KOBENG

KOBENG
Nemlikur


__ADS_3

"Habis jalan jalan darimana Mas? Rajin banget pagi pagi sudah jogging," tanya Dini dengan seulas senyum di wajahnya yang nampak pucat.


Purbo terdiam memperhatikan raut muka Dini. Entah kenapa pagi ini Dini terlihat sangat lemah. Cekungan pada dua bola matanya terlihat menghitam. Tulang pipinya juga nampak menonjol.


"Yang, kamu pucet banget sih?" Purbo balik bertanya. Dia mengkhawatirkan kondisi Dini.


"Namanya juga hamil tua. Tubuh Nyonya mudah lelah itu sudah pasti. Makanya Tuan lebih baik diam di rumah menemani Nyonya," sahut Mak Nah kalem, namun nada bicaranya terdengar menyebalkan.


"Aku kan keluar jalan jalan untuk olahraga Mak. Demi kesehatan juga. Kan aku mau jadi suami siaga, harus selalu bugar dong," balas Purbo sewot.


"Mas, duduk sini," panggil Dini. Dia menepuk nepuk kasur di sebelahnya.


Purbo mendekat, dan mengambil duduk di sebelah Dini. Mak Nah yang telah selesai membasuh badan majikannya itu segera beringsut mundur dan keluar kamar. Purbo merasa Mak Nah tengah menghindarinya.


"Mas tadi baru jalan jalan darimana?" Dini mengulangi pertanyaannya.


"Ya cuma jalan jalan keliling desa kok," kilah Purbo.


"Ngomong ngomong, kenapa Mak Nah seperti menghindariku?" tanya Purbo setengah berbisik.


"Ya mungkin karena kemarin kamu marah dan mengancamnya Mas," jawab Dini kalem.


"Dia ngadu padamu?"


"Enggak. Aku yang tanya. Mas?" panggil Dini sambil membelai lembut dagu Purbo.


"Hmm?" Purbo memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut nan beku istrinya itu.


"Jangan marah marah sama Mak Nah. Dia sangat berjasa untuk kita. Tanpa Mak Nah, kita tak mungkin bisa bersatu," Dini tersenyum penuh arti.


"Hah? Berarti Mak Nah yang dulu menjodohkan kita? Bagaimana ceritanya?" tanya Purbo antusias.


"Yaaahh, emmm. . .Mak Nah yang mempertemukanku denganmu Mas. Saat langit tengah gerimis, aku yang tak punya siapa siapa lagi, dikenalkan padamu," jawab Dini mengingat ingat.

__ADS_1


"Gerimis? Apakah waktu itu kamu bawa payung hitam?" tanya Purbo menebak. Teringat dengan bayangan wanita berpayung hitam yang berbicara padanya.


"Payung? Hitam?" Dini mengernyitkan dahi.


"Iya, dan kamu menagih janjiku setelah pulang kerja," sahut Purbo.


"Kamu mimpi Mas," jawab Dini cepat.


Purbo menatap Dini heran. Bayangan perempuan berpayung hitam waktu itu terlihat sangat nyata. Namun dari yang terlihat, Dini benar benar tak mengerti maksud ucapan Purbo. Kalau perempuan berpayung hitam itu bukan Dini, lalu siapa?


Lamunan Purbo buyar saat Mak Nah kembali masuk ke dalam kamar. Dengan kepala tertunduk perempuan tua itu membawa nampan berisi satu cangkir minuman yang mengepulkan asap putih tipis di atasnya. Purbo dapat menebak minuman itu adalah wedang parem.


"Silahkan diminum tuan," ucap Mak Nah menyodorkan cangkir dengan air cokelat bening di dalamnya. Aroma wangi rempah rempah jahe menguar di udara.


Purbo tidak segera mengambil wedang parem dari Mak Nah.


"Kenapa Tuan? Wedang parem sangat baik diminum pagi hari lho," ucap Mak Nah sekali lagi.


Purbo menelan ludah. Dia teringat dengan kejadian tadi malam. Meskipun ingatan kejadian itu kini terasa membingungkan, apakah yang dilihat Purbo benar benar nyata atau sekedar mimpi. Namun, Purbo terlanjur merasa jijik dengan wedang parem yang dibawa Mak Nah.


"Mas? Minum dong. Katanya mau sehat biar jadi suami siaga untuk istrimu ini?" Dini mengusap usap perut besarnya. Dia meminta Purbo untuk segera meminum wedang parem dari Mak Nah.


