
Dengan tergesa gesa Purbo menyambar kunci mobil yang tergantung di atas meja rias dalam kamar. Suara suara pesta dengan tabuhan gong yang sedari tadi bergema kini sudah tak terdengar lagi. Mungkin saja perayaan rabu wage manahil yang sempat disebut Jasman tadi sudah selesai.
Purbo keluar rumah dan langsung disambut kabut pekat yang beraroma pandan. Aroma wangi yang seringkali Purbo hirup namun selalu bisa membuat bulu kuduknya berdiri. Purbo melompat ke halaman rumah yang sedikit basah dan becek. Meski masih agak sempoyongan Purbo memaksa kakinya untuk berlari.
Pelarian Purbo ternyata tidak berjalan mulus. Saat langkah kakinya sampai di ujung halaman rumah, nampak warga desa berdiri berjejer di tengah kabut tebal. Semua mengenakan pakaian berwarna hitam, dengan tatapan tajam tanpa senyuman.
Mak Nah berdiri di barisan paling depan. Raut wajahnya nampak bengis. Tak ada lagi senyum ramah, ataupun ekspresi menyejukkan yang biasanya dia tampilkan di hadapan Purbo.
Rambut bersanggul besar, dengan kebaya warna hitam kelam. Juga sebuah jarit batik warna cokelat menjadikan Mak Nah terlihat gagah dan mengintimidasi.
Warga yang berdiri di belakang Mak Nah tak kalah menyeramkan. Bulatan dan cekungan mata yang menghitam dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka semua berdiri tegap dengan tatapan kosong. Purbo sulit mengira ngira berapa jumlah warga yang berdiri di hadapannya. Mungkin sekitar dua puluhan orang.
Purbo menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan tandus. Takut dan bingung, dia hanya bisa berdiri diam di halaman rumah berselimut kabut. Banyak pertanyaan di benak Purbo. Sejak kapan warga berkumpul di depan rumahnya? Apakah niatnya untuk kabur dari desa berkabut ini telah ketahuan?
Purbo sampai lupa bagaimana kiranya nasib Jasman. Mungkinkah Jasman ditangkap oleh warga dan sudah dihukum seperti Ceking? Purbo sibuk memikirkan keselamatannya sendiri hingga melupakan Jasman.
"Tuan mau kemana?" tanya Mak Nah. Suaranya terdengar kalem tapi terasa menusuk.
"A aku mau pergi. Tolong jangan menghalangi. Aku sudah tahu, aku bukan warga sini," Purbo tergagap, namun masih berusaha untuk tetap tenang.
"Apakah kami ada salah denganmu Tuan? Bukankah tinggal disini begitu tenteram? Nyonya sangat menyayangi Tuan," sahut Mak Nah. Kabut sesekali bergerak lambat di hadapannya, menutupi ekspresi wajah yang marah dan kecewa.
"Tapi dia bukan istriku. Di luar sana pasti ada keluarga yang menungguku untuk pulang," sergah Purbo meninggikan nada suaranya.
"Bagaimana bisa Tuan menyimpulkan seperti itu? Bukankah Tuan sendiri yang ngomong sama Nyonya, Rumah bukanlah bangunan fisik melainkan bangunan hati. Nyonya akan hancur jika njenengan, bangunan hatinya pergi begitu saja!" Mak Nah menghela nafas.
"Lalu bagaimana denganku Mak? Kalian bersekongkol untuk menipuku. Ini bukan hidupku Mak. Kebahagiaan yang tercipta di atas dusta hanya akan membawa akhir sengsara," Purbo semakin berani mendebat Mak Nah. Wajah para warga di belakang Mak Nah terlihat tidak suka, dengan tatapan yang mengancam.
__ADS_1
"Apa Tuan yakin, kehidupan di luar sana akan lebih baik dan indah daripada di desa Ebuh? Apa Tuan yakin ada keluarga yang akan menyambut Tuan dengan sukacita dan penuh cinta sama seperti Nyonya?" tanya Mak Nah menyeringai.
"Dini yang ada disini bukanlah Dini ku. Dini ku yang sebenarnya ada di luar sana, dan pasti dia sedang menungguku untuk pulang," jawab Purbo penuh keyakinan.
