KOBENG

KOBENG
Patangpuluh Papat


__ADS_3

Pak Kaji, pria berpeci putih berusia sekitar 50 tahun. Wajahnya terlihat kalem dan meneduhkan. Perawakannya tinggi besar dengan kulit putih bersih. Tokoh agama itu terbangun di tengah malam, pintu rumahnya diketuk ketuk dari luar. Ternyata ada 3 orang yang menyambangi rumahnya untuk meminta pertolongan.


Pada akhirnya, Sang tokoh agama dibawa ke tanah lapang sebelah balai desa. Seorang mahasiswa bernama Sani mengerang dengan suara yang menakutkan. Mahasiswa laki laki itu tengah kesurupan dalam kondisi yang cukup parah, terlihat dari raut wajahnya yang nampak membiru.


Jempol kaki kanan Sani terus menerus dipijat oleh Pak Kaji. Dua orang takmir masjid awalnya kewalahan memegangi tubuh Sani yang terus bergerak dan menggeliat tak karuan. Namun setelah Pak Kaji selesai membaca doa, Sani mengejang sesaat kemudian tertidur lemas.


Tepat pukul satu malam, kondisi yang sebelumnya mencekam kini sudah terkendali. Pak Kaji mengusap peluh di dahinya. Meskipun udara terasa beku, namun menangani seorang yang mengamuk kesurupan cukup membuatnya kelelahan.


Pak Kaji berjalan perlahan, masuk ke dalam tenda. Menyapa 5 orang mahasiswa yang terlihat ketakutan dengan wajah wajah pucat tak berdaya. Salah satu diantaranya berwajah cemong yang menggelikan.


"Bagaimana keadaan teman kami Pak?" tanya Asrofi cemas.


"Alhamdulillah sudah pulih Mas. Mari bersama sama berdoa sebentar agar perjalanan kita selanjutnya selalu berada dalam lindungan Nya," ucap Pak Kaji menenangkan.


Pak Kaji duduk bersila di hadapan para mahasiswa club Pecinta alam itu. Pak Kaji memimpin doa, suasana tegang langsung berubah sejuk dan tenang. Hasan menghela nafas lega.


"Kami ucapkan terimakasih yang sebesar besarnya Pak," ucap Hasan setelah selesai berdoa.


"Ingat ya Mas dan Mbak semuanya, sebelum pergi kemanapun jangan lupa untuk berdoa agar diberi kelancaran dan keselamatan. Niatkan keberangkatan untuk kuliah, atau kegiatan kegiatan kampus seperti saat ini dengan tujuan yang baik. Apalagi kalau njenengan njenengan semua berada di tempat yang belum dikenal, selalu tanamkan niat untuk kebaikan. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung," ucap Pak Kaji memberi nasehat. Semua orang memperhatikan dengan seksama.


Pak Kaji mengedarkan pandangan, dan melihat sebuah kresek hitam tergeletak di atas matras tempat tidur. Dia tersenyum sekilas.


"Emm, tolong semuanya keluar dulu sebentar ya kecuali Mas nya yang kakinya bengkak itu," Pak Kaji menunjuk Hasan yang duduk di atas matras tempat tidur.


"Ada apa nih?" tanya Nita, berbisik di telinga Asrofi.


"Sudah, nurut saja," Asrofi melotot dan menarik lengan Nita, mengajaknya keluar.


Pak Kaji duduk mendekati Hasan yang terlihat bingung. Raut wajah Hasan jelas menunjukkan banyak pertanyaan di benaknya.

__ADS_1


"Mas namanya siapa?" tanya Pak Kaji setelah berdehem sesaat.


"Hasan Pak," jawab Hasan singkat.


"Mas nya tadi sempat tersesat atau bisa juga disesatkan. Dalam dialeg daerah sini lebih dikenal dengan Kobeng. Benar begitu?" tanya Pak Kaji tiba tiba. Hasan mengangguk cepat.


"Mas nya tahu kenapa bisa Kobeng?" Pak Kaji tersenyum penuh arti. Hasan menggeleng kali ini.


"Yakin Mas Hasan nggak tahu? Kemarin sebelum berangkat kesini Mas Hasan sempat bawa sesuatu gitu nggak?" Pak Kaji terus mendesak Hasan dengan pertanyaannya.


"Ah, mungkin ini maksud Pak Kaji," pekik Hasan sambil meraih tas ranselnya. Dia mengambil sesuatu dari bagian ransel yang berbentuk kantong di sebelah kiri. Sebuah benda seperti kerikil berwarna cokelat bening.