Tak ada pilihan lain bagi Purbo. Tak ada alasan untuk menolak minuman hangat beraroma rempah jahe itu. Akhirnya dia meraih cangkir yang disodorkan Mak Nah.


Purbo menghela nafas. Perlahan dia meneguk wedang parem itu sedikit demi sedikit. Sensasi hangat langsung menjalar dari pangkal lidah, tenggorokan, juga di dalam dada Purbo.


Mak Nah dan Dini bertukar pandang. Mereka nampak tersenyum lega melihat Purbo menghabiskan wedang paremnya.


"Nyonya mau diambilkan bubur untuk sarapan?" tanya Mak Nah kemudian.


"Boleh Mak," jawab Dini singkat.


Mak Nah mengangguk dan segera membereskan cangkir kosong bekas wedang parem. Kemudian dia melangkah keluar kamar untuk kembali ke dapur.

__ADS_1


"Gimana Mas? Seger kan badanmu habis minum wedang parem?" tanya Dini pada Purbo yang duduk diam saja di sebelahnya.


"Ah, perutku terasa nyaman," Purbo mengusap usap perutnya sendiri.


Mak Nah datang kembali membawa semangkuk bubur kacang hijau untuk Dini. Perempuan tua itu kali ini nampak tersenyum ramah pada Purbo. Padahal saat melihat Purbo pulang setelah jalan jalan tadi, Mak Nah terasa ketus dan acuh.


"Aku mau mandi dulu ya, badanku bau habis jalan jalan," ucap Purbo beranjak dari duduknya.


Saat Purbo berdiri, tiba tiba saja kepalanya terasa pening. Dunia seolah berputar. Suara bersahut sahutan masuk ke dalam indera pendengaran. Seolah ada beberapa orang yang tengah bercakap cakap di sekelilingnya.


Purbo mengedarkan pandangan. Semua berubah di mata Purbo. Rambut Mak Nah terlihat putih, panjang terurai hingga menyentuh lantai. Dengan mata melotot mengerikan, perempuan tua itu berdiri mematung memperhatikan Purbo. Sedangkan Dini menghilang, tak ada dimanapun.


Purbo merasakan tubuhnya gemetar, pijakan kakinya goyah. Dia hendak memanggil nama istrinya saat secara tiba tiba terlihat seorang perempuan duduk di depan meja rias, sambil menyisir rambutnya yang panjang nan hitam legam.


Purbo ambruk tengkurap di lantai kamar. Matanya masih tertuju pada perempuan di depan meja rias. Tak terlihat wajah perempuan itu. Bahkan pantulan di cermin pun nampak buram. Hingga akhirnya terdengar suara tawa meringkik yang kencang, membuat mata Purbo terpejam. Kini hanya ada kegelapan, Purbo tak sadarkan diri.


Sementara itu, di sebuah ruangan dengan dinding bercat putih bersih seorang perempuan tua tengah merajut seutas benang wol. Tangannya yang keriput sangat cekatan membentuk syal berwarna biru yang indah. Sesekali perempuan itu membetulkan letak kacamata di hidungnya.


Syal telah selesai, perempuan tua itu tersenyum sekilas. Namun, sorot matanya nampak sendu. Dia mencium syal itu bersama dengan jatuhnya butir butir air mata yang membasahi pipi. Bahunya yang kecil berguncang guncang ringan saat dia terisak.


"Seharusnya hari ini menjadi hari bahagiamu," gumam perempuan itu masih terisak.


Tok tok tok


Terdengar pintu diketuk. Perempuan muda berpakaian serba putih memasuki ruangan.


"Bu Sudarsih, anda juga perlu istirahat," ucap perempuan berpakaian putih.


Perempuan tua yang dipanggil Sudarsih itu mengusap air mata di pipinya, kemudian menoleh dan tersenyum.


"Aku nggak pa pa kok bu dokter," ucap Sudarsih lirih.


Di hadapan Sudarsih ada sebuah ranjang tempat tidur. Seseorang dengan kedua kaki yang dibalut perban terbaring di atasnya.

__ADS_1


"Doakan agar dia segera bangun Bu. Karena doa ibu lah yang paling baik untuknya saat ini," tukas perempuan berbaju putih seraya mengeluarkan sebuah stetoskop.


Bersambung___


__ADS_2