
"Waduh Non, mobilnya nggak bisa nih dipaksa untuk jalan terus. Jalanannya semakin terjal dan menanjak. Saya khawatir Non, nanti body mobilnya menghantam bebatuan bisa rusak Non," keluh Pak Sopir berseragam biru dongker.
Dini, perempuan berparas cantik dengan alis mata yang melengkung tegas itu nampak berpikir. Dia menoleh memperhatikan Lik Kani yang menahan mual karena mabuk perjalanan.
"Kalau jalan dari sini jauh nggak Lik? Mana udah hampir gelap ini," ucap Dini khawatir.
"Gimana Mbah?" Lik Kani menoleh pada Mbah Yon yang masih asyik dengan martabaknya.
"Uubhhhh," Lik Kani menutup mulut menggunakan telapak tangan kanannya. Saat mabuk perjalanan, menghirup aroma martabak manis yang menyengat membuatnya semakin mual.
"Ya kita jalan saja. Lagipula kamu sudah pucet itu. Kayak sayur kulup, kayak 'endog amun amun'. . .he he he," Mbah Yon terkekeh memperhatikan Lik Kani.
"Soalnya jalanannya parah banget Mbah. Badan kayak digoncang goncang. Perut rasanya kayak diblender muter muter. Duh nggak kuat aku," Lik Kani menepuk nepuk kursi Pak Sopir. Dengan cekatan Pak Sopir segera membanting kemudi ke kiri dan menghentikan mobil di bawah pohon ketapang yang besar nan rindang.
Lik Kani membuka pintu mobil dan langsung melompat menerobos keluar. Perutnya terdengar bergemuruh.
"Hooweekkkk!" Lik Kani memuntahkan semua isi perutnya tepat di bawah pohon besar di tepi jalan.
"Ni Kani?" suara Mbah Yon memanggil.
"Nggeh Mbah?" Lik Kani segera menoleh setelah mengusap mulutnya yang berlendir. Mbah Yon nampak duduk bersantai di dalam mobil. Laki laki tua itu tersenyum penuh arti.
"Ada apa Mbah?" tanya Lik Kani lagi.
"Aku nggak memanggilmu kok," jawab Mbah Yon masih terus menjejalkan martabak di mulutnya yang terlihat keriput.
"Lha teruuss?" tanya Lik Kani agak jengkel.
"Tuuhh," Mbah Yon menunjuk pohon besar tempat Lik Kani muntah muntah.
__ADS_1
Serta merta Lik Kani menoleh, mengikuti arah telunjuk dari Mbah Yon. Awalnya Lik Kani tak mengerti apa yang coba ditunjukkan oleh Mbah Yon. Hanya ada batang pohon besar di hadapannya. Namun saat Lik Kani memperhatikan lebih teliti, di balik pohon besar nan rindang itu nampak sesuatu yang bergerak.
Seperti dedaunan yang berayun diterpa angin. Dengan kondisi langit mulai gelap, Lik Kani akhirnya menyadari ada sosok lain yang tengah berdiri bersandar pada batang pohon. Rambutnya terlihat keriting, dengan deru nafas seperti hembusan angin. Kuku tangan yang menghitam, dengan bola mata bulat kemerahan menyembul di antara rindangnya dahan pohon.
"Lik, ayo cepat!" teriak Dini. Dia sudah berada di luar mobil bersama Pak Sopir dan Mbah Yon.
Lik Kani masih diam terpaku di tempatnya berdiri. Bulu kuduknya meremang hebat. Lutut terasa lemas, dan gemetar. Perlahan dia berjalan mundur, meninggalkan sosok yang masih mengawasinya dari balik pepohonan.
"Kalian nggak lihat itu?" tanya Lik Kani dengan suara yang bergetar.
"Lihat apa Pak? Bekas muntah Njenengan?" sahut Pak Sopir sinis.
"He he he. Pelajaran buatmu Ni. Jangan ngawur. Setidaknya permisi dulu lah," Mbah Yon terkekeh.
Lik Kani menelan ludah. Dia mengerti, rupanya hanya Mbah Yon dan dirinya lah yang bisa melihat sosok tinggi besar itu.
"Monggo Lik, Mbah. Kita harus kemana?" tanya Dini terlihat tidak sabaran.
"Kita lurus saja lewat jalan setapak itu," ucap Mbah Yon menunjuk jalanan berbatu yang berada di antara tumbuhan perdu berdaun merah.