"Mas Hasan dapat darimana?" tanya Pak Kaji meraih benda yang tak lain adalah kemenyan.


"Pemberian nenek saya Pak. Jadi, saat saya pamit untuk ikut kegiatan penjelajahan, nenek meminta supaya saya membawa kemenyan itu. Katanya sudah dijampi jampi," jawab Hasan mengingat ingat.


Hasan menghela nafas sejenak. Kemudian dia mulai menceritakan pertemuannya dengan Purbo dan beberapa ubi serta pisang yang didapatnya sebagai oleh oleh dari Mak Nah. Pak Kaji manggut manggut mendengarkan.


"Ya semua ini merupakan pembelajaran untuk Mas Hasan dan kawan kawan agar lebih berhati hati lagi ke depannya. Nanti oleh oleh yang ada di dalam kresek biar saya bawa saja ya?" Pak Kaji tersenyum.


"Iya Pak, silahkan," jawab Hasan cepat.


Sementara itu Asrofi, Nita, Yolla dan Laila duduk di depan api unggun yang tinggal menyisakan bara serta arang yang terasa hangat. Sani pun sudah ikut bergabung, duduk di tengah kawan kawannya. Wajahnya nampak lesu kelelahan.


"Aku kapok gaes," ucap Sani sambil memandangi bara api.


"Apa?" Laila bertanya setengah mencibir.


"Kapok celometan," ucap Sani lirih.

__ADS_1


"Badanku rasanya sakit semua. Kayak baru dibanting sama John Cena," lanjut Sani tersenyum masam.


Asrofi tak bisa menahan tawa. Meski baru melewati kondisi yang menegangkan dan menyeramkan, nyatanya Sani tetaplah Sani. Anggota club pecinta alam yang membawa tawa, paling suka melucu meski kadang di situasi yang kurang tepat.


Beberapa menit berikutnya, Pak Kaji keluar dari tenda. Laki laki berpeci putih itu pamit sambil membawa kantong kresek pemberian Hasan. Asrofi sempat memohon agar Pak Kaji bersedia menunggui rombongannya hingga pagi tiba. Namun Pak Kaji menolak dengan halus, dan meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja.


Asrofi menyodorkan amplop sebagai tanda terimakasih, namun Pak Kaji tidak bersedia menerimanya. Bahkan Pak Kaji juga menolak saat Asrofi hendak mengantarkannya kembali ke rumah. Pak Kaji dan takmir masjid memilih pulang dengan cara bonceng tiga, menggunakan motor bebek yang diubah layaknya motor trail. Ban motor yang digunakan adalah jenis offroad, memang cocok untuk jalanan desa yang penuh lubang.


"Sebaiknya kita istirahat saja dalam tenda," ucap Asrofi setelah sosok Pak Kaji pergi. Semua orang setuju dan segera berhambur ke dalam tenda.


Hasan masih duduk di atas matras tempat tidur. Melihat kedatangan Sani, dia terlihat sumringah.


"Maafkan aku Sani, juga teman teman semua. Ini semua gara gara aku bawa oleh oleh dari tempat antah berantah," ucap Hasan sambil menunduk.


"Bukan salahmu broohh. Malah aku yang salah, ngomong asal njeplak, makan asal nyomot. Sebuah pembelajaran untukku," bantah Sani cepat.


"Sudah nggak ada yang salah kok. Semua dapat pelajaran yang berharga kali ini. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Hikmah dibalik musibah ini namanya. Yang penting kita besok bisa pulang dengan bahagia," sambung Asrofi.


"Ya nggak bahagia bahagia banget sih. Kita bakal kena denda," Yolla menunjuk tenda yang berlubang akibat diterjang Sani yang sedang kesurupan.


"Iya juga sih. BTW besok siang aku juga mau ke RSUD," ucap Hasan tiba tiba.


"Ngapain? Kakimu masih sakit?" tanya Nita panik.


"Bukan itu. Aku mau mencari keluarga Purbo, orang yang ada di berita sedang koma setelah kecelakaan motor. Pasti ada alasan kenapa pagi tadi aku sampai tersesat. Setelah kupikir ulang, mungkin saja kan aku memang digariskan bertemu dengan Purbo agar bisa memberitahu keluarganya, bahwa jiwa atau sukma laki laki itu tengah Kobeng di hutan bukit manik manik," tukas Purbo sungguh sungguh. Semua orang manggut manggut setuju.


"Kami ikut." Semua rekan Hasan menjawab bersamaan setelah saling bertukar pandang.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2