KOBENG

KOBENG
Patangpuluh Limo


__ADS_3

Pagi datang membawa udara yang begitu dingin di antara kabut kabut yang menghitam. Memang pantas desa yang dipimpin oleh Mbah Modo itu diberi nama Desa Ebuh, yang artinya desa kabut. Bahkan sinar sang surya seakan kehilangan kedigdayaannya untuk menembus pekatnya kabut Desa Ebuh.


Purbo terbangun di atas ranjangnya. Dia merasa sudah tidur dalam waktu yang sangat lama. Benar benar lelap tanpa ada satupun hal yang mengusiknya.


"Selamat pagi Mas," Dini menyapa sembari membelai lembut pipi Purbo. Dini duduk bersandar pada dinding kamar. Wajahnya masih terlihat pucat, dengan perut yang besar dan lonjong.


"Gimana badanmu Yang? Sudah lebih baik?" tanya Purbo menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Iya Mas, udah enakan kok," jawab Dini sambil tersenyum. Senyum yang terasa meneduhkan.


"Aku mau cuci muka dulu, sama ambil air minum. Kamu mau diambilin air minum sekalian?" Purbo beranjak dari tempat tidur.


"Nggak usah Mas," Dini menggeleng pelan.


"Kamu nggak ngerasa bosan Yang, beberapa hari ini tiduran terus di kamar?" Purbo mengernyitkan dahi.


"Hmmm, bosan nggak bosan sih Mas. Ya ini bentuk tanggungjawabku juga kan, merawat bayi kita agar nantinya bisa lahir ke dunia ini dengan sehat tak kurang suatu apa," Dini mengusap usap perutnya.


Purbo menghela nafas. Ada rasa syukur terucap di hati, memiliki istri se sabar dan se baik Dini. Pantas saja meski Purbo melupakan semua hal tapi dia tetap ingat dengan sosok istrinya itu. Purbo segera mendaratkan kecupan di kening Dini yang untuk kesekian kalinya terasa sangat dingin.


Sambil menguap lebar, Purbo beranjak menuju ke dapur. Asap tipis mengepul dari kompor minyak yang menyala dengan penggorengan besar di atasnya. Mak Nah tengah memasak nasi goreng. Hal yang lumrah dilakukan saat masih ada sisa nasi kemarin.


"Selamat pagi Tuan," Mak Nah menyapa sedikit membungkuk. Purbo hanya mengangguk, malas berbincang dengan pembantunya itu.


Setelah mengambil air hangat di termos, Purbo segera meninggalkan dapur. Dia merasa tak betah berlama lama bersama Mak Nah yang kian hari terasa semakin menyebalkan.


Purbo duduk lesehan di lantai teras depan. Kabut bergerak perlahan bersama dengan tetes tetes embun yang jatuh dari dedaunan hijau tanaman perdu di halaman rumah. Saat kabut putih itu sedikit memudar, di jalanan depan rumah nampak seseorang tengah berdiri bersedekap memperhatikan Purbo.


Awalnya Purbo menduga ada lagi orang yang tersesat seperti Hasan kemarin. Atau jangan jangan Hasan kembali mengajak teman temannya untuk berkunjung ke rumah. Namun setelah diperhatikan seksama Purbo akhirnya sadar, sosok yang tengah berdiri di tengah jalan itu adalah Jasman.

__ADS_1


Purbo kembali teringat dengan janjinya untuk bertemu dengan Jasman. Belum sempat Purbo membuka mulut untuk memanggil Jasman, ternyata laki laki itu terlihat berjalan tergesa gesa menuju ke arah pemukiman warga. Tanpa pikir panjang Purbo segera berlari menyusul Jasman. Di saat yang sama Mak Nah datang dari dapur membawa nampan berisi kendi dan sebuah gelas. Dia memperhatikan kepergian Tuannya itu. Giginya gemeretak beradu menahan murka.


"Nggak bisa diatur!" Mak Nah menggeram penuh amarah.


Langkah kaki Purbo terhenti di tengah jalan dengan pohon pohon akasia besar di sekelilingnya. Jasman nampak berdiri memunggungi Purbo.


"Aku hampir melupakan janji kita hari ini. Aku merasa otakku ini benar benar buruk soal mengingat," ucap Purbo sambil mengatur nafas.


