KOBENG

KOBENG
Telungpuluh Nem


__ADS_3

Peluh membasahi kaos putih berbahan katun. Udara siang kali ini terasa lebih hangat dibanding hari hari kemarin. Purbo mengibas ngibaskan tangan. Ada beberapa butir keringat sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.


Membersihkan sarang laba laba di langit-langit ruang tamu nyatanya cukup membuat Purbo kelelahan. Lehernya terasa kaku akibat terus menerus mendongak menatap plafon. Dalam hati sedikit menyesal karena sempat menilai kinerja Mak Nah tidak becus. Purbo baru sadar, membersihkan rumah ternyata menguras energinya.


"Fuuhh, capeekk," Purbo duduk lesehan di lantai, bersandar pada penyangga kursi kayu di tengah ruang tamu.


"Ehemm, minumannya Tuan," tiba tiba Mak Nah sudah berdiri di hadapan Purbo membawa satu gelas besar minuman berwarna cokelat muda. Jelas itu adalah wedang parem.


"Capek Tuan?" tanya Mak Nah sambil tersenyum. Perempuan tua itu seolah mengejek Purbo.


"Nggak kok. Hari ini cuaca sedang agak panas saja Mak. Jadi gampang berkeringat," jawab Purbo jengkel.


Mak Nah masih tersenyum, sedikit membungkuk dan melangkah kembali ke dapur. Purbo segera menyambar minuman di atas meja, wedang parem buatan Mak Nah. Rasa haus yang teramat sangat membuat Purbo tak lagi peduli dengan ingatannya soal gumpalan rambut dan aroma busuk yang pernah Purbo temukan di dalam wedang parem itu. Lagipula Purbo juga ragu ingatannya malam itu adalah kenyataan. Kini ingatan ingatan itu hanya terlihat samar di benak Purbo. Sulit membedakan kenyataan dengan mimpi dan halusinasi.


"Ahhh," Purbo menghela nafas. Dia mendongak menatap langit langit yang kini terlihat bersih.


"Sudah habis Tuan?" tiba tiba Mak Nah sudah berdiri kembali di hadapan Purbo membawa satu toples kue kering. Purbo sempat terlonjak kaget, karena tak merasakan kehadiran pembantunya itu.


"Kaget aku Mak," ucap Purbo mengelus elus dadanya sendiri.


Mak Nah hanya tersenyum, kemudian meletakkan kue kering dalam toples di atas meja ruang tamu. Sekali lagi Mak Nah membungkuk dan berjalan kembali ke dapur.


Purbo berpindah tempat duduk. Kini dia menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menatap kue kering yang ada di dalam toples. Ada beberapa kue yang nampak sedikit gosong, mungkin karena terlalu lama dipanggang. Namun kue yang agak menghitam itulah yang menarik di mata Purbo. Sensasi sedikit pahit dan lebih renyah biasanya terasa saat kue gosong itu masuk ke dalam mulut.


Purbo membuka penutup toples. Dia mengambil kue kering dengan tepian yang agak menghitam. Saat Purbo hendak menyuapkan kue itu ke dalam mulut, tiba tiba saja kepalanya terasa berat. Purbo mengerjap ngerjap. Pandangan mata buram sesaat. Kue yang ada di telapak tangannya nampak bergerak gerak. Kue kering itu berubah menjadi ulat besar berwarna cokelat. Tepiannya yang gosong kini terlihat seperti kepala ulat sagu yang hitam kelam.

__ADS_1


"Arrhhh!" pekik Purbo seraya melempar kue di tangannya.


Kue tetaplah kue. Saat dilempar dan jatuh ke lantai, makanan berbahan dasar tepung itu pecah berhamburan. Purbo menyipitkan matanya, memastikan kalau dia tidak salah lihat. Baik yang jatuh di lantai ataupun yang ada di toples, semuanya adalah kue kering yang layak untuk dikonsumsi.


Dengan sedikit kasar, Purbo menutup kembali toples di hadapannya. Keinginannya menyantap kue kering sirna seketika. Perutnya terasa lapar, tapi dia ogah makan makanan di rumah.


Setengah berlari Purbo berjalan keluar rumah. Sesekali dia menoleh ke belakang, khawatir Mak Nah memergoki dan bakal menceramahinya seharian karena tidak bisa diam di rumah. Purbo mempercepat langkah melewati halaman depan dan terus berjalan menuju ke pemukiman warga desa Ebuh.


