
Seorang mahasiswa bernama Hasan, melakukan penjelajahan bersama teman temannya dari club pecinta alam. Penjelajahan dimulai selepas subuh, sambil menikmati segar dan dinginnya udara pagi, juga terbitnya matahari yang indah di atas bukit.
Penjelajahan yang awalnya terasa menyenangkan berteman dengan indahnya pemandangan alam, tiba tiba saja berubah menjadi hal yang menakutkan bagi Hasan. Di sebuah persimpangan jalan setapak, Hasan yang melamun mengambil jalur yang berbeda dengan teman temannya yang ada di depan.
Hasan mulai bingung dan cemas ketika wilayah yang dilewatinya berkabut tebal. Nyaris tak ada yang bisa dilihat oleh netranya, karena gumpalan gumpalan putih yang menutupi seluruh penjuru. Hasan tak lagi tahu arah. Matahari pun tak terlihat sinarnya.
Mencoba kembali ke tempat semula, Hasan kian tersesat. Sekitar dua jam lamanya, dia berjalan tanpa tujuan yang jelas. Betis terasa mau meledak. Keringat membasahi punggungnya meskipun udara terasa dingin. Rasa khawatir dan panik berlebih juga semakin menguras energinya.
"Astaghfirullah, apa ini yang dinamakan Kobeng? Mana HP nggak ada sinyal. Padahal sudah dipesan tadi jangan melamun, banyak banyak zikir. Kok yo kejadian beneran. Duh Gusti," Hasan mengeluh. Dia duduk di bawah pohon akasia yang menjulang tinggi di tepi jalan.
Saat itulah terdengar sebuah suara memanggil Hasan. Di hadapan Hasan muncul sosok laki laki, berbadan tegap, gagah dan berkulit putih bersih. Kelihatannya laki laki itu berusia sedikit lebih tua dari Hasan. Laki laki itu adalah Purbo.
"Monggo Mas, istirahat dulu di rumah saya," ajak Purbo untuk ke sekian kalinya.
Hasan sempat menolak ajakan Purbo. Dia merasa takut kala teringat cerita cerita seram yang tersebar di club pecinta alam. Banyak yang mengisahkan kalau perbukitan wilayah penjelajahan masih terkenal 'wingit' atau angker. Meski demikian, pemandangannya yang eksotis menjadikan tempat itu sebagai tujuan favorit penjelajahan.
Pada akhirnya Hasan menerima ajakan Purbo. Fisiknya terlalu lelah untuk berjalan. Hasan merasakan kaki kanannya linu dan kaku. Kalau dipaksakan untuk terus melangkah, bisa jadi malah kram nantinya. Beristirahat sebentar di rumah Purbo tentu menjadi pilihan yang tepat untuk saat ini.
"Kalau tidak merepotkan, bisakah saya minta minyak gosok nanti?" tanya Hasan.
"Ya kukira ada cukup banyak minyak urut di rumah. Mari ikut saya," Purbo tersenyum.
Hasan menepuk nepuk celananya yang sedikit kotor. Kemudian berjalan mengekor di belakang Purbo. Bekas hujan membuat jalanan tanah benar benar sulit untuk dilewati. Salah langkah sedikit saja kaki bisa terbenam di tanah berlumpur.
Sangat aneh melihat Purbo melangkah dengan cepat di atas jalanan yang penuh genangan itu. Hasan kesulitan mengikuti cara berjalan Purbo yang seakan tak menyentuh tanah. Tanpa mereka berdua sadari, hanya ada satu jejak kaki yang tertinggal di jalanan tanah berlumpur tersebut.
Tak butuh waktu lama, Hasan sampai di sebuah halaman rumah yang luas. Sedikit ragu, Hasan mengusap matanya. Seingatnya tadi selama ber jam jam berputar putar di daerah tersebut tak ada satupun rumah yang terlihat. Namun kini, sebuah rumah bergaya joglo berdiri kokoh di hadapannya.
"Kok bengong? Mari masuk Mas," Purbo mengajak tamunya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Saya tak istirahat disini saja Mas," jawab Hasan meletakkan tas ranselnya di lantai teras depan. Dia menyandarkan punggungnya di salah satu tiang penyangga rumah.
"Kalau begitu saya tinggal sebentar ya Mas, tak ambilkan minyak gosok dulu," ujar Purbo.
Purbo berjalan melewati ruang tamu dan sampai di depan kamarnya. Mak Nah terlihat tengah menyuapi Dini. Perempuan tua itu sangat telaten menyuapi dan mengusap bibir Dini yang memerah terkena bubur yang berwarna pekat itu.
"Yang minyak gosok dimana ya?" tanya Purbo seraya melangkah masuk ke dalam kamar.
