
Halaman rumah Mbah Modo penuh dengan bunga dan kembang tujuh rupa. Aroma wangi kemenyan yang dibakar juga menyeruak di udara. Jejak jejak kaki tak beraturan tertinggal di tanah merah yang sedikit basah.
Dari dalam rumah terdengar suara teriakan dan erangan. Purbo mengenali suara tersebut. Dia yakin teriakan itu berasal dari sosok yang mengaku sebagai istrinya. Purbo tertegun sesaat, suara rintihannya terdengar tengah kesakitan.
Mak Nah menghentikan langkahnya tepat di tengah halaman rumah. Dia menoleh pada Purbo yang masih dicengkeram oleh para centeng bertubuh tinggi, besar, dsn gempal. Sorot mata Mak Nah terlihat tajam, dengan cekungan mata yang menghitam.
"Lepaskan dia!" perintah Mak Nah pada para centeng. Purbo langsung terbebas dari cengkeram tangan tangan berotot itu.
"Dengarlah Tuan, Nyonya tengah berjuang di dalam sana. Apakah njenengan setega itu, meninggalkannya di saat seperti ini?" tanya Mak Nah menatap Purbo.
"Aku tidak punya kewajiban apapun padanya. Dia bukan siapa siapaku," sanggah Purbo.
"Tapi bagi Nyonya, njenengan adalah segalanya," ucap Mak Nah cepat. Dia terlihat geram memendam amarah.
"Bukan urusanku!" bentak Purbo. Bola matanya membulat dan nampak bergetar.
"Benarkah? Tak ada rasa iba mendengar Nyonya kesakitan seperti itu? Tidak adakah sedikit nurani untuk menemaninya melewati persalinan? Nyonya membutuhkan njenengan," desak Mak Nah.
"Lalu bagaimana dengan keluarga asliku di luar sana? Bukankah mereka juga membutuhkan aku saat ini? Bahkan mungkin dari kemarin, atau jangan jangan sudah berbulan bulan aku disini. Siapa yang tahu? Kalian yang menjebakku di tempat ini. Aku tak sudi percaya lagi!" pekik Purbo tak gentar meski saat ini, dia berhadapan dengan centeng dan warga yang berparas sangar.
"Njenengan baru sampai disini beberapa hari yang lalu, tak lebih dari seminggu. Itu faktanya, saya tidak berbohong. Saya sendiri tidak tahu Njenengan siapa, darimana, dan kami semua tak peduli itu. Saya hanya meminta belas kasih dari Njenengan saat ini. Temui dan temani Nyonya," Mak Nah nampak sedikit menunduk.
__ADS_1
Suara teriakan kembali terdengar. Dini atau perempuan yang mengaku sebagai Dini itu mengerang kesakitan. Purbo yang mendengar jeritan, merasakan hatinya bergetar. Terbayang kembali sosok perempuan yang kalem, lemah lembut yang menemaninya beberapa hari ini.
Pergolakan batin terjadi. Di satu sisi Purbo mengingat pesan Jasman untuk tidak mempercayai siapapun di desa Ebuh, termasuk Mak Nah. Namun di sisi lain, rasa iba di sudut hati memintanya untuk menengok perempuan itu.
"Jika aku menemaninya, apakah rasa sakit yang dia alami saat ini akan menghilang?" tanya Purbo lirih, ragu ragu.
"Aku pun tidak yakin Tuan. Yang jelas Nyonya membutuhkan Njenengan saat ini. Kelahiran bayi ini penting untuk keselamatan Nyonya, juga untuk desa Ebuh," jawab Mak Nah.
"Apakah aku boleh pergi dari desa ini setelah menemaninya persalinan?" tanya Purbo sekali lagi.
"Terserah Tuan. Njenengan mau pergi silahkan, menetap disini pun monggo. Desa Ebuh selalu menerima Njenengan dengan tangan terbuka," jawab Mak Nah meyakinkan.
Purbo menghela nafas sejenak kemudian mengangguk. Mak Nah segera berjalan masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Purbo yang mengekor di belakangnya. Sementara para centeng dan warga tak bergeming, diam di tengah halaman rumah sang pemimpin desa.