"Kamu pikir begitukah?" tanya Jasman masih tetap memunggungi Purbo.


"Hah? Apa maksudmu?" Purbo balik bertanya.


"Bukan ingatanmu yang buruk. Tapi wedang parem Mak Nah yang terlalu kuat," sahut Jasman.


"Aku benar benar tak mengerti," ucap Purbo. Dahinya nampak mengkerut.


"Sudahlah, waktuku tidak banyak. Terlalu lama disini, si Japra rewangnya Mbah Modo itu pasti segera sadar. Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan. Setelah mendapat jawaban, segeralah pulang. Mengerti?" Jasman sedikit membentak. Sifat Jasman berbeda 180 derajat dari biasanya. Padahal dua hari yang lalu laki laki itu begitu ramah dan supel pada Purbo.


"Itu bebendu namanya. Penghakiman untuk warga yang sudah melakukan kesalahan fatal dan tak termaafkan," sahut Jasman cepat.


"Jadi, Ceking benar benar dihukum? Apa yang telah dilakukan Ceking? kenapa harus dihukum seperti itu?" Purbo mulai tak sabar, memberondong Jasman dengan pertanyaan.


"Ceking mengerjaimu. Padahal untuk saat ini kamu adalah pion penting untuk desa Ebuh. Untuk Mbah Modo lebih tepatnya," jawab Jasman lirih, namun suaranya terdengar jelas.


"Hah? Aku? Pion apa?" Purbo mengernyitkan dahi.


Belum sempat Jasman menjawab terdengar suara burung gagak beterbangan di pohon akasia. Aroma daun pandan juga tercium semerbak menusuk indera penciuman. Purbo mengendus endus aroma itu, namun tak jelas darimana asalnya.


"Waktuku sudah habis. Aku harus segera kembali," ucap Jasman.

__ADS_1


"Hey, aku akan menyusul ke warungmu. Kita bisa kan mengobrol di tempatmu empat mata?" sergah Purbo.


"Kamu mau aku bernasib seperti Ceking?" bentak Jasman. Purbo terdiam mematung mendengar ucapan Jasman.


"Aku akan menemuimu lagi, jika keadaan memungkinkan," Jasman melangkah pergi tanpa menoleh pada Purbo.


Beberapa saat berjalan tiba tiba Jasman berhenti. Dia terdengar menghela nafas. Dengan masih tetap memunggungi Purbo, di antara kabut berwarna abu abu tipis di sekitarnya, Jasman menoleh.


"Jangan minum wedang parem dari Mak Nah," ucap Jasman kalem.


Purbo terbelalak kaget. Bukan karena kalimat yang diucapkan Jasman. Melainkan, saat Jasman menoleh ke arahnya tampak wajah Jasman penuh luka memerah seperti baru saja terkena cambuk.


Beberapa saat lamanya Purbo tak mampu berkata kata. Dia hanya diam melihat punggung Jasman yang berjalan semakin menjauh.


Setelah Jasman pergi, dengan langkah gontai Purbo kembali ke rumahnya. Ternyata Mak Nah sudah menungguinya di pintu masuk rumah.


"Darimana Tuan?" tanya Mak Nah mencoba tersenyum, namun malah terlihat menakutkan. Raut wajah wanita tua itu jelas menunjukkan amarah.


"Tak usah banyak tanya Mak," sahut Purbo jengkel.


"Saya hanya memikirkan kondisi Nyonya Dini. Seharusnya njenengan tidak keluyuran dan terus bersamanya," ucap Mak Nah. Kata kata yang terus menerus diulang oleh Mak Nah setiap kali Purbo keluar rumah.


Kali ini Purbo malas menanggapi. Dia hanya mengibaskan tangannya dan masuk ke dalam rumah.


"Wedang parem jangan lupa diminum Tuan. Saya letakkan di meja ruang tamu," lanjut Mak Nah.


Purbo melirik meja yang dimaksud Mak Nah. Ada sebuah kendi dan gelas yang tergeletak di atasnya. Purbo kembali teringat dengan pesan Jasman untuk tidak meminum wedang parem buatan Mak Nah itu.


"Biar nanti kuminum Mak," jawab Purbo beralasan. Dia tak ingin membuat Mak Nah curiga. Dia berniat untuk berpura pura meminumnya nanti.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2