
Tidak jauh berbeda dengan suasana siang hari. Malam datang bersama kabut tebal yang seolah abadi di desa Ebuh. Suara suara jangkrik berderik dengan lambat yang menandakan suhu udara semakin rendah. Sesekali juga ada bunyi kodok bersahut sahutan, yang entah datang darimana. Mungkin berasal dari genangan genangan air yang ada di belakang rumah Purbo.
Dengan telaten Dini kembali menyambung nyambungkan benang wol berwarna biru tua di tangannya. Jari jemarinya begitu terampil merajut, hingga membentuk sebuah syal yang cukup bagus. Sedangkan Purbo duduk di depan meja rias, memperhatikan istrinya yang cantik dan kalem itu.
Purbo memang masih merasa asing dengan lingkungan desa Ebuh. Semakin hari kian terasa ketidaknyamanan tinggal di desa terpencil di kaki bukit itu. Namun, Purbo mulai merasa nyaman dan betah memiliki pasangan se baik Dini.
"Kenapa sih Mas menatapku seperti itu?" tanya Dini setelah sadar Purbo memandanginya terus menerus.
"Kamu cantik, baik, kalem. Bagaimana bisa memilih suami yang temperamen sepertiku? Aku merasa semakin sering marah marah di rumah ini, terutama pada Mak Nah," ucap Purbo memicingkan kedua matanya.
Dini diam saja tak menjawab. Tangannya masih sibuk dengan benang wol rajutan. Bagi Purbo, Dini terasa menghindari pertanyaan darinya.
"Yang? Aku ingin tahu, apa yang membuatmu menyukaiku? Bukankah banyak lelaki di luar sana yang tentunya mengharapkan bersanding denganmu?" tanya Purbo kemudian.
Dini meletakkan jarum rajutnya. Dia menghela nafas, kemudian menatap Purbo dalam dalam. Lampu kamar yang temaram membuat bola mata Dini yang bening nampak seperti berkaca kaca. Atau mungkin memang perempuan itu tengah menahan tangis air mata?
"Aku orang yang tidak beruntung Mas. Sebelum bertemu denganmu, beberapa kali aku merasakan sakitnya ditinggalkan. Kecantikan yang aku miliki ternyata hanya menjadi sebuah target penaklukan. Tidak ada yang benar benar tulus padaku," ucap Dini dengan pandangan yang sayu.
"Lalu, apakah aku sebaik itu?" Purbo mengernyitkan dahi.
"Kamu datang disaat yang tepat. Kamu ada saat aku butuh Mas," tukas Dini.
Terdengar pintu diketuk. Dini mempersilahkan masuk. Mak Nah membawa segelas wedang parem di atas nampan. Rupanya perempuan tua itu mendengarkan ucapan Purbo kemarin yang memprotesnya karena asal masuk ke dalam kamar majikan.
"Wedang paremnya Tuan. Agar badan njenengan sehat dan bugar," ucap Mak Nah sambil meletakkan wedang parem di atas meja rias depan Purbo.
"Kok Dini nggak disiapin juga Mak? Bukannya menyehatkan?" tanya Purbo penasaran. Pertanyaan yang membuat Mak Nah merasa jengkel.
"Ada cukup banyak bubuk jahe merah Tuan. Kalau diminum Nyonya Dini saya khawatir nanti perut Nyonya terlalu panas," jawab Mak Nah beralasan.
"Saya permisi dulu. Jangan lupa diminum ya Tuan," Mak Nah beringsut mundur keluar kamar.
Purbo memainkan gelas kaca berisi wedang parem hangat buatan Mak Nah. Dia mengetuk ngetuk sisi gelas yang bening sembari pikirannya melamun, mengawang jauh.
__ADS_1
"Kok nggak langsung diminum Mas?" tanya Dini.
"Ah, iya masih panas. Emm aku mau ngomong jujur padamu," ucap Purbo tersadar dari lamunannya.
"Ada apa Mas?" tanya Dini penasaran.
"Sebenarnya aku terkadang berpikir kalau wedang parem ini yang membuatku lupa segalanya Din," Purbo menatap tajam ke arah Dini.
"Hah? Kenapa begitu?" Dini tersentak kaget mendengar penuturan Purbo.
"Bayangkan Din, dalam sehari aku harus meminumnya dua kali. Mak Nah terasa sangat memaksa. Bukankah itu mencurigakan? Jangan jangan Mak Nah memang berniat membuatku lupa Din," Purbo memegangi keningnya.