Purbo berniat mengunjungi warung rawon milik Jasman. Selain untuk mengganjal perut, juga sekaligus hendak ngobrol dengan satu satunya teman yang dia miliki di desa Ebuh. Meskipun sebenarnya janji untuk bertemu tidak sekarang melainkan besok.


Udara siang yang cukup hangat mampu mengusir gumpalan gumpalan kabut yang biasanya berjejal di udara. Kabut terbentuk karena hawa dingin yang membuat uap air berkondensasi dan kadar kelembapan udara hampir seratus persen. Kini dengan suhu yang menghangat, kabut hanya menyisakan gumpalan gumpalan tipis di udara.


Meskipun tak ada kabut tebal, namun tetap saja jalanan menuju pemukiman warga nampak temaram. Cahaya matahari tak mampu menembus lebatnya pepohonan yang menjadi pagar alami desa Ebuh.


Purbo cukup kaget saat sampai di area pemukiman warga desa. Suasana benar benar sepi. Banyak rumah yang pintunya tertutup. Padahal biasanya saat kabut tebal menyelimuti desa terlihat sangat semarak. Kini malah sebaliknya. Saat cuaca terlihat sedikit lebih cerah, warga desa seolah enggan untuk keluar rumah.


Purbo berbelok masuk gang. Sedikit cemas, jangan jangan warung rawon milik Jasman juga tutup. Padahal perutnya sudah benar benar keroncongan. Untungnya kekhawatiran itu tidak benar terjadi. Warung rawon dengan spanduk berwarna putih di bagian depan itu tetap buka dengan kepulan asap beraroma wangi rempah rempah.


"Ah, syukurlah," ucap Purbo lega. Dia segera duduk di salah satu kursi kosong yang terletak di sudut warung.


"Pesan apa Mas?" tanya Ajeng dengan mimik muka datar.


"Rawon satu, es jeruk satu," jawab Purbo cepat.


Ajeng mengangguk. Dengan cekatan dia segera menyiapkan pesanan dari pelanggannya itu. Purbo mengamati Ajeng dari tempat duduknya. Perempuan itu selalu terlihat manis dengan gaya rambut yang sama setiap kali mereka berjumpa. Rambut hitam lurus yang dikuncir kuda. Entah bagaimana Purbo merasa tidak asing dengan sosok Ajeng.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Ajeng sudah kembali berdiri di hadapan Purbo, membawakan pesanan dari laki laki berjenggot tipis itu.


"Mbak Ajeng?" panggil Purbo pelan.


"Nggeh Mas? Ada apa?" Ajeng menoleh.


"Apakah dulu aku sering datang kemari Mbak? Kenapa aku merasa familiar dengan njenengan? Sungguh aneh rasanya punya ingatan yang setengah setengah seperti ini," ucap Purbo menatap Ajeng.


"Ah nggak Mas. Sama seperti warga desa yang lain. Njenengan tidak terlalu sering kemari, hanya satu dua kali saja dalam seminggu untuk menikmati rawon buatanku," jawab Ajeng menjelaskan.


"Hmmm begitu ya. Oh iya, Mas Jasman kemana Mbak?" Purbo mengalihkan pembicaraan.


"Sedang keluar," jawab Ajeng singkat.


"Kemana Mbak?" tanya Purbo lagi.


"Ada apa sih Mas?" Ajeng balik bertanya. Mimik mukanya nampak jengkel.


"Aku ada janji bertemu dengannya Mbak," jawab Purbo beralasan.


"Oh ya? Benarkah?" Ajeng menatap tajam ke arah Purbo.


"Iya, tapi sebenarnya sih janji bertemunya besok," Purbo garuk garuk kepala.


"Kalau janjiannya besok ya besok Mas. Maaf aku permisi dulu, ada pelanggan datang," sahut Ajeng ketus. Penjual rawon itu segera berbalik badan dan menemui pelanggannya yang lain.

__ADS_1


Di antara banyaknya pelanggan rawon Mbak Ajeng, ada satu orang yang tengah mengawasi gerak gerik Purbo dari kejauhan. Dia adalah Japra, 'rewang' dari Mbah Modo.


Bersambung___


__ADS_2