KOBENG

KOBENG
Patangpuluh Pitu


__ADS_3

Cat dinding berwarna putih bersih. Lantai keramik mengkilap dengan aroma karbol yang cukup wangi. Jam dinding bundar terpasang di atas pintu, menghasilkan bunyi berdetak yang khas. Selang infus menetes perlahan dengan cairan bening yang menyisakan seperempat bagian.


Perempuan tua tengah duduk di atas kursi besi menghadap ranjang dengan sprei berwarna biru muda. Tangannya sibuk merajut benang wol. Dengan tatapan sayu, sesekali memandangi anaknya yang masih terbaring tak sadarkan diri. Perban terpasang di beberapa bagian tubuh anak laki laki semata wayangnya itu.


Bu Sudarsih, masih terlihat cantik meski rambutnya sudah memutih. Kulitnya putih bersih menyembunyikan kerutan kerutan penuaan. Kacamata bulat terpasang di pangkal hidungnya yang mungil. Sesekali dia terbatuk. Batuk kering yang terdengar menyiksa.


"Nggerr, cepet sembuh ya. Cepet bangun. Apa kamu nggak kasihan sama Ibuk?" gumam Bu Sudarsih dengan mata berkaca kaca.


Anak Bu Sudarsih mengalami kecelakaan motor di tepian telaga kota sebelah sejak beberapa hari yang lalu. Dengan beberapa luka di tubuh dan kepala, kondisinya dalam keadaan koma. Tim dokter terus memantau dan memberikan pelayanan terbaik, meski peluang selamat tak lebih dari 60 persen.


Segenap doa dan harapan dipanjatkan Bu Sudarsih di sepertiga malam setiap harinya. Tak ada orangtua yang ingin anaknya celaka. Bahkan jika boleh meminta, Bu Sudarsih siap menggantikan kondisi anaknya itu. Biarlah orangtua yang menanggung luka, langkah kaki anak masih panjang, masa depan masih terbentang luas. Begitulah yang ada di benak Bu Sudarsih beberapa hari ini.


Terdengar suara pintu diketuk dari luar, disusul suara langkah kaki mendekati tempat duduk Bu Sudarsih. Seorang perawat dengan name tag bertuliskan Diana, tersenyum menatap perempuan tua yang masih asyik merajut itu.


"Ada apa Mbak?" tanya Bu Sunarsih heran. Seingatnya dia tidak memanggil dan membutuhkan bantuan perawat saat ini.


"Ada yang mencari ibuk," jawab perawat Diana kalem.


"Siapa?" Bu Sudarsih mengernyitkan dahi.


"Katanya, mereka teman anak Ibuk. Mereka menunggu di luar," perawat Diana sekilas memandang anak Bu Sudarsih yang masih terkulai tak berdaya.


Bu Sudarsih memicingkan mata. Rasa penasaran mulai muncul di benaknya. Siapa gerangan? Setahu Bu Sudarsih, anak laki lakinya tidak memiliki terlalu banyak teman. Anak laki lakinya itu cukup tertutup dan terlalu pemilih dalam bergaul. Lagipula semua temannya sudah berkunjung kemarin.


Dipenuhi rasa penasaran, Bu Sudarsih berjalan perlahan ditemani perawat Diana. Bu Sudarsih membuka pintu, dan barulah nampak 5 remaja duduk di bangku panjang depan kamar. Wajah wajah yang asing, Bu Sudarsih merasa belum pernah bertemu dengan semua tamunya itu.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Bu Sudarsih. Kerutan kerutan di dahinya semakin tercetak jelas.


Kelima remaja tersebut segera berdiri, menyalami Bu Sudarsih dan memperkenalkan diri. Mereka adalah Hasan, Asrofi, Nita, Yolla dan Laila. Gang club pecinta alam yang baru pulang dari kegiatan penjelajahan.


"Kalau begitu saya permisi dulu," perawat Diana menyela, tersenyum ke arah Bu Sudarsih.


Sepeninggal perawat Diana, Bu Sudarsih hanya bisa memandangi satu persatu wajah tamunya itu. Dia yakin belum pernah bertemu mereka semua. Mungkin memang Bu Sudarsih mulai menua, tapi dia tidak pikun. Lagipula agak mustahil rasanya anak laki lakinya berteman dengan para mahasiswa yang berusia di bawahnya.


"Mungkin ibu bingung dan asing melihat kami," ucap Hasan menyadari wajah heran dari Bu Sudarsih.