"Di atas lemari Mas," jawa Dini setelah menelan bubur merah di mulutnya.
"Minyak gosok? Untuk apa Tuan? Njenengan masuk angin lagi?" tanya Mak Nah penuh selidik.
"Enggak. Itu. . . aku ketemu mahasiswa yang sedang penjelajahan dan tersesat di depan rumah. Kakinya kram, jadi butuh minyak urut," jawab Purbo. Sedikit berjinjit dia mengambil satu botol minyak gosok di atas lemari baju.
"Mahasiswa?" Mak Nah mengernyitkan dahi.
"Iya, anak pecinta alam. Kasihan dia ditinggal rombongannya," ucap Purbo langsung keluar kamar.
"Ini Mas," Purbo menyodorkan minyak gosok.
"Terimakasih," Hasan segera mengoleskan minyak di bagian tubuhnya yang terasa kaku. Telapak kaki, betis, hingga lututnya tak terlewat. Aroma harum aromaterapi menyengat di tengah udara pagi nan dingin.
"Mas tinggal sendirian di rumah ini?" tanya Hasan saat menyadari keadaan rumah terasa sepi.
"Sama istri dan seorang asisten rumah tangga Mas. Kebetulan istri sedang hamil tua. Dia istirahat di kamar," jawab Purbo.
"Ohhh. Kehamilan anak pertama Mas?" tanya Hasan sekali lagi.
"Iya Mas. Si isteri agak manja jadinya," Purbo tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya Mas, mau kopi atau mungkin jahe hangat?" tanya Purbo kemudian.
"Ah, nggak usah repot repot Mas," jawab Hasan basa basi. Padahal dalam hati dia berharap disuguhi makan dan minum. Perutnya keroncongan, tenaga sudah habis untuk mondar mandir di tengah kabut tadi.
"Nggak repot kok Mas. Tak buatin jahe anget ya. Njenengan istirahat saja disini atau di ruang tamu juga boleh," Purbo beranjak dari duduknya.
"Duh Mas jadi ngerepotin," ucap Hasan menunduk malu.
"Nggak Mas. Aku malah seneng kalau ada yang berkunjung ke rumah. Berasa lebih rame. Nanti misal sudah ketemu teman teman njenengan, silahkan semuanya diajak mampir kesini."
Purbo berjalan ke dapur. Meninggalkan Hasan sendirian di teras depan.
"Desa Ebuh. Masuk kecamatan mana sih daerah sini? Kok asing nama desanya," gumam Hasan sendirian seraya mengamati bangunan rumah Purbo yang terkesan lawas tapi asri.
Berkat minyak gosok dari Purbo, kaki Hasan terasa lebih nyaman. Dia mencoba berdiri. Dan benar saja, otot betis yang tadi kaku, kini sudah enak untuk digerakkan.
Hasan berjalan jalan di teras depan. Kemudian, dia masuk ke dalam ruang tamu. Sambil mengamati ruangan yang bernuansa klasik dan unik, Hasan sesekali menggeliat, meregangkan tubuhnya.
Sayup sayup terdengar suara orang yang tengah bercakap cakap. Suara yang diselingi tawa meringkik. Hasan memegangi tengkuknya. Hawa dingin semakin terasa menusuk menembus jaket tebal berjenis hiking waterproof yang dia kenakan.
Di tengah rasa takut yang menjalar di dalam hati, nyatanya dorongan untuk mencari tahu suara apa yang didengar oleh Hasan terasa sangat kuat. Dengan berjingkat Hasan berjalan mendekati bilik kamar, dimana suara berasal.
Sebuah tindakan yang akan disesali Hasan di hari hari berikutnya. Sebagai seorang tamu, tak seharusnya dia mengendap ngendap, mengintip ke dalam kamar tuan rumah. Sebuah tindakan yang lancang dan kurang beradab.
Akhirnya, Hasan sampai di depan kamar dengan suara suara tawa aneh di dalamnya. Pintu kamar hanya terbuka sebagian. Hasan menelan ludah. Sebagian hatinya meminta dia untuk kembali duduk di teras rumah. Namun sebagian yang lain terus menginginkan Hasan untuk melihat ke dalam kamar.
Didorong rasa penasaran yang besar, Hasan melongok ke dalam kamar. Di bawah cahaya lampu yang temaram nampak dua sosok perempuan tengah bercakap cakap. Rambut mereka panjang menjuntai hingga ke lantai.
Salah satu perempuan nampak menggenggam sebuah benda dengan warna se merah darah. Kemudian menyuapkan benda aneh itu ke mulut perempuan satunya. Terdengar suara mulut yang mengecap kencang disertai tawa meringkik yang sedari tadi mengganggu Hasan.
__ADS_1
Bersambung___