
"Haaahhhh!"
Purbo menghembuskan nafas sekuat tenaga. Dia membuka mata perlahan dan mendapati dirinya kini tengah terbaring di ranjang tempat tidurnya.
Purbo menoleh, menemukan Dini yang masih tidur miring memunggunginya. Kepala Purbo terasa berat dan sedikit pusing. Dia mencoba untuk bangun, namun sekujur tubuhnya kaku dan sulit digerakkan. Sendi sendi di bagian pundak terasa nyeri.
Dengan susah payah Purbo duduk bersandar pada dinding kamar. Dia meraih HP yang tergeletak di atas meja rias. Dia melirik jam di HP nya yang masih dalam keadaan terkunci. Jam setengah 6 pagi.
Purbo bingung dengan apa yang telah terjadi. Beberapa saat yang lalu dia sangat yakin tengah berada di halaman rumah Mbah Modo untuk melihat penghakiman terhadap Ceking. Namun, kini dia berada di atas ranjang tidurnya.
"Mimpi?" gumam Purbo menggaruk garuk kepala, dan membuat rambutnya semakin berantakan.
Jari Purbo merasakan sesuatu yang lengket dan dingin di bagian belakang kepala. Dia menarik benda yang menempel di rambutnya itu. Tanah liat berwarna merah seukuran jari kelingking kini ada di genggaman tangannya.
"Berarti bukan mimpi," Purbo kembali bergumam. Purbo ingat, dirinya ditubruk hingga terjungkal oleh warga desa atas perintah Mbah Modo. Tanah merah yang menempel di rambut Purbo adalah bukti bahwa kejadian itu nyata dan benar terjadi.
Purbo menyingkap selimut dan bergegas keluar kamar. Sedikit sempoyongan dia berjalan ke ruang tamu. Kendi yang tadi malam berisi parem busuk itu sudah tidak ada. Purbo kembali melangkahkan kakinya keluar rumah.
Sampai di teras depan, nampak Mak Nah sibuk menyapu halaman menggunakan sapu lidi. Melihat kedatangan Purbo Mak Nah melayangkan seulas senyum.
"Selamat pagi Tuan," ucap Mak Nah sopan.
"Pagi Mak," sahut Purbo acuh.
Purbo terus berjalan melewati Mak Nah yang mengumpulkan dedaunan kering di bawah pohon mangga.
"Tuan mau kemana?" tanya Mak Nah heran.
"Mau jalan jalan Mak. Tubuhku terasa kaku, perlu digerakkan biar nggak gampang sakit," ucap Purbo beralasan.
__ADS_1
Purbo keluar dari halaman rumah dengan berlari lari kecil. Mak Nah meletakkan sapu lidinya, memandangi punggung Purbo yang terlihat semakin menjauh. Tak ada lagi senyum ramah yang tadi dia tunjukkan pada majikan laki lakinya itu. Mak Nah melotot dengan tangan terkepal erat hingga terlihat sedikit bergetar.
Semakin cepat Purbo mengayunkan langkah kakinya. Kabut tebal nan pekat tak menghalangi keinginan Purbo untuk meyakinkan diri bahwa acara pesta penghakiman yang sempat dia saksikan adalah nyata.
Sampai di pemukiman warga desa Ebuh, Purbo memperlambat langkah. Jalanan sudah ramai, penuh sesak dengan orang orang berlalu lalang. Purbo sedikit heran, karena beberapa orang nampak hanya berputar putar di area pasar. Tak ada yang dibeli, tapi mereka terus berseliweran menghampiri satu persatu kios yang ada di pasar desa.
Sambil menunduk Purbo terus berjalan. Sebisa mungkin dia menghindari beradu pandang dengan orang orang. Melewati pasar desa, Purbo terus melangkahkan kakinya menuju kaki bukit.
Suasana jalanan di sekitar hutan bambu terasa sepi. Hanya ada beberapa laki laki yang berjalan di depan Purbo membawa sabit, juga 'wangkil' (semacam cetok) untuk keperluan berkebun. Mereka berbelok ke jalan setapak di antara rumpun bambu yang rindang.
Akhirnya rumah sang kepala desa terlihat di antara gumpalan gumpalan kabut putih. Halaman rumah dengan tanah merah menyala sangat kontras dengan sekelilingnya yang nampak suram.