"Kami memang belum pernah bertemu njenengan sebelumnya," lanjut Hasan.


"Ohh, begitu kah? Lalu kenal dengan anakku dimana?" tanya Bu Sudarsih.


"Terus? Tujuan kalian kemari untuk apa?" Bu Sudarsih mulai merasa membuang waktunya untuk hal sia sia. Menanggapi para pemuda aneh yang entah datang darimana.


"Ini mungkin terdengar aneh Bu. Tapi saya merasa harus menyampaikan hal ini pada ibu. Saya bertemu dengan Mas Purbo kemarin pagi," ucap Hasan meyakinkan.


Bu Sudarsih menghela nafas. Dia menatap tajam pada Hasan. Bola mata yang kecokelatan itu terlihat bergetar. Tak ada dusta yang terlihat.


Sedangkan Hasan merasa sedikit ngeri dipandangi oleh perempuan tua itu dengan tatapan yang menusuk. Bu Sudarsih memang nampak mengintimidasi.


"Coba jelaskan detailnya," ucap Bu Sudarsih setelah beberapa saat termenung memandangi Hasan.


Hasan pun segera menceritakan awal mula pertemuannya dengan Purbo. Kondisi Purbo yang terlihat sehat dan bahagia. Serta penampakan seram yang dia saksikan di dalam kamar. Semua diceritakan Hasan dengan hati hati dan terperinci.

__ADS_1


"Saya lihat berita cukup kaget Bu. Ternyata Mas Purbo baru mau menikah. Padahal pas bertemu saya di tempat itu, dia ngomong kalau istrinya tengah hamil tua," pungkas Hasan mengakhiri ceritanya. Bu Sudarsih diam saja tak menyahut. Dahinya semakin nampak mengkerut.


"Tapi saya yakin Bu, kalau Mas Purbo yang saya temui di rumah itu adalah anak ibu. Orang yang sama kok, sumpah Bu. Saya nggak salah orang, dan juga saya nggak bohong. Saya yakin sekali saat melihat wajah Mas Purbo di berita online," Hasan mencoba meyakinkan Bu Sudarsih. Meskipun hal yang disampaikannya terasa mengada ada dan tidak masuk akal.


"Saya percaya kok. Anak saya itu kecelakaan motor beberapa hari sebelum pernikahannya dilangsungkan. Aroma calon pengantin itu wangi, disukai oleh 'mereka'. Makanya setiap calon pengantin itu seharusnya dipingit. Saya yang sembrono, mengijinkannya mengambil gaun pengantin sendirian. Saya marah pada diri saya sendiri. Sebagai orangtua tidak bisa menjaga dan melakukan pakem yang sudah ada sejak dulu," Bu Sudarsih nampak menitikkan air mata.


"Kami pun tidak tahu harus berbuat apa Bu. Menyampaikan hal ini pada njenengan, hanya itu satu satunya yang bisa kami lakukan untuk Mas Purbo," Hasan ikut larut dalam rasa sedih dan bersalah.


"Dimana tepatnya kamu bertemu anakku?" tanya Bu Sudarsih kembali dengan tatapannya yang tajam menusuk. Hasan menelan ludah, sedikit grogi.


"Eee, di bawah bukit manik manik Bu," jawab Hasan sedikit tergagap.


"Di desa K ujung selatan kabupaten ini Bu," sambung Asrofi melengkapi.


"Terimakasih. Dan yakinlah apa yang sudah njenengan semua sampaikan pada saya itu sangat berarti," Bu Sudarsih sedikit membungkukkan badannya.


"Kami hanya bisa mendoakan semoga Mas Purbo segera sembuh," ucap Asrofi ikut membungkuk.


Setelahnya, 5 sekawan itu berpamitan. Mereka benar benar tulus ikut mendoakan kesembuhan Purbo. Terutama Hasan, dia merasa terikat dengan sosok Purbo yang ditemuinya di dunia antah berantah itu. Dia ingin sekali menolong Purbo, namun untuk saat ini hanya inilah yang bisa dia lakukan.


Setelah kepergian 5 mahasiswa itu, Bu Sudarsih segera mengambil handphone di saku sweaternya. Dia terlihat menelpon seseorang.


"Halloo Lik. Tolong kasih tahu Mbah Yon. Ada yang mengaku baru ketemu dengan Purbo di kaki bukit manik manik," ucap Bu Sudarsih lirih. Tangannya terkepal erat. Secercah harapan kesembuhan anaknya bersemi hari ini.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2