"Tapi untuk sekarang, aku tak bisa membiarkan Tuan pergi. Nyonya butuh njenengan ada di sampingnya," sergah Mak Nah. Dia menoleh dan mengangguk pada rombongan warga yang berdiri di belakang. Satu anggukan yang langsung membuat warga bergerak mengelilingi Purbo yang nampak waspada.
"Kenapa kalian tak membiarkan aku pergi? Apa untungnya menyanderaku disini?" bentak Purbo.
"Jangan salah faham Tuan. Kami tidak ada urusan dengan njenengan. Hanya saja Nyonya butuh njenengan. Nyonya saat ini sedang dalam proses persalinan," ucap Mak Nah sungguh sungguh.
"Apakah kalian akan melepaskan aku setelah persalinan selesai?" tanya Purbo.
"Itu terserah njenengan. Jangan menilai kami jahat, kami tak pernah menyakiti njenengan selama ini. Untuk kali ini saja, temani Nyonya dan tolong bantu kami. Bayi ini sangat penting artinya untuk desa Ebuh," jawab Mak Nah.
"Bayi Bajang?" ucap Purbo ragu ragu. Mak Nah sekilas terlihat melotot, saat Purbo mengucap kalimat tersebut.
"Aku hanya menebak Mak. Jadi tolong jelaskan padaku!" Purbo melotot.
"Tidak ada waktu untuk itu. Sekarang ikut kami ke tempat Mbah Modo," sergah Mak Nah jengkel.
"Kalau aku tidak mau?" sahut Purbo.
Orang orang yang mengelilingi Purbo langsung bergerak merangsek mendekati Purbo. Dua orang berbadan gempal mencengkeram bahu Purbo.
"Auuww," Purbo mengaduh, kesakitan.
"Kami terpaksa membawamu dengan cara kasar Tuan," Mak Nah mengangguk kemudian berbalik badan dan berjalan mendahului ke arah pemukiman desa Ebuh.
__ADS_1
Semua orang mengikuti, berjalan mengekor di belakang Mak Nah. Purbo tak berdaya, dicengkeram dan dikunci lehernya oleh para centeng anak buah Mak Mah. Purbo terpaksa menurut melangkahkan kakinya bersama warga desa yang berpakaian serba hitam itu.
......................
Sementara di sebuah jalanan pedesaan, mobil hitam mengkilap nampak melaju perlahan. Sayup sayup terdengar suara adzan maghrib. Senja tiba bersama langit bermega dengan cahaya kemerahan di ufuk barat.
Mobil dikemudikan seorang laki laki paruh bayu berseragam biru dongker. Di kursi sebelah nampak seorang perempuan cantik berambut panjang dengan make up yang cukup tebal. Namun make up cerah itu tetap tak bisa menyembunyikan sorot matanya yang penuh kesedihan.
Di kursi belakang duduk dua orang laki laki. Satu laki laki yang bernama Lik Kani dan satu lagi seorang kakek berambut putih yang tengah menyantap martabak manis bernama Mbah Yon.
"Lik, Mas Purbo bakalan sehat lagi kan?" tanya perempuan yang duduk di kursi sebelah kemudi.
"Iya Nduk Dini," jawab Lik Kani singkat.
Perempuan yang duduk di kursi depan adalah Dini. Seorang gadis cantik, sosialita anak konglomerat di kota T. Selepas kuliah dia membuka usaha kosmetik yang cukup tenar di wilayah kota. Saat kehidupannya dirasa sempurna, tanpa cela, memiliki calon suami yang tampan rupawan nyatanya ujian kehidupan datang menghampirinya. Sang calon suami, Purbo Kusworo harus celaka beberapa hari menjelang hari bahagianya.
"Jiwa atau sukma calon suamimu itu Kobeng Nduk," sahut Mbah Yon santai.
"Kobeng?" Dini mengernyitkan dahi.
"Tersesat atau disesatkan. Aroma calon pengantin itu wangi, harum, makanya 'mereka' suka," jawab Mbah Yon.
Dini diam saja tak menyahut. Ada keraguan di hatinya. Di jaman yang sudah modern, sulit bagi Dini untuk menerima pendapat atau masukan kurang masuk akal seperti itu.
"Kamu boleh meragukanku Nduk. Tapi nanti, kita lihat hasilnya," ucap Mbah Yon terkekeh, seolah bisa menebak apa isi hati perempuan kaya raya itu.
Bersambung___
__ADS_1
Maafkan daku yang terhambat update Bab karena sedang masuk angin. duh duh duh