Japra melihat kedatangan Purbo dengan tatapan mata yang tajam. Badannya yang tambun mengingatkan Purbo pada orang orang yang menyeret Ceking terbungkus kain putih lusuh tadi malam.
"Ada keperluan apa?" tanya Japra ketus dari balik pagar yang terkunci.
Purbo tak segera menjawab pertanyaan Japra. Dia melongok ke tengah halaman Mbah Modo. Dia mencari bekas kayu kayu besar yang tadi malam dibakar untuk api unggun.
"Oh ini anu Eng," Purbo tergagap.
"Anu anu, anu mu kenapa?" Japra kembali membentak.
"Cuma jalan jalan. Olahraga," ucap Purbo beralasan.
Pintu rumah tiba tiba terbuka. Mbah Modo terlihat berjalan menggunakan tongkat kayunya. Sang kepala desa tersenyum menatap Purbo yang berdiri di luar pagar.
"Kalau jalan jalannya sudah selesai, silahkan mampir sini. Ngopi sama Mbah sini lho," sambung Mbah Modo berteriak memanggil Purbo.
"Ah, nggak Mbah terimakasih. Saya pamit," jawab Purbo sambil berteriak juga.
__ADS_1
Purbo berbalik badan hendak pergi dari rumah sang kepala desa, saat menyadari keanehan yang baru saja terjadi. Padahal jarak rumah Mbah Modo dengan pagar depannya cukup jauh, lagipula Mbah Modo ada dalam rumah dengan pintu tertutup. Timbul tanya di benak Purbo, bagaimana mungkin Mbah Modo tahu kalau Purbo hanya sekedar jalan jalan pagi, atau mana mungkin kepala desa itu bisa mendengar percakapan Purbo dengan Japra?
Dalam kebimbangan, Purbo kini melangkah pergi meninggalkan rumah Mbah Modo. Api unggun yang seharusnya menyisakan bekas terbakar ataupun arang di tengah halaman rumah Mbah Modo nyatanya tak ada sama sekali. Halaman rumah sang kepala desa bersih, seolah kayu kayu besar yang terbakar tadi malam tidak pernah ada disana.
"Ahh, sial! Aku jadi pusing!" Purbo memijat mijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Purbo kembali menyusuri area pasar desa yang semakin padat. Semua orang terlihat acuh pada Purbo. Tak ada tegur sapa yang seharusnya menjadi ciri khas warga desa yang ramah.
Dalam keadaan melamun, tanpa sadar Purbo sampai di depan warung rawon milik Mbak Ajeng. Sang penjual rawon yang cantik itu nampak cekatan menuang bumbu racikan ke dalam dandang besar berisi kuah hitam beraroma gurih dan segar.
"Ngapain kesini? Aku kan nggak bawa duit," Purbo bergumam sendirian.
Tiba tiba sebuah tepukan cukup keras mengenai pundak Purbo.
"Heii, silahkan mampir," ucap Jasman, suami Mbak Ajeng.
"Ah nggak Mas, aku tadi cuma jalan jalan kok," jawab Purbo tergagap.
Purbo merasa Jasman sangat ramah dan berbeda dengan warga desa yang lain. Saat semua orang terasa bersikap acuh, Jasman selalu tersenyum saat bertemu dengan Purbo.
"Sudahlah, silahkan mampir. Kadang langkah kaki itu di luar kesadaran malah menuntunmu ke tempat yang tepat. Begitupun saat ini," ucap Jasman. Purbo mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Terimakasih, tapi aku mau pulang saja Mas," sahut Purbo tetap menolak ajakan Jasman.
"Hmmm, baiklah. Tapi kalau ada waktu dan butuh teman cerita datanglah kemari," Jasman tersenyum sekilas dan kembali sibuk menghidangkan dagangannya pada para pelanggan.
Sedikit ragu Purbo mengangguk dan tersenyum. Purbo melangkah pergi meninggalkan warung rawon yang terus mengepulkan asap dengan aroma wangi rempah rempah itu.
Purbo sampai di rumah kembali sekitar jam 7 pagi. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan menemukan Mak Nah tengah membasuh tubuh Dini dengan air bunga mawar hangat. Dini tersenyum melihat kedatangan suaminya itu.
__ADS_1
Bersambung___