KOBENG

KOBENG
Telungpuluh Pitu


__ADS_3

Senja datang, membawa kembali kabut tebal yang siang tadi sempat menghilang. Hawa dingin pun menjadi pasangan yang tepat untuk suasana kelam menuju malam. Purbo duduk di teras rumah, memakai jaket tebal dan selembar kain sarung yang dililitkan pada lehernya yang jenjang.


Mak Nah berjalan mendekat. Raut wajahnya terlihat tidak ramah. Kian hari rasa tidak suka Purbo pada pembantunya itu semakin besar.


"Tuan seharian belum menyentuh makanan di rumah. Padahal saya sudah menyiapkan semuanya. Tuan harus ingat, tugas utama njenengan itu adalah menjaga istri dan anak yang ada dalam kandungan. Kalau njenengan seperti ini terus jatuh sakit, semua akan repot," ucap Mak Nah, memulai ceramahnya.


"Aku sudah makan Mak," sahut Purbo singkat.


"Kapan? Dimana?" tanya Mak Nah bersungut sungut.


"Aku tadi ke warung rawonnya Mbak Ajeng," Purbo menarik nafas, mencoba untuk bersabar.


"Kalau njenengan pengen rawon tinggal ngomong Tuan. Saya akan membuatkan. Tak perlu keluar uang lebih untuk beli ini itu yang nggak penting," Mak Nah terus menggerutu. Telinga Purbo mulai terasa panas.


"Mak Nah, tak usah menceramahiku. Bukankah memang sudah menjadi tugasmu untuk menyiapkan makanan? Soal dimakan atau tidak, tak perlu jadi beban pikiranmu," Purbo sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Perkara keuangan keluarga ini pun seharusnya juga tidak menjadi . . .," Purbo terdiam, tak melanjutkan kalimatnya. Dia baru sadar, berhari hari tak ada yang dia kerjakan. Lalu darimana dia dapat uang?


Purbo segera berdiri dari duduknya. Dia melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Mak Nah yang masih berdiri di teras depan. Purbo masuk ke dalam kamar dan langsung membuka lemari pakaian yang terletak di sudut ruangan.


"Ada apa Mas?" tanya Dini sambil menyisir rambutnya yang panjang. Dia tengah duduk bersandar di atas ranjangnya.


Tak ada jawaban. Purbo diam saja tak menyahut. Dia tengah sibuk memindahkan beberapa bajunya di dalam lemari. Setelah beberapa saat, barulah benda yang dicari ketemu. Sebuah dompet lusuh bermotif batik sekar wangi di genggamannya.


Dengan tergesa gesa, Purbo mengeluarkan isi dari dompet tersebut. Lembaran lembaran uang merah seratusan ribu nampak tertumpuk di hadapan Dini.


"Ada apa sih Mas?" Dini mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


"Jelaskan padaku Din. Darimana kita dapat uang ini? Ber hari hari aku hanya berdiam di rumah, tak ada satupun hal yang kukerjakan. Aku tidak produktif sama sekali. Bagaimana mungkin kita bisa mempunyai persediaan uang sebanyak ini?" tanya Purbo meminta penjelasan.


"Duduklah Mas. Tenangkan dirimu," Dini menghela nafas, menepuk nepuk kasur di sebelahnya. Dia meminta Purbo untuk duduk.


"Hingga kini aku masih lupa hampir semua hal dalam hidupku. Semakin aku berusaha mencari tahu dan mengingat, semuanya malah terasa aneh Din," Purbo duduk di sebelah Dini, memegangi kepalanya yang tiba tiba terasa berdenyut.


"Uang ini hasil penjualan beberapa lukisanmu Mas. Kan kamu pelukis," ucap Dini menerangkan.


"Siapa pembelinya? Warga desa sini?" tanya Purbo lagi.


"Bukan. Ada orang kota Mas. Seorang kolektor lukisan. Kamu tuh sudah mempersiapkan segala hal untuk kelahiran anak pertama kita, termasuk materi. Selama beberapa minggu kamu melukis sejumlah lukisan yang semuanya langsung dipinang kolektor. Makanya kita punya cukup uang," Dini meletakkan telapak tangannya yang dingin di pipi Purbo.


"Lagipula sudah berapa kali aku sampaikan padamu Mas, tak perlu kamu mencoba mengingat yang telah lalu. Lupa adalah anugerah. Banyak yang berharap bisa melupakan masa lalunya namun tak bisa," lanjut Dini sambil tersenyum.