"Jangan mikir aneh aneh deh Mas. Kamu itu selalu berburuk sangka pada Mak Nah. Padahal Mak Nah itu sangat baik lho. Kamu minum wedang parem kan tadi pagi?" tanya Dini dengan raut wajah yang nampak khawatir.
Purbo mengangguk cepat. Tiba tiba saja, saat ini Purbo memiliki prasangka yang tidak baik pada Dini. Bagaimana jika ternyata istrinya itu bersekongkol dengan Mak Nah untuk terus menerus mencekoki dirinya dengan wedang parem? Apa tujuannya? Apa kegunaan wedang parem sebenarnya?
Batin Purbo bergejolak. Sisi hati yang lain membantah praduga buruknya. Sifat dan sikap Dini yang lembut, dan terasa sangat menyayangi Purbo, tak masuk akal jika Dini memiliki niatan buruk pada suaminya itu.
Purbo bergegas berjalan keluar kamar. Dia tidak ke ruang tamu, melainkan terus melangkah hingga ke teras depan. Udara dingin langsung terasa menusuk kulit. Tak ada cahaya lain yang terlihat kecuali lampu temaram rumahnya. Benar benar kegelapan yang pekat, memenjara netra dengan warna hitam kelam.
Sedikit terburu buru, Purbo membuang cairan wedang parem di halaman depan. Dia menuang semuanya ke tanah, sambil sesekali menoleh ke dalam rumah. Setelah gelas kosong, Purbo bergegas masuk kembali ke rumah. Ternyata Mak Nah berdiri bersedekap di tengah ruang tamu, memperhatikan gerak gerik Purbo dengan matanya yang bulat dan hitam.
"Tuan darimana?" tanya Mak Nah penuh selidik.
"Oh ini, tadi kayak denger suara kodok di teras. Sudah kuusir," jawab Purbo beralasan.
"Kodok?" Mak Nah mengernyitkan dahi.
"Iya. Ini Mak, gelasnya kukembalikan. Wedang paremnya mantap," ucap Purbo sembari mengusap bibirnya, berpura pura seolah dia baru menenggak habis minuman dari Mak Nah itu.
"Ohh, hampir lupa. Nanti tutup pintunya ya Mak. Aku ngantuk, mau tidur ya. Hooaahhmm," Purbo menguap lebar. Kemudian melangkah ke kamar tidur, meninggalkan Mak Nah yang masih berdiri mematung.
Setelah Purbo pergi, Mak Nah meletakkan kembali gelas kosong di tangannya ke atas meja ruang tamu. Perempuan tua itu beranjak ke pintu, memperhatikan teras depan sekejap kemudian menarik daun pintu dan menutupnya perlahan.
__ADS_1
Purbo masuk ke dalam kamar, tak lupa menutup pintu dan segera naik ke atas ranjang. Purbo mendekap Dini, mengusap perutnya yang lonjong dan sesekali mengecupnya penuh kasih sayang.
"Sebentar lagi kamu akan terlahir ke dunia yang indah ini baby PeDe," ucap Purbo.
"Kok baby PeDe?" protes Dini.
"Ya kan singkatan dari Purbo Dini Yaang. Lucu kan?" Purbo nyengir.
"Iihhh, apaan," Dini terkekeh.
"Emm, Mas sudah minum wedang paremnya?" tanya Dini kemudian.
"Iisshhh. Kayak anak kecil yang harus diingatkan minum susu saja aku ini," Purbo geleng geleng kepala.
"Demi kebaikanmu Mas," sahut Dini cepat.
"Kebaikan apa? Memangnya kenapa kalau aku nggak minum?" tanya Purbo penuh selidik.
"Hah? Memangnya Mas nggak minum?" Dini balik bertanya.
"Ya minum, udah habis. Memangnya kenapa kalau mi sal kan aku nggak minum?" Purbo kembali mengulang pertanyaannya, memberi penekanan pada kalimatnya.
"Ya kan biar kamu sehat, segar, bugar dan kuat," jawab Dini beralasan.
"Memangnya aku kurang kuat apa gimana sih?" Purbo sewot.
"Hi hi hi, ya kuat Mas. Kuat mencintaikuu," sahut Dini manja. Purbo hanya tersenyum melihatnya.
"Matikan lampunya Mas. Aku mau tidur," tukas Dini.
Purbo mengangguk setuju. Dan lampu pun dimatikan.
Bersambung___
__ADS_1