
Tak terdengar percakapan di antara semua pengunjung warung kopi tengah pasar. Purbo merasa tak nyaman. Kehadirannya di tempat itu terasa tidak diharapkan dan mengganggu. Dia buru buru menenggak jahe hangat pesanannya hingga tandas.
"Mas Tom, berapa jahe angetnya?" tanya Purbo sambil merogoh saku celananya.
"Nggak usah Mas," jawab Tomi cepat.
"Lhoh," Purbo mengernyitkan dahi.
"Sudah Mas nggak pa pa," sahut Tomi.
"Kok gitu Mas?" tanya Purbo heran.
"Kalau bakul wedang e pengen nraktir sampeyan, ya terima saja. Nggak usah sungkan dan malu. Lagipula sudah sore, waktunya sampeyan balik ke rumah," sambung salah satu warga yang ada di sebelah Purbo. Seorang laki laki berkalung sarung kotak kotak warna hijau berbicara tanpa menatap pada Purbo.
"Oh, baiklah kalau gitu. Terimakasih," ucap Purbo segera beringsut mundur. Dia semakin tak enak hati berada di warung si Tomi itu.
Purbo bergegas pergi. Melangkahkan kakinya setengah berlari. Dia sempat menoleh sebentar dan mendapati ternyata semua orang yang ada di warung, tengah mengawasi kepergiannya. Tatapan mereka pada Purbo terlihat mengerikan.
Sorot mata tajam yang seolah mengisyaratkan bahwa Purbo tidak diterima di tempat itu. Purbo mempercepat langkah. Dalam hati bertanya tanya, apa kesalahannya? Atau jangan jangan dulu dia adalah orang yang berperangai buruk di wilayah desa, sehingga banyak orang yang membencinya.
Lalu, dimana Ceking? Purbo yakin semua orang berbohong atas ucapannya tadi. Apa mungkin ada hubungannya dengan pesta yang Purbo lihat kemarin malam? Jika benar begitu, artinya pesta tersebut nyata, dan Purbo tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi.
Purbo melangkah sambil melamun. Hingga sebuah tepukan di pundak menyadarkannya. Purbo menoleh, dan ternyata Jasman si penjual rawon berdiri di belakangnya. Seperti dejavu, pagi tadi pun Jasman menyapa Purbo dengan cara yang sama. Jasman selalu terlihat ramah. Berbeda dengan warga desa lainnya yang acuh tak acuh pada Purbo.
"Mas, monggo mampir di warung," ajak Jasman ramah. Dia menenteng satu keranjang sayur sayuran di tangan kanannya.
"Ah, udah sore Mas," jawab Purbo beralasan.
"Ayolah, sebentar saja. Tadi kayaknya tak lihat Mas Purbo di warungnya si Tomejo sendirian. Kayak butuh teman ngobrol gitu. Kita bisa ngobrol ngobrol sebentar di warungku," Jasman sedikit memaksa.
Purbo mendongak menatap langit yang bermendung. Terlihat gelap dengan kabut tipis bergerak gerak di atas tempat Purbo berdiri.
__ADS_1
"Bentar saja Mas, yuk," Jasman berjalan mendahului. Dengan sedikit terpaksa, Purbo akhirnya berjalan mengekor di belakang Jasman.
Sampai di tempat Jasman, ternyata warung rawonnya sudah tutup. Purbo semakin bingung, untuk apa Jasman mengajak ke warungnya yang sudah tutup?
"Kok bengong Mas? Monggo, silahkan duduk," ucap Jasman mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Ajeng? Sini dulu Yang," teriak Jasman memanggil istrinya.
Tak berselang lama sosok Ajeng nampak berjalan dari dalam rumah. Penjual rawon paling terkenal di desa Ebuh itu, memang cantik dan mempesona. Potongan rambutnya sederhana dikuncir kuda, malah membuatnya terlihat semakin manis.
"Ada apa Mas?" tanya Ajeng. Dia belum tahu jika suaminya mengajak seorang tamu berkunjung.
"Ini ada Mas Purbo. Tolong buatin minum ya," ucap Jasman kalem.
Ajeng tersenyum dan mengangguk. Perempuan itu masuk kembali ke dalam rumah.
"Mas Purbo, aku tadi nggak sengaja lihat njenengan di warungnya Tomejo alias Tomi. Njenengan duduk sendirian, melamun, kayak orang linglung," Jasman duduk di sebelah Purbo.
"Begitukah kelihatannya?" Purbo tersenyum masam.
"Banyak hal yang menggangguku Mas," ucap Purbo ragu ragu.
Terdengar langkah kaki dari dalam rumah. Ajeng membawa dua cangkir kopi panas di atas sebuah nampan bergambar bunga mawar. Dia meletakkan kopi itu di atas meja depan suami dan tamunya.
"Jeng, duduk sini di sebelah Mas," ucap Jasman meminta Ajeng bergabung.
Ajeng menurut. Dia duduk di sebelah Jasman.
"Kamu tahu Jeng, Mas Purbo ini pagi tadi mondar mandir di depan warung kita. Sore ini tak lihat kok cangkruk an di warungnya si Tomi. Aku tuh tiap ketemu selalu merasa kalau Mas Purbo ini butuh teman untuk ngobrol dan curhat," jelas Jasman pada Ajeng.
"Monggo Mas cerita. Siapa tahu kita bisa saling bertukar pikiran, sambil nyruput kopi biar tambah gayeng," lanjut Jasman, sambil mencecap kopi panas miliknya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tuh lupa dengan semua hal tentang hidupku Mas. Aku lupa tentang tempat tinggalku, desa Ebuh ini. Semua terasa aneh, bahkan njenengan berdua terasa asing bagiku. Aku hanya ingat tentang Dini istriku. Aku takut dan khawatir, jangan jangan dulu aku ini seorang warga yang berperangai buruk sehingga sekarang banyak orang bersikap acuh padaku," ucap Purbo sambil mencicipi kopi buatan Ajeng. Rasanya hambar, tak terlalu manis, tak juga pahit.
"Oohhh, jadi njenengan belum kenal denganku dan istriku ini?" tanya Jasman dengan ekspresi yang datar. Seolah orang yang mengalami lupa ingatan adalah hal biasa baginya.
"Sudah dikenalkan sama Dini kok Mas," sahut Purbo.
"Mungkin akan lebih baik kalau obrolan ini kita awali dengan perkenalan. Namaku Jasman Sasmito dan ini istriku namanya Ajeng Satiti," ucap Jasman memperkenalkan diri. Ajeng mengangguk dan tersenyum pada Purbo.
Melihat Ajeng entah kenapa Purbo merasa familiar. Padahal ini adalah kali kedua dia bertemu dengan istri Jasman itu, namun Purbo seperti pernah melihat wajah Ajeng entah dimana. Purbo terdiam mengingat ingat.
"Kenapa Mas?" tanya Jasman saat melihat Purbo mematung.
"Ah enggak Mas. Ngomong ngomong, selama ini menurut njenengan berdua aku tuh orangnya seperti apa?" Purbo balik bertanya.
"Terus terang saja kami kurang begitu mengenal njenengan. Kalau Mbak Dini, Kami sudah cukup lama akrab dengannya," jawab Jasman.
"Begitu ya. Oh iya, njenengan kenal Ceking?" tanya Purbo lagi.
Jasman dan Ajeng terdiam. Mereka bertukar pandang sebentar. Kemudian Jasman terlihat menggaruk garuk kepalanya.
"Ceking yang preman pasar itu lho. Aku bertemu dengannya kemarin. Aku sangat yakin tidak sedang berhalusinasi. Tapi kenapa semua orang berpura pura tidak mengenalnya?" tanya Purbo sambil memijat mijat keningnya.
Belum sempat Jasman menjawab pertanyaan Purbo, rintik hujan turun. Air langit itu menimpa atap seng teras rumah Jasman. Suaranya terdengar riuh.
"Waahh, hujan Mas," tukas Jasman mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mas, kemana Ceking sebenarnya?" Purbo mengulangi pertanyaannya. Dia enggan berganti topik pembicaraan.
Jasman menghela nafas. Sedikit menyesal telah mengajak Purbo mampir ke rumahnya.
"Mas, ada hal hal yang lebih baik njenengan lupakan. Tidak semua tanda tanya mendapat jawaban. Dan terkadang ketidaktahuan adalah sebuah anugerah dan keberuntungan," ucap Jasman kalem.
__ADS_1
Percakapan Purbo dan Jasman harus terhenti. Guntur terdengar menggelegar di kejauhan. Hujan semakin deras, suasana bertambah gelap.
Bersambung___