KOBENG

KOBENG
Seket loro


__ADS_3

"Ini minuman untuk merayakan kesembuhan Nyonya Dini," ucap Mak Nah dengan mata berbinar.


Purbo diam tak menyahut. Dia teringat kembali percakapan Dini dengan Mak Nah tadi malam. Dia ogah meminum air dalam kendi. Purbo memutar otak untuk menolak minuman yang beraroma wangi jahe itu.


Dini meraih kendi dan menuangnya ke dalam gelas. Asap putih tipis mengepul, cairan warna cokelat muda nan jernih sedikit beriak di permukaannya.


"Ayo Mas diminum," pinta Dini sambil tersenyum.


"Aku tidak haus. Udara sangat dingin, kenapa kalian malah menginginkan aku meminumnya? Aku malas bolak balik ke toilet," kilah Purbo dengan ekspresi datar.


"Ini minuman memang saya siapkan untuk udara pagi yang dingin Tuan. Sangat cocok untuk menghangatkan tenggorokan dan perut njenengan," sahut Mak Nah sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang terlihat ramah namun membuat Purbo muak.


"Akan kuminum nanti saja," jawab Purbo.


"Kalau dingin nanti khasiatnya hilang Tuan," desak Mak Nah. Lagi lagi bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Khasiat apa? Aku sedang sehat kok Mak dan tidak butuh minuman minuman seperti ini!" Purbo membentak jengkel.


Raut muka Mak Nah langsung berubah. Perempuan tua itu seringkali menunjukkan wajah yang ramah dan menyejukkan, tapi mendengar penolakan dan sikap Purbo yang terasa membangkang membuatnya jengkel. Mak Nah bersungut sungut, wajahnya memerah.


Dini yang memperhatikan gelagat Mak Nah, mulai merasa cemas. Dia tidak ingin ada pertengkaran lagi diantara dua orang yang sama sama penting baginya.


"Mas, aku kan sembuh dan sehat bugar begini. Masak kamu nggak seneng?" ucap Dini memasang wajah kecewa.


"Aku seneng, terus kenapa Din?" Purbo mengerutkan kening. Kedua alisnya nampak hampir menyatu.


"Ya kita rayakan Mas. Kita minum 'legen', sama ada ayam lodho juga kan Mak?" Dini memicingkan matanya ke arah Mak Nah. Perempuan tua itu mengangguk perlahan.


"Silahkan diminum. Ini bukan wedang parem Tuan. Ini hanya 'legen' rebusan air nira kelapa. Tak ambilkan ayam lodhonya ya?" ucap Mak Nah setelah menghela nafas.


"Kamu ikut minum kan?" tanya Purbo menatap tajam pada Dini, setelah Mak Nah beranjak pergi.


"Iya Mas," Dini tersenyum seraya menuang air dalam kendi ke gelas di hadapannya.


"Mari kita bersulang Mas," Dini menyodorkan gelasnya.


Purbo terdiam. Dia masih ragu untuk mengangkat gelas berisi air bening kecokelatan itu. Tapi melihat istrinya terus mendesak, dia kesulitan untuk kembali berkilah.


"Ayuk Mas," desak Dini sekali lagi.

__ADS_1


Dengan ragu ragu Purbo meraih gelas di hadapannya.


"Kamu minum duluan," Purbo menghela nafas, pasrah.


"Hei, kenapa kamu seperti ketakutan Mas? Apa kamu curiga minuman ini diberi racun? Lihatlah," Dini tersenyum dan langsung menenggak habis air di dalam gelas.


"Kamu aneh Mas. Minuman ini manis kayak madu. 'Legen' untuk merayakan badanku yang pagi ini terasa ringan. Aku sehat, anak kita pintar," Dini mengusap usap perutnya.


Pada akhirnya Purbo tidak memiliki alasan untuk menolak minuman yang disodorkan padanya. Perlahan dia mulai meneguk air 'legen' beraroma jahe itu. Sensasi pertama yang Purbo dapatkan adalah manis dan hangat. Hingga akhirnya air 'legen' habis tak bersisa.


"Gimana? Enak kan Mas?" tanya Dini sambil tersenyum. Purbo mengangguk pelan.


Tidak ada hal aneh yang terjadi. Purbo hanya merasa hangat di tenggorokan, dada dan perutnya. Kekhawatiran yang sedari tadi muncul nyatanya tak pernah terjadi.


Kini Purbo meragukan pikiran dan ingatannya sendiri. Sebagian dirinya mulai menganggap percakapan Mak Nah dan Dini di sepertiga malam tadi hanyalah mimpi, khayalan atau halusinasi.


"Ada apa Mas? Kok diam saja? 'Legen' nya enak kan? Manis kan? Mau lagi?" Dini memberondong Purbo dengan pertanyaan. Purbo hanya menggeleng pelan.


"Emm, kakimu kenapa Mas?" tanya Dini setelah menyadari pergelangan kaki kiri Purbo dibalut perban.


"Ah, ini. Anu aku juga nggak tahu, kayak korengan gitu," jawab Purbo tergagap.


"Agak perih sih. Tapi udah nggak pa pa kok," sahut Purbo mengibaskan tangannya, meminta Dini untuk tidak khawatir.


"Mak Nah kok lama ya Din?" tanya Purbo kemudian. Dia menoleh, menghadap lorong menuju ke dapur, mencari sosok pembantunya yang tak kunjung kembali.


"Sudah lapar?" Dini balik bertanya. Purbo hanya mengangguk.


Dini beranjak dari duduknya. Kemudian berdiri di belakang Purbo, sembari memijat mijat kedua pundak suaminya itu.


"Apa yang kamu lakukan Din? Duduklah, nanti kamu capek," Purbo meraih tangan Dini, menggenggamnya dengan erat. Tangan yang biasanya sedingin es, kini terasa halus dan hangat.


"Permintaan anakmu Mas. Bayi dalam perut ini memintaku untuk memijatmu, biar kamu rileks," jawab Dini.


"Mana ada yang begitu," Purbo tersenyum.


"Tapi pijitanmu enak. Bikin aku ngantuk. Jam berapa sih ini?"


"Emm, mungkin jam 9 Mas," jawab Dini.

__ADS_1


"Mas kemarin nggak minum wedang parem dari Mak Nah ya?" tanya Dini sambil terus memijat Purbo. Pijatannya beralih ke bagian kening.


"Hah? Minum kok," sahut Purbo cepat.


"Masak? Nggak bohong kan?" Dini mencibir Purbo. Bibirnya yang mungil nampak semburat kemerahan.


"Iya. Buktinya wedang parem nya habis tak bersisa lho kemarin," Purbo memejamkan mata, menikmati pijatan dari istrinya.


"Iya deh, percaya," Dini tersenyum.


Purbo mendongak menatap Dini yang berdiri tepat di belakangnya. Hidung Dini terlihat sangat mancung saat dilihat Purbo dari bawah. Dagu yang juga nampak lancip menggemaskan. Purbo hendak mencubitnya, namun jari jari tangan Purbo tiba tiba saja terasa lemas, kehilangan tenaga.


"Yang, aku kok lemas ya," ucap Purbo mulai panik.


"Kamu capek mungkin Mas," sahut Dini santai.


Purbo mengangkat kepalanya, terasa berat. Pandangan mata mulai berkunang kunang. Berulang kali Purbo menguap tak tertahankan.


"Jangan jangan efek 'legen' Din," Purbo mencoba berdiri. Tangannya berpegangan pada kursi kayu.


"Enggak lah Mas. Aku kan juga minum tadi. Lihat aku nggak pa pa lho," sambung Dini sambil tersenyum.


Indera penciuman Purbo mengendus aroma pandan yang kuat. Aroma wangi yang memabukkan. Pijakan kaki Purbo mulai goyah. Sekelilingnya terasa bergoyang.


Purbo mencoba meraih tangan Dini. Namun, di penglihatannya sosok Dini berubah. Kulitnya terlihat benar benar pucat. Rambutnya yang tadi terikat dan dikuncir, kini berubah panjang terurai dan sedikit berantakan.


Baju yang dikenakan Dini pun nampak berbeda. Dia memakai terusan warna hitam berenda. Dengan hiasan bunga melati putih tersemat di dadanya. Purbo tak mampu lagi menopang tubuhnya. Kantuknya semakin tak tertahankan. Bahkan sambil berdiri pun, memejamkan mata adalah pilihan paling nyaman untuknya saat ini.


Purbo merasakan sensasi melayang sebentar. Tubuhnya ambruk terjengkang ke lantai. Meskipun kepalanya terbentur cukup keras, namun Purbo tak merasakan sakit. Seolah lantai bagaikan busa empuk yang mendekapnya dengan nyaman.


Setelah Purbo ambruk, Mak Nah muncul kembali dari bilik kamar tidur. Wajahnya terlihat menakutkan dengan cekungan mata yang menghitam.


"Sepertinya suamimu itu kemarin tak meminum wedang parem dariku," ucap Mak Nah mendesis.


"Kok bisa Mak? Kenapa Mas Purbo nggak mau nurut? Kalau begini terus sebelum 40 hari terlewati, bisa bisa dia meninggalkanku Mak," pekik Dini gusar.


"Tidak akan. Dia tak bisa kemana mana. Karena di ingatannya kamu adalah Dini, istrinya," bantah Mak Nah.


"Sekarang kita harus bersiap siap untuk upacara nanti sore," Mak Nah meraih lengan Purbo dan menyeretnya ke dalam kamar.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2