"Lupa memang sudah menjadi kodrat kita. Tapi bukan berarti lupa tentang semuanya Din. Ini terlalu aneh dan menyakitkan untukku. Sungguh aku merasa tersiksa," sahut Purbo dengan tatapan mata yang sayu.


Purbo mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup kening Dini. Suhu tubuh Dini benar benar terasa dingin. Dan Purbo masih juga belum terbiasa dengan hal itu. Purbo memasukkan kembali uang yang berserakan di kasur ke dalam dompet.


"Apakah uang ini cukup untuk persiapan kelahiran anak kita Yang?" tanya Purbo setelah menyimpan dompet di dalam lemari.


"Entahlah Mas. Banyak yang harus kita siapkan. Perlengkapan bayi, juga beberapa acara yang tentunya bisa menguras kantong cukup dalam," jawab Dini ragu ragu.


"Acara apa?" tanya Purbo tak mengerti.


"Aku kurang faham sih Mas. Mak Nah yang lebih tahu. Kayak sepasaran, gumbrengan dan lain lain lah pokoknya banyak," Dini mengangkat kedua bahunya.


"Oohh begitu," Purbo manggut manggut.

__ADS_1


"Emm aku mau duduk di luar ya. Siapa tahu dapat inspirasi untuk melukis. Lumayan kan buat pemasukan tambahan," ucap Purbo kemudian. Dini mengangguk meng iyakan.


"Eh tapi jangan tidur lho Mas. Jangan jangan kamu nanti melamun terus ketiduran," sergah Dini saat Purbo melangkah keluar kamar.


"Hah? Emang kenapa kalau ketiduran?" Purbo mengernyitkan dahi.


"Ini waktu pergantian siang dengan malam. Namanya surup. Waktu yang tidak diperbolehkan untuk tidur," jawab Dini memberi penjelasan.


"Duh banyak aturan ya, heran," Purbo geleng geleng kepala.


"Ini beneran Mas," sahut Dini kesal.


"Iya iyaa. Oke. Lagipula aku nggak ngantuk kok. Nih lihat mataku, bulat jernih dan nggak ada tanda tanda ngajak merem," Purbo melotot ke arah Dini. Menunjukkan bola matanya yang bulat dan bening. Dini terkekeh dibuatnya.


Purbo berjalan ke ruang tamu. Pintu depan ternyata sudah dalam keadaan tertutup rapat. Udara dingin yang tadi sempat membuat Purbo menggigil kini tak terlalu terasa. Namun Purbo juga enggan menanggalkan kain sarung yang melingkar di lehernya. Lebih nyaman seperti itu soalnya.


Purbo menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu dekat dengan meja ruang tamu. Purbo mendongak menatap langit langit dan mengagumi hasil kerjanya siang tadi. Plafon rumah nampak bersih mengkilap tanpa ada sarang laba laba yang bergelantungan mengganggu pemandangan mata.


Tangan kanan Purbo menarik laci meja dan mengambil selembar foto lawas bergambar seorang perempuan dengan bagian wajah yang buram. Purbo mengangkat foto itu. Di bawah sorot lampu ruang tamu, Purbo menyadari perawakan perempuan dalam foto itu sangat familiar baginya.


Perempuan berambut panjang dikuncir kuda. Lehernya nampak jenjang, dengan postur tubuh yang tidak terlalu kurus, tidak juga gemuk. Tak salah lagi, perempuan dalam foto itu sangat mirip dengan Ajeng si penjual rawon.


"Pantas saja, aku merasa pernah melihat Ajeng. Perempuan di foto ini sangat mirip dengannya. Bagaimana bisa? Kenapa foto Ajeng dikubur di halaman rumah ini?" Purbo menggaruk garuk kepalanya. Otaknya terasa buntu tak mampu diajak berpikir.


Di tengah pikirannya yang semrawut, tiba tiba saja rasa kantuk datang. Menggoda Purbo untuk memejamkan mata. Melamun dan berpikir secara berlebihan nyatanya membuat otak Purbo merasa lelah. Apalagi tak ada kopi yang memberi kaffein agar mata sanggup terjaga.


Purbo menguap lebar. Rasa kantuk semakin tak mampu ditahan. Dia menyandarkan kepalanya, terasa nyaman. Meskipun pesan Dini agar tidak tidur di waktu 'surup' terus terngiang di telinga Purbo, namun kelopak mata terlanjur sulit untuk terbuka.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2