KOBENG

KOBENG
Rolikur


__ADS_3

Makan malam telah tersaji di atas meja. Mak Nah yang baru saja mendapat teguran dari Purbo, langsung menyuguhkan masakan yang menjadi kesukaan dari majikannya itu. Satu ekor ayam utuh dimasak dengan bumbu lodho, urap, juga nasi gurih hangat yang meniupkan aroma wangi daun kemangi.


Perut Purbo seketika keroncongan. Dia tak kuasa menahan rasa lapar. Setelah menyuapi istrinya dengan bubur sumsum, Purbo bergegas mengambil piring dan menuangkan nasi hangat di atasnya.


"Nyonya Dini sudah makan Tuan?" tanya Mak Nah sambil meletakkan kendi berisi wedang parem hangat.


"Sudah Mak," jawab Purbo singkat.


"Mak Nah mau kemana?" tanya Purbo saat melihat Mak Nah berbalik badan, hendak pergi ke dapur.


"Ah, saya mau ke dapur Tuan. Kalau njenengan butuh apa apa bisa panggil saya," jawab Mak Nah dengan senyumnya yang ramah.


"Mak Nah?" panggil Purbo.


"Ah iya Tuan?" Mak Nah kembali mendekat.


"Duduklah, temani aku makan. Masakan ini memang enak, tapi aku nggak terbiasa makan sendirian. Biasanya Dini menemaniku," ucap Purbo, meminta Mak Nah duduk di kursi kosong sebelahnya. Mak Nah diam saja, nampak bingung.


"Sudahlah Mak, duduk saja. Dini menganggap njenengan sebagai orangtua nya. Duduklah, temani aku makan," pinta Purbo sekali lagi.


Tak ada pilihan lain, Mak Nah menuruti permintaan Purbo. Dia duduk di sebelah majikannya itu.


"Mari makan Mak," Purbo mengambil piring, dan menyodorkan pada Mak Nah.


Mak Nah hanya mengambil sedikit nasi dan urap yang tersaji di hadapannya. Dia tidak mengambil secuil pun daging ayam bumbu lodho kesukaan Purbo.


"Nggak mau ayamnya Mak?" tanya Purbo heran.


"Ah, saya tidak makan daging Tuan. Sudah sepuh lebih baik perbanyak sayur kan," Mak Nah beralasan.

__ADS_1


"Ohhh, benar juga sih Mak," Purbo mengangguk setuju.


"Mak, ada yang ingin aku tanyakan," ucap Purbo dengan wajah serius.


"Iya Tuan?" Mak Nah penasaran.


"Menurutku, Dini benar benar menghormati njenengan dan menganggap njenengan seperti orangtuanya sendiri. Memangnya kemana orangtua Dini? Juga orangtua ku Mak? Apakah kami warga asli desa Ebuh atau pendatang? Aku masih belum bisa mengingat apapun. Jadi tolong ceritakan padaku Mak," ucap Purbo sambil menyuapkan nasi gurih ke mulutnya.


"Aku tak mau menanyakan hal ini pada Dini. Aku khawatir mungkin orangtuanya sudah tiada dan aku membuka kenangan lama yang bisa saja membuat Dini bersedih," lanjut Purbo.


"Njenengan berdua pendatang di desa ini. Dan setahu saya baik njenengan juga Nyonya Dini, sudah tidak memiliki orangtua," jawab Mak Nah menjelaskan.


"Ohhh. Lalu kami aslinya darimana Mak? Bagaimana ceritanya sampai akhirnya kami tinggal di desa ini?"


"Tanah ini adalah milik Nyonya Dini. Orangtua Nyonya Dini, keturunan asli warga sini. Yang artinya njenengan berdua pulang ke kampung halaman," jawab Mak Nah dengan ekspresi wajah yang terlihat jengkel.


Percakapan Purbo dan Mak Nah berakhir. Purbo sibuk menikmati sajian ayam bumbu lodho. Sementara Mak Nah terlihat enggan menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Jangan lupa minum wedang paremnya Tuan. Wedang parem sangat baik untuk menjaga kesehatan. Njenengan harus sehat dan kuat agar bisa menjadi suami siaga untuk Nyonya Dini," tukas Mak Nah. Kali ini seulas senyum tersungging di sudut bibirnya yang nampak keriput.


