KOBENG

KOBENG
Seket Songo


__ADS_3

Adakah waktu yang lebih menakutkan dari tengah malam? Jawabannya adalah surup. Waktu dimana matahari baru saja menghilang dari pandangan, siang berganti dengan malam. Meskipun waktu ini hanya sekejap, namun kesunyiannya terasa mencekam.


Suara bayi menangis terdengar bergema di langit surup desa Ebuh. Tidak ada suara lain yang tertangkap oleh indera pendengar, bahkan burung gagak yang biasanya kerap bertengger di pepohonan hutan, kini terbungkam oleh kerasnya tangisan sang bayi. Para warga memegang obor, berdiri di pelataran rumah sang kepala desa dengan tatapan kosong.


Bayi laki laki, nampak sehat digendong oleh Mbok Yem. Kulitnya kemerahan di bawah sinar lampu kamar yang temaram. Tidak ada yang aneh, wajah bayi begitu tampan dengan hidung mungil yang terlihat mancung nan runcing.


"Anakmu lahir dengan selamat. Tampan dan sehat," ujar Purbo menitikkan air mata. Baru kali ini dia melihat proses persalinan. Meskipun dia sempat ditipu oleh perempuan di hadapannya itu, Purbo tetap ikut merasa lega, haru, dan bahagia yang bercampur menjadi satu saat ini.


"Mas, ijinkan aku memperkenalkan diri dengan cara yang benar. Namaku Sekar," bisik perempuan yang selama ini Purbo kira bernama Dini itu. Bulir bulir keringat masih membasahi sekujur badannya yang terbalut kain jarit berwarna cokelat tua. Tubuh yang sebelumnya nampak sangat kurus itu, kini terlihat normal kembali setelah melahirkan.


Bayi telah dibedong oleh Mbok Yem, dan dibawa keluar kamar. Sedangkan Mak Nah masih berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan pasangan yang dia pertemukan beberapa waktu yang lalu.


"Kenapa kamu menipuku Din? ah Sekar maksudku," tanya Purbo dengan raut muka yang begitu sendu. Bola matanya bergetar mengisyaratkan kekecewaan yang dalam.


"Aku tidak pernah menipumu Mas. Coba ingat kembali, hari dimana pertama kali kita bertemu. Kamu tiba tiba saja memanggilku Dini," jawab Sekar lirih.


Purbo termenung. Apa yang dikatakan perempuan di hadapannya itu memang benar adanya. Purbo beralih menatap Mak Nah meminta penjelasan.


"Apakah ini semua ulahmu Mak?" tuduh Purbo menahan amarah. Mak Nah menggeleng pelan.


"Aku menemukan Njenengan berjalan tanpa tujuan. Njenengan adalah sukma yang Kobeng, tersesat. Mbah Modo hanya berusaha membantu, untuk memberi Njenengan sebuah tujuan, sebuah kehidupan yang damai, menjadi warga desa Ebuh yang tenteram," jelas Mak Nah kemudian.


"Dengan membuat diriku lupa? Bukankah kalian yang membuatku tersesat? Agar aku tak bisa kembali ke raga?" sanggah Purbo.

__ADS_1


"Itu tidak benar. Tuan sendiri lah yang berusaha melupakan kehidupan yang sudah dilewati. Jiwa yang tersesat itu akibat dari pikiran yang menolak untuk kembali melakoni kehidupan yang sudah berjalan," Mak Nah membantah.


"Hah? Kebohongan apa lagi yang coba kamu rangkai Mak! Se buruk apa kehidupanku di luar sana, hingga aku mencoba untuk melupakannya? Aku memiliki calon istri yang cantik. Lihat liontin ini. Ini adalah Dini yang asli!" Purbo merogoh saku celananya, menunjukkan liontin bergambar perempuan yang dia yakini sebagai Dini.


"Aku tidak tahu Tuan. Aku tidak mengenal Njenengan di luar sana. Bagiku Njenengan adalah majikan, yang harus dilayani," jawab Mak Nah kalem.


"Bohong! Aku diberitahu agar tidak mempercayaimu Mak! Katakan, ceritakan semuanya tanpa dusta!" bentak Purbo.


"Siapa yang memberitahu Njenengan seperti itu? Jasman? Dia hanya memperalat Njenengan," bantah Mak Nah.