"Mbah tau darimana kalau harus lewat sana?" tanya Pak Sopir penasaran.
"Dari angin. Ujung jariku tadi merasakan hembusan hawa dingin berasal dari sana. 'Danyangan' atau tempat wingit itu selalu berhawa dingin dan beraroma pandan," jelas Mbah Yon sambil tersenyum.
Mbah Yon melangkahkan kakinya terlebih dahulu. Disusul Lik Kani, Dini, dan terakhir Pak Sopir yang terlihat sigap untuk mengamankan majikannya.
Jalanan setapak yang terjal, tanpa pencahayaan sama sekali. Udara petang begitu dingin, berhembus meniupkan dedaunan kering berwarna kecokelatan. Sesekali terdengar dahan dahan yang bergesekan, menambah kengerian menyambut malam yang kelam.
Cahaya flash handphone menjadi satu satunya penerangan yang membelah rimbunnya belantara. Mbah Yon berjalan paling depan, tanpa pencahayaan, namun langkahnya terlihat paling lincah. Bahkan saat rombongan di belakangnya acap kali tersandung dan terantuk bebatuan, kakek sepuh itu sangat lincah memilih pijakan bagaikan kakinya benar benar memiliki indera penglihatan.
__ADS_1
"Non?" Pak Sopir yang berjalan paling belakang memanggil Dini.
"Apa pak?" tanya Dini sewot. Dia sibuk memilih pijakan untuk kakinya melangkah.
"Non yakin kita ikut kesini? Non percaya yang beginian? Bukankah Tuan Purbo sedang terbaring di rumah sakit, kenapa kita malah berjalan jalan di tengah hutan antah berantah begini?" protes Pak Sopir berbisik.
"Kamu bisa diam tidak!" bentak Dini kesal. Dini heran, tak biasanya sopirnya itu banyak bicara.
Dini pun sebenarnya ragu dengan keputusan Lik Kani yang mengajaknya ke tengah hutan dengan tujuan mencari sukma calon suaminya itu. Dia sulit mempercayai hal hal yang di luar nalar. Namun di sisi lain dia juga sudah merasa patah arang dengan kondisi Purbo yang sudah berhari hari tak menunjukkan kondisi yang membaik. Calon suaminya itu masih tak bergeming terbaring di kamar vip rumah sakit umum daerah.
"Jika ragu ragu, lebih baik kembali. Nggak guna juga ikut tapi setengah hati," ucap Mbah Yon tiba tiba. Suaranya lirih namun terdengar jelas. Ucapan yang membuat Dini dan Pak Sopir terheran heran.
"Non, Mbah nya kok bisa dengar sih?" bisik Pak Sopir heran.
"Makanya kamu diam saja. Tugasmu mengawalku. Kamu dibayar untuk itu!" jawab Dini sewot. Perempuan berwajah cantik itu memang terkenal judes dan sedikit angkuh.
Tidak kurang dari tiga puluh menit, akhirnya langkah kaki rombongan Mbah Yon itu sampai di tengah tanah lapang dengan rumput hijau yang terhampar luas. Mbah Yon menghentikan langkah di depan tumpukan batu bata yang berlumut.
"Seperti bekas gapura ya Mbah?" tanya Lik Kani ragu ragu.
"Gapura batas alam kita dengan 'mereka'," jawab Mbah Yon santai.
Lik Kani refleks memegangi lehernya yang terasa kaku dengan bulu bulu halus yang berdiri tegak.
"Kita masuk kesana Mbah?" tanya Lik Kani sekali lagi, menunjuk hutan di balik gapura.
"Boleh kalau yakin bisa balik," Mbah Yon terkekeh.
"Mbah jangan bergurau lah," Pak Sopir menimpali. Laki laki paruh baya itu terlihat ketakutan. Bukan takut dengan kegelapan, tapi takut akan keselamatan Nona Muda Dini. Kalau sampai terjadi apa apa dengan Dini, tentu masa tua nya akan hancur di tangan Tuan besar. Ayah Dini adalah orang paling berpengaruh di seantero kota.
__ADS_1
"Ada yang harus kalian lakukan di tempat ini. Biarkan aku masuk. Setelah semua selesai, aku akan memberi kalian tanda. Sebelum ada tanda dariku, jangan ada yang pergi. Mengerti?" Mbah Yon bertanya dan memasang wajah serius kali ini. Semua orang mengangguk setuju.
Bersambung___