Suara teriakan dan jeritan berasal dari salah satu bilik kamar yang terletak di sebelah ruang tamu. Mak Nah bergegas masuk ke dalam bilik dan disusul oleh Purbo.
Dalam bilik terbaring sosok berambut panjang dan kusut sambil mengerang kesakitan. Tubuhnya sangat kurus, bagaikan tulang yang terbungkus kulit tanpa daging. Cekungan matanya begitu dalam, dengan tulang pipi yang menonjol lancip. Ada satu sosok perempuan dengan sanggul besar di sebelah ranjang tempat tidur. Perempuan tua bertubuh gemuk dengan pakaian lurik yang terlihat lusuh.
"Bagaimana Mbok Yem?" tanya Mak Nah gusar.
"Sulit. Aku kurang yakin," ucap perempuan gemuk bernama Mbok Yem itu.
__ADS_1
"Nyonya kuatkan dirimu. Lihatlah Tuan Purbo datang untuk menemanimu," ucap Mak Nah disela suara teriakan Dini.
Dini yang mendengar perkataan Mak Nah langsung terdiam. Dia mengarahkan pandangannya ke pintu kamar. Terlihat laki laki yang disukainya itu memandangnya dengan mata yang berkaca kaca.
"Sebenarnya aku tak mau terlihat dalam keadaan seperti ini Mas," ucap Dini terisak. Bulir bulir air mata mulai membasahi pipinya yang tinggal tulang saja. Kecantikannya yang kemarin terlihat meneduhkan di mata Purbo, kini telah sirna.
Purbo melangkah mendekat. Tidak ada lagi keraguan. Hatinya terlalu lembut, rasa iba membuatnya tak mampu membendung air mata. Dia duduk di ranjang sebelah tempat Dini tergolek lemah.
"Aku sudah tahu semuanya, kamu bukan Dini," bisik Purbo lirih. Perempuan di hadapan Purbo itu menangis semakin kencang.
"Maafkan aku, maafkan aku. Maafkan aku Mas," perempuan itu terisak. Perutnya yang besar nampak bergetar.
"Aku akan menemanimu. Genggam tanganku, dan kuatkan dirimu. Kita lewati ini bersama, namun setelahnya kita harus memulai lagi dari awal. Kamu hutang penjelasan padaku. Tidak boleh ada lagi dusta," ucap Purbo sembari meraih tangan kurus perempuan berhidung lancip itu. Tangan yang selalu terasa dingin dan beku.
Masih dengan air mata bercucuran, dan suara nafas yang tersengal, perempuan di hadapan Purbo mengangguk perlahan. Mbok Yem memejamkan mata, sambil memegang perut besar yang terus bergetar itu. Mbok Yem nampak komat kamit membaca mantera. Mak Nah terdiam mematung di ambang pintu kamar. Dan sekali lagi terdengar jeritan, kali ini lebih panjang dari sebelumnya.
Di pemukiman desa Ebuh, warga keluar dari rumah masing masing membawa obor yang menyala kemerahan. Mereka berbaris rapi, berjalan menuju ke rumah sang kepala desa. Kabut semakin tebal menyelimuti desa, udara semakin dingin menyusul petang yang beranjak menggantikan siang.
Para perempuan desa Ebuh memakai baju lurik gelap dengan rambut bersanggul besar. Mereka terlihat kompak dan berseragam. Hanya Ajeng sang penjual rawon yang tidak terlihat ikut di dalam rombongan.
Bunga tujuh rupa ditabur sepanjang jalan. Beras berwarna kuning pun juga disebarkan. Pecahan genteng tergeletak di setiap sudut rumah warga desa Ebuh. Di atas pecahan genteng tersebut terlihat asap putih meliuk liuk, hasil dari pembakaran kemenyan sebesar ibu jari. Aroma sangit berpadu dengan wangi bunga, juga harumnya daun pandan. Malam ini Desa Ebuh benar benar berpesta. Sebuah perayaan menyambut kelahiran baru yang dinanti nantikan oleh semua warga.
__ADS_1
Tepat saat pergantian siang dan malam datang, waktu yang disebut 'Surup' tiba, terdengar suara tangis bayi yang menggelegar dari rumah sang kepala desa. Dan langit pun terlihat lebih merah dibanding hari hari biasanya.
Bersambung___