"Aku lebih mempercayainya daripada kamu Mak. Kamu yang mencekoki aku dengan minuman parem. Bukankah gara gara minuman itu aku lupa dengan semua hal tentang hidupku?" Purbo terus meninggikan nada bicaranya.


"Mas, tenanglah. Apa yang kamu sangka buruk, pada kenyataannya tidak seperti itu. Mungkin kami memang telah membohongimu, tapi aku dan juga Mak Nah tidak pernah memiliki niat jahat padamu," Sekar mencoba menenangkan.


"Jika memang kalian tidak ada niat jahat kepadaku, lalu mengapa tidak melepasku?" tanya Purbo. Kali ini suaranya terdengar lebih kalem.


"Itu salahku Mas. Aku menginginkanmu untuk menemaniku," Sekar tertunduk sedih.


"Nyonya Sekar sama seperti dirimu Tuan Purbo. Dia bukanlah warga asli desa Ebuh," Mak Nah menghela nafas.


"Semasa hidup dulu, aku menghabiskan waktu hanya untuk bersenang senang. Semua serba ada. Banyak laki laki yang mencoba mendekatiku. Hingga akhirnya aku memilih seorang yang kupikir terbaik di antara yang baik. Namun nyatanya aku hanya menjadi sebuah piala untuk laki laki yang tidak bertanggungjawab. Aku ditinggalkan dalam keadaan berbadan dua," Sekar terlihat menitikkan air mata.


"Apakah kamu mengambil jalan pintas dan harus terjebak di desa ini? Sama sepertiku?" Purbo menatap Sekar yang masih tertunduk, tersedu.

__ADS_1


...****************...


Sementara itu Mbok Yem membawa bayi Sekar yang berkulit kemerahan itu ke hadapan Mbah Modo yang tengah bersimpuh di tengah ruang tamu. Aroma kemenyan yang terbakar bercampur dengan wangi bunga tujuh rupa menari nari di udara. Mbah Modo tersenyum sumringah melihat bayi yang ada di dekapan Mbok Yem itu.


"Akhirnya Japra, akhirnyaaa," Mbah Modo menepuk nepuk bahu Japra yang duduk di belakangnya.


"Penerusku, pemimpin baru dari desa Ebuh akhirnya datang malam ini. Ha ha ha ha," Mbah Modo tergelak, terbahak bahak. Saking bahagianya, wajah tua itu terlihat merona dan di sudut mata butir butir air bening jatuh ke pipi.


"Mari Mbok kita bawa si Jabang Bayi ini ke depan. Semua warga sudah menunggu. Biarkan malam ini menjadi perayaan besar besaran. Semua orang wajib menari semalam suntuk sampai pagi tiba. Desa ini akan lebih kuat dan sejahtera," ujar Mbah Modo berapi api.


Mbah Modo berjalan terlebih dahulu meninggalkan kemenyan di atas pecahan genteng yang masih berasap putih tipis. Mbok Yem menyusul di belakang Mbah Modo, dan terakhir Japra berjalan dengan langkah kakinya yang lebar.


Saat Mbah Modo membuka pintu rumahnya, semua warga terlihat berdiri berjejal di halaman depan. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan memegang obor di tangan kanannya. Wajah wajah pucat dengan tatapan kosong di bawah sinar obor yang temaram berjejer menyambut sang kepala desa.


"Wargaku! Petang ini, malam ini, di hari yang sangat baik ini, di penghujung Rabu Wage manahil, telah lahir bayi laki laki. Bayi bajang yang akan menjadi pemimpin desa Ebuh, membawa desa lebih kuat dan lebih unggul dari wilayah lain," pekik Mbah Modo dengan sorot mata yang nampak mengerikan. Matanya melotot kemerahan dengan pantulan kobaran api di dalamnya.


Setelah teriakan dari Sang kepala desa berakhir, semua warga nampak tersenyum menyeringai bersamaan. Mereka menunjukkan deretan giginya yang hitam legam. Beberapa di antaranya terdengar tertawa meringkik, melengking memekakkan telinga.


"Malam ini, kita berpesta!" teriak Mbah Modo yang langsung disambut gegap gempita warganya.


"Japra, siapkan gamelan!" perintah Mbah Modo pada Japra. Anak buah Mbah Modo berwajah bengis itu mengangguk setuju dan segera beringsut mundur.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2