
Adzan isya' berkumandang, terdengar di antara deru kendaraan berlalu lalang. Gemerlap lampu membuat malam bercahaya tak ubahnya saat hari masih siang. Di wilayah kota saat malam tiba, jalanan malah semakin padat. Sesekali bunyi klakson terdengar memekakkan telinga di sebuah persimpangan jalan yang ramai.
Hasan baru saja selesai mengikuti mata kuliah yang terakhir hari ini. Dia berjalan gontai keluar dari ruang kelas. Energinya terasa terkuras habis. Seharian, dia mengikuti empat mata kuliah yang dua di antaranya merupakan mata kuliah pengulangan. Hasan mengulang mata kuliah bukan karena tidak lulus, melainkan dia merasa kurang puas dengan nilai IPK nya di semester sebelumnya.
Lampu taman kampus yang bulat putih menyambut Hasan malam ini. Dia mengambil duduk di salah satu bangku besi ber cat biru senada dengan warna dinding kampus. Hasan mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tas ranselnya. Kemudian meneguknya perlahan, hingga tandas tak bersisa.
Tanpa Hasan sadari, ada sosok yang mengamatinya dari belakang. Sosok itu berjalan mengendap endap, nyaris tak terdengar langkah dari kaki dengan kulit putih pucat terkena pantulan lampu taman.
"Hoee! Capek bang!" suara perempuan mengagetkan Hasan dari belakang.
Hasan menoleh dan menemukan Nita tengah tersenyum jahil memandanginya. Teman dekat Hasan itu terlihat cantik, meski wajahnya sedikit kusam dan nampak lelah. Hasan yakin Nita belum mandi, sama seperti dirinya yang seharian berada di kampus.
"Nggak usah ngagetin bisa nggak? Cukup tanya Sayang capek ya? Gitu? Bisa nggak?" protes Hasan sewot.
"Idiihhh, jijik," Nita terkekeh. Dia duduk di sebelah Hasan. Menengadahkan kepalanya, menatap langit yang berbintang malam ini.
"Kalau sudah lulus, terus dapat kerja, kamu mau datang ke rumahku kan?" tanya Nita tiba tiba.
"Jalan masih panjang Neng. Sabar, ikhlas, semangat kuliah, gitu lho," sahut Hasan, ikut mendongak menatap langit.
"Kalau kamu nggak gercep khawatirnya nanti ada pangeran datang ke rumah naik kuda," ucap Nita.
"Kuda lumping?" cibir Hasan.
"Kuda poni," Nita menoyor bahu Hasan.
"Sudah dengar kabar soal Sani?" tanya Hasan mengalihkan pembicaraan. Nita menggeleng.
"Tadi siang aku ketemu si ketua, Asrofi. Dia ngomong kalau Sani sering melamun, kayak orang linglung di kos an," Hasan menghela nafas, wajahnya nampak resah di bawah sinar lampu taman.
"Mereka satu kos ya?" tanya Nita.
"Iya. Kamu ingat, waktu kita ke rumah sakit untuk mengunjungi Mas Purbo, Sani nggak bersedia ikut. Aku mengira dia ingin istirahat karena capek. Ternyata saat Asrofi balik dari rumah sakit, dia menemukan Sani sedang duduk di emperan kamarnya masih memakai baju yang sama dari saat dia kesurupan malam itu," ucap Hasan penuh penekanan.
__ADS_1
"Hah? Seharian nggak ganti baju begitu?" Nita terbelalak kaget.
"Ya, bahkan kamarnya masih dalam keadaan terkunci. Barang bawaan dari penjelajahan pun dibiarkan berserakan di luar kamar," jawab Hasan.
"Jadi, Sani seharian hanya duduk diam di luar kamar? Teman teman kos yang lain nggak ada yang nanyain gitu?" Nita meragukan cerita Hasan.
"Kebetulan hari itu semuanya pada ngampus. Mereka sadarnya saat udah lewat tengah hari," Hasan menggaruk pelipisnya yang tiba tiba terasa gatal.
"Kok gitu sih? Bukannya malam itu setelah ditolong Pak Kaji semuanya normal kembali?" sergah Nita ketakutan.
"Mana kutahu. Aku benar benar merasa bersalah," Hasan terlihat menyesal. Dia tertunduk memegangi kepalanya.
"Bukan salahmu Hei!" Nita memelototi Hasan.
"Seandainya saja aku tidak sembrono sampai Kobeng. Atau seandainya saja tidak kubawa oleh oleh sajen itu, pasti semuanya akan baik baik saja," keluh Hasan, matanya nampak berkaca kaca.
"Pembelajaran untuk kita agar nggak sembrono di tempat asing. Nggak celometan, nggak asal nyaplok makanan yang nggak jelas," Nita menepuk nepuk bahu Hasan. Mencoba menenangkan laki laki berhati lembut itu.
"Berdoa San. Berdoalah, Tuhan mendengarmu. Bersabarlah, karena Tuhan akan menjawab doamu pada waktu yang tepat," jawab Nita.
Hasan terdiam mendengar ucapan Nita. Kekasih hatinya itu memberikan kalimat yang bijak, terasa meneduhkan di hati.
"Sudah malam, sebaiknya kita pulang," Nita mulai merasakan hawa dingin. Hari ini dia lupa tidak membawa jaket. Sebenarnya jam kuliah terakhir Nita, selesai setelah ashar tadi. Dia sengaja berada di perpustakaan hingga jam 7 malam untuk menunggu Hasan selesai kuliah.
"Baiklah. Parkirmu dimana tadi?" Hasan beranjak dari duduknya.
"Di parkiran lah masak di toilet," sahut Nita sambil tertawa. Hasan melengos.
Nita berjalan mendahului Hasan. Keluar dari taman kampus menuju parkiran yang terletak tak jauh dari ruang biro administrasi. Ruangan yang terlihat gelap dan sepi di malam hari. Jendela berupa kaca nako yang terlihat ketinggalan jaman, tertutup tirai dari dalam.
Udara dingin mencubit lengan Nita yang hanya tertutup selembar kain bermotif kotak kotak itu. Padahal dia penakut, tapi pandangannya tak mau lepas dari ruangan biro administrasi yang terkenal menyeramkan di kalangan mahasiswa. Begitulah manusia, perasaan takut malah semakin membuatnya penasaran.
Mungkin karena tiupan angin, tirai di dalam ruangan biro administrasi nampak bergerak gerak. Nita segera mengalihkan pandangan. Bulu kuduknya meremang, pikirannya sudah membayangkan hal hal menyeramkan ada di dalam ruangan di ujung parkiran itu.
__ADS_1
Sorot lampu motor menyilaukan, tepat mengenai wajah Nita. Hasan tersenyum jahil, menunggangi motornya mendekati kekasihnya itu.
"Ihh, silau ini lho. Kamu pengen aku 'blolok en' terus kesandung gitu?" Nita sewot. Hasan terkekeh.
"Nih," Hasan menyodorkan sesuatu kepada Nita.
"Hah?" Nita memperhatikan benda di tangan Hasan, yang ternyata adalah sebuah hoodie berwarna army.
"Udara sedang dingin," ucap Hasan singkat.
"Lha kamu?" tanya Nita saat dia sadar Hasan hanya memakai baju garis garis yang sedikit kumal.
"Aku lagi gerah. Aman," jawab Hasan sembari mengusap usap kepala Nita dengan sedikit kasar.
Nita menyembunyikan wajahnya yang tersipu. Hasan hendak menarik gas motornya, saat terasa handphone di saku celananya bergetar pelan. Sebuah telepon dari Asrofi.
"Hallo, assalamualaikum Pak Ket," Hasan mengangkat telepon dan mengucap salam.
Awalnya wajah Hasan nampak sumringah, namun setelah berbicara dengan sang ketua club pecinta Alam, senyum itu menghilang. Di bawah sorot lampu parkiran kampus yang berwarna putih bersih itu, Hasan menunjukkan ekspresi khawatir dan gusar.
"Ada apa San?" tanya Nita setelah Hasan menutup teleponnya.
"Sani dibawa ke rumah sakit," jawab Hasan tertunduk lesu.
"Kenapa?"
"Sani mencoba bunuh diri. Kata Asrofi, dari sore tadi Sani tidak keluar kamar. Karena khawatir, Asrofi dan penghuni kos yang lain mendobrak kamar Sani dan menemukannya tergeletak di atas kasur. Di bawah tempat tidur ditemukan berserakan bungkus obat batuk dalam jumlah banyak," Hasan menghela nafas.
"Kamu pulanglah. Aku mau menyusul Asrofi ke Rumah Sakit," Hasan melambaikan tangan sekejap, dan segera menarik gas motornya.
"Hati hati," ucap Nita lirih sambil memeluk hoodie di tangannya.
Bersambung___
__ADS_1