menit berlalu. Tak ada tanda tanda istrinya kembali ke dalam kamar. Purbo masih berusaha mengatur nafasnya yang ngos ngosan. Sesekali dia mengusap keringat yang ada di dahinya.


Terdengar langkah kaki mendekati kamar. Purbo langsung memejamkan matanya, pura pura tidur. Angin semilir bertiup, saat pintu kamar dibuka. Purbo tetap memejamkan matanya, untuk meyakinkan siapapun yang ada di ambang pintu kamar kalau dirinya memang benar benar sudah tidur.


Langkah kaki yang diseret kembali terdengar. Detik berikutnya, ranjang terasa sedikit bergoyang. Seseorang merebahkan tubuhnya di samping Purbo.


Purbo terus berpura pura tidur, diam tak bergeming. Purbo yakin, Dini tidak tahu kalau dia baru saja menguping pembicaraan. Padahal saat ini Purbo melakukan sebuah kesalahan fatal. Dia masih mengalungkan sarung di leher, padahal seharusnya sarung itu tergeletak di kursi depan meja rias. Dan sebenarnya Dini menyadari hal itu.


Sementara itu tepat jam setengah 3, atau biasa disebut sepertiga malam terakhir, sorot lampu motor memasuki sebuah halaman rumah yang luas. Pohon asem tumbuh lebat di depan rumah tersebut. Rumah bergaya joglo, dengan dinding dari kayu jati tua yang sudah dibakar bagian ujungnya.


Sosok laki laki bertubuh tegap turun dari motor. Dia mengenakan sebuah udheng atau ikat kepala bermotif batik. Sesekali tampak mulutnya terbuka lebar, menguap. Wajar saja, jam jam ini merupakan waktu untuk mata terpejam. Namun karena permintaan Mbak Yu nya sore tadi yang tak bisa ditunda, dia tetap berangkat tengah malam ke rumah yang terletak di tengah perbukitan terpencil itu.


Laki laki itu berjalan menuju pintu rumah yang terukir gambar gunungan besar. Perlahan dia mengetuk pintu.


"Kulonuwun Mbah Yon."


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2