"Iya nanti saja Mak," jawab Purbo singkat.


Selesai makan, Purbo mengintip ke dalam kamar. Dini ternyata sudah tidur pulas di atas ranjang. Purbo akhirnya duduk bersantai di ruang tamu. Dia meraih koran lawas yang ada di laci meja. Membuka lembar demi lembar berita lama dan berharap menemukan sesuatu yang menarik.


Mata Purbo tertuju pada berita kriminal tahun 2004. Sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di pinggiran kota T pada hari senin pagi. Seorang perempuan berinisial AS ditemukan tak bernyawa dengan luka lebam di tengkuknya.


Foto yang tercantum di koran memperlihatkan seorang perempuan memakai kemeja berwarna krem dan celana jeans cutbray dengan wajah yang diblur. Purbo teringat dengan baju yang terkubur dalam kotak di halaman depan rumahnya.


"Aneh," gumam Purbo.

__ADS_1


Pada saat itu, muncul Mak Nah dari ruang belakang membawakan kendi berisi wedang parem yang tadi belum diminum oleh Purbo.


"Maaf Tuan, apanya yang aneh?" tanya Mak Nah penasaran kala melihat majikannya serius memandangi koran lama di tangannya.


"Nggak Mak, ini berita lawas fotonya terlihat aneh karena jadul," ucap Purbo beralasan.


"Monggo Tuan, wedang paremnya diminum," Mak Nah menuangkan cairan berwarna cokelat tua dari kendi ke cangkir besar di hadapan Purbo.


"Mak, siapa dulu yang langganan koran ini?" tanya Purbo, masih terus membolak balik surat kabar lusuh itu.


"Saya Tuan. Dulu waktu masih agak muda saya masih doyan jalan jalan ke kota. Pulang bawa koran," jelas Mak Nah.


"Aku juga pengen ke kota sih sebenarnya. Mau benerin HP," sambung Purbo.


"Lain waktu saja Tuan. Menemani Nyonya Dini jauh lebih penting daripada mengurusi benda elektronik itu," sahut Mak Nah. Suaranya kalem tapi terasa tajam dan menusuk.


"Saya permisi ke belakang. Jangan lupa njenengan minum wedang paremnya sebelum tidur," ucap Mak Nah mengingatkan.


Setelah Mak Nah pergi, Purbo beranjak dari duduknya dan berjalan ke teras rumah. Dia mengedarkan pandangan, memperhatikan halaman depan. Lubang lubang yang dia gali tadi, kini telah tertutup oleh tanah. Sedangkan kotak kayu yang tadi dia temukan juga sudah tidak ada disana.


Udara dingin malam berhembus. Meniup kabut yang awalnya tipis, kini berubah menjadi tebal dan pekat menyelimuti halaman rumah Purbo dengan pencahayaan yang temaram. Purbo merasakan sensasi dingin di tengkuknya. Dalam gelapnya malam, kesunyian mengurung desa Ebuh. Tak terdengar suara apapun. Bahkan Purbo dapat mendengar dengan jelas setiap hembusan nafas dan detak jantungnya sendiri.


"Bisa bisanya dunia sedingin ini," gumam Purbo. Dia mundur perlahan lalu menutup dan mengunci pintu.


Sudah menjadi hal yang lazim, saat udara dingin berhembus keinginan untuk buang air menjadi jadi. Demikian hal nya dengan Purbo. Dia segera berlari mencari kamar mandi karena kantung kemih nya terasa penuh.


Selesai buang air, Purbo pun langsung masuk ke dalam kamar. Dia memilih untuk tidur menemani Dini sebelum udara malam semakin menggerogoti kulit arinya.


Purbo memandangi wajah tidur Dini. Terdengar dengkuran dengkuran kecil dari bibir tipis merah merona istrinya. Purbo merebahkan badan, berbaring di sebelah perempuan yang paling dia sayangi itu.

__ADS_1


Sambil memandangi plafon kamar yang bercat putih kusam, Purbo mulai merasakan kantuk. Dia menarik selimut di kakinya, menutupi sebagian tubuh untuk mengusir hawa dingin. Purbo merasakan kelopak matanya semakin berat. Setelah menguap beberapa kali, Purbo akhirnya tertidur. Dia lupa tidak meminum wedang parem yang sudah disiapkan oleh Mak Nah.


Bersambung___


